PijarInspirasi.com-Selasa malam, 30 Juni 2026, jarum jam baru saja melewati pukul tujuh malam WIB (di tempat saya 20 WITA). Di depan layar laptop, saya sudah merapikan alat tempur, memastikan mikrofon berfungsi baik, dan sesekali mengecek daftar hadir di ruang tunggu virtual. Malam ini, saya ketiban sampur menjadi host bedah buku yang diselenggarakan oleh komunitas Bacayuk.
Buku yang siap dibedah malam ini bukan bacaan ringan pengantar tidur, alias agak berat.. Judulnya mentereng dan agak provokatif #ResetIndonesia. Sebuah karya kolaboratif dari empat jurnalis lintas generasi yang namanya sudah tidak asing lagi di dunia reportase investigasi dan pergerakan yaitu Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu. Buku ini ibarat rekaman hitam di atas putih dari potret sosial-politik kita, yang dirangkum dari keringat lapangan dan refleksi mendalam para penulisnya. Nah buku ini sebenarnya ada dua cover ya, satu warna putih cenderung krem yang satu biru navy. Sebenarnya isi sama yang membedakan hanya tanda tangan penulis. Paket hemat yang warna putih-krem hanya mendapatkan satu tanda tangan penulis, yang warna navy mendapatkan tanda tangan lengkap dari empat penulisnya. Kebetulan punya saya dan Mba Vivin sama-sama cover warna putih-krem. Mode irit he...he...
Antusiasme peserta malam itu luar biasa. Sejak ruang Zoom dibuka pukul 19.15 WIB, layar saya terus berkedip menerima “tamu” yang masuk ke room zoom. Dari Papua di ujung timur hingga Aceh di ujung barat, semuanya berkumpul di satu ruang digital yang sama. Sembari menunggu acara dimulai, sebuah video profil komunitas Bacayuk diputar, menampilkan wajah-wajah ramah dan semangat literasi yang terus dirawat.
Tepat pukul 19.30 WIB, saya membuka mikrofon. Menyapa peserta dari berbagai zona waktu, lalu mulai membacakan profil komunitas dan memperkenalkan pembedah malam ini: Vivin Indriani, seorang anggota Bacayuk asal Sidoarjo, Jawa Timur, yang sudah siap dengan catatan-catatan kritisnya.
Capture pemateri
Namun, baru saja saya selesai memperkenalkan profil komunitas melalui pemutaran video, tiba-tiba “pet” listrik mati, gelap gulita. Kenapa tidak ada woro-woro dulu sih, main mati saja. Ironisnya sekali sebenarnya karena Tanah Bumbu sangat terkenal sebagai salah satu gudang batu bara terbesar yang menyuplai energi ke berbagai penjuru tapi listrik sering byar pet. Tak ayal lampu indikator router WiFi di atas rak buku perlahan meredup lalu padam total.
Jantung saya sempat berdegup agak kencang. Pikiran langsung melayang ke puluhan peserta yang menunggu di ruang Zoom. Beruntung, insting bertahan hidup di era digital langsung mengambil alih. Dalam hitungan detik, tangan saya meraba-raba ponsel dalam kegelapan, mengaktifkan fitur tethering personal, dan Alhamdulillah kok selalu ready