PijarInspirasi.com- Sabtu kemarin tepatnya 11 Juli 2026, aroma kafein dan obrolan hangat bersinggungan dengan cara yang tak biasa. Semuanya bermula dari sebuah pesan singkat di gawai saya beberapa hari sebelumnya. Pak Arif, seorang guru Bahasa Indonesia sebuah SMA di Tanah Bumbu, sekaligus pembimbing lomba, meminta bantuan saya untuk memberikan coaching tipis-tipis kepada salah satu siswanya, Dewi. Gadis itu akan mewakili daerah kami ke tingkat provinsi dalam ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) cabang menulis cerpen.
Sebagai seorang pencinta kopi, ajakan untuk bertemu di Kopi Kenangan jelas sulit ditolak, meskipun sebenarnya saya tidak terbiasa menghabiskan waktu di cafe. Rencana awal berkumpul jam sepuluh pagi sempat bergeser tiga puluh menit karena Dewi harus menyelesaikan cek kesehatan di dokter terlebih dahulu. Namun, saat saya dan suami tiba di lokasi, ternyata rombongan mereka sudah sampai lebih dulu. Ada Dewi, seorang kawannya (saya agak lupa namanya, tapi terdengar sangat khas Bali) Pak Arif, dan Bu Diah, sang istri yang setia menemani.
Kami memutuskan untuk naik ke lantai atas. Pilihan yang tepat, karena areanya lumayan luas dan suasana menjelang siang itu belum terlalu ramai. Setelah memesan segelas capuccino dingin, pun memulai diskusi.
Sejujurnya, ada riak cemas yang sempat mampir di dada saya. Bagaimana tidak? Saya duduk diapit oleh dua sosok guru bahasa, di mana salah satunya bahkan sudah menjabat sebagai kepala sekolah. Ada sedikit rasa sungkan yang menggelitik. Terlebih, pada FLS2N tingkat kabupaten kemarin, sayalah yang hadir sebagai juri untuk cabang lomba ini.
Namun, profesionalitas harus tetap di depan. Lagipula, saat menjuri kemarin, saya sama sekali tidak mengenal siapa saja pesertanya. Khusus cabang cerpen lembar karya yang masuk sengaja hanya diberi nomor peserta tanpa nama dan asal sekolah (hanya panitia yang tahu nama siswa dan asalnya). Sistem buta ini sengaja saya terapkan sejak tiga tahun lalu, tepatnya saat Rumah Baca Cahaya Ilmu mulai bermitra dengan MKKS dan dinas terkait untuk mengelola penjurian lomba.
Tujuannya sederhana namun sangat penting, dengan mengunakan "mode buta" saya berharap bisa menjaga objektivitas mutlak dan menghindari kegaduhan atau kecurigaan dari para guru pendamping. Jadi, pertemuan hari Sabtu itu murni adalah ruang belajar bersama, bukan kelanjutan dari meja penjurian.
Ketika naskah cerpen Dewi dibuka, diskusi kami mulai mengalir sehangat capuccino di meja. Pada event, FLS2N tahun ini Dewi mengambil budaya akar. Dewi dengan cerdas memilih untuk mengangkat lokalitas tradisi pengobatan masyarakat Banjar.
Di sinilah letak serunya, saya kan aswojo (asli wong Jowo) harus mengulik budaya Banjar, tentu ini menjadi tantangan tersendiri.
Alhamdulillah Bu Diah sebagai putri Banjar asli siap memberikan koreksi jika ada yang kurang tepat.
Kebetulan, latar belakang saya bergerak di bidang kesehatan lingkungan dan sanitasi. Meski bukan tenaga kesehatan (nakes) yang menangani pasien secara medis, bersentuhan dengan dunia kesehatan membuat saya melihat draf cerita Dewi dari sudut pandang yang berbeda. Tradisi pengobatan lokal sering kali menjadi isu sensitif jika dibenturkan begitu saja dengan dunia medis modern.
Kami mengulik naskah itu cukup dalam. Saya memberikan masukan agar Dewi berhati-hati dalam meramu konflik, jangan sampai karyanya nanti memicu perdebatan kusir yang mempertentangkan antara metode medis dan tradisional secara hitam-putih. Keduanya bisa berjalan berdampingan dalam sebuah narasi jika digali dengan bijak.
Selain isi cerita, kami juga menyisir aspek teknis seperti ejaan (PUEBI) yang masih membutuhkan sedikit perapian di sana-sini agar karya tersebut tampil prima di tingkat provinsi nanti.
Sembari menyesap sisa kopi yang mulai berkurang dinginnya, saya menyadari sesuatu. Pertemuan kami hari itu adalah potret nyata bahwa literasi dan kopi adalah dua hal yang bisa berjalan beriringan. Kopi sering kali menjadi katalisator, pencair suasana, dan pemantik ide yang ampuh. Di balik aromanya yang pekat, ada pikiran-pikiran yang mendadak terbuka.
Lebih dari itu, momen Sabtu kemarin kembali menegaskan bahwa literasi tidak melulu tentang perkara kaku membaca buku atau menulis teks di atas kertas. Literasi jauh lebih luas dari definisi konvensional itu. Ketika kami membedah tradisi pengobatan Banjar, mendiskusikan bagaimana budaya lokal merespons dunia modern, dan bagaimana sebuah gagasan dituangkan agar tidak menyinggung realitas sosial, di situlah literasi yang sesungguhnya sedang bekerja.
Literasi adalah kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan merespons lingkungan sekitar kita dengan bijak. Dan hari itu, ruang kelas kami tidak memiliki papan tulis atau bangku yang berjejer kaku. Ruang kelas kami hanyalah sebuah meja di kedai kopi, beberapa lembar draf cerita, dan segelas kopi yang menjadi saksi sebuah ikhtiar merawat tradisi lewat kata-kata.
.jpg)




22 Komentar
Memang dalam menyusun cerpen itu, tak semudak yang orang kira. Premis ceritanya harus kuat, dan bumbu konfliknya pun harus efisien. penggunaan diksi gak bisa sembarangan, karena ada keterbatasan jumlah maksimal karakter. Saya aja udah lama nih ga bikin cerpen lagi, heuheu :(
Bisa mendiskusikan karya tulisan, ditemani kopi, duuuuh itu pasti membuat pembicaraan lancar. Krn akupun setiap mengerjakan sesuatu, lebih suka dibuka dengan kopi dulu 😄. Baru deh mood kayak happy, ide2 jadi ngalir, menulis terasa lebih mudah ☺️.
Dan semoga karya si murid nanti bisa lolos dan menang di tingkat yg lebih tinggi ya mba ☺️❤️
Hebat juga mb sri berkenan membantu dan memberi masukan demi hasil cerpen yang lebih baik..salut juga buat semua guru yang effort demi lomba ini :)
Plusnya dari artikel ini, daku jadi tahu bahwa menilai nya para juri terbilang serius tapi santai sambil seruput kopi, siip hehe
Salut untuk para juri yang bener-bener fair dalam menilai dan memegang teguh netralitasnya.. ;)
aku relatable banget literasi plus kopi. ini jodoh abadi keknya. memang kopi punya daya magisss, yg bikin kita kian produktif makin semangaatt dan mendulang prestasiii.
banyak berlah utk semuaaa
Menarik bgt ketemuuan membahas hal penting dlm sastra sambil menyeruput kopi. Emg minum kopi, apapun jenisnya bs menairkan suasana. Yg beku menjadi cair. Yg cair bs menjadi bahagia. Emg seindah itu membicarakan hal penting bersama org penting. Obrolannya bermakna.
Ikut mendoakan yang terbaik untuk ananda yang dibimbing yaa, ka..
Karena sejatinya.. dengan passion ananda yang sudah sesuai, melalui bimbingan oleh tutor berpengalaman, in syaa Allah karyanya lebih terarah dan menjadi favorit juri dalam penilaian.
Kereen, kaa..
Semangat membuka ruang kelas dan ruang diskusi yang menyenangkan untuk teruuss berkembangnya pijar literasi.
Dewi juga keren. Semoga bisa sukses dengan cerpen yang mengangkat lokalitas tradisi pengobatan masyarakat Banjar.
Diskusi santai di kedai kopi tapi tetap profesional membedah karya cerita rakyat Banjar ini pasti berkesan sekali buat Dewi, nggak berasa dijuriin. Sukses terus untuk proses coaching-nya dan semoga Dewi lancar di tingkat provinsi!
Wah iyaa aku setuju mbak dengan penjurian mode buta, emang harusnya begitu karena lebih adil yekan :D
jadi penasaran deh sama naskahnya Mbak Dewi. Suka banget ada muatan budaya lokal juga. Tapi jadi tantangan juga karena aswojo ngulik budaya Banjar yaa :D
Semoga sukses yaa buat Mbak Dewi dan juga para coach-nya :D
Ngobrol literasi sambil menyeruput kopi pastinya akan menjadi salah satu POV yang unik. Akan ada kenikmatan dari cafein kopi dan diksi-diksi yang menari-nari untuk didiskusikan.
Semoga sukses untuk tingkat Provinsinya dan berlanjut ke Nasional, ya
Emang nyaman juga tempatnya. Kopi dan literasi menjadi paduan yang pas ya mbak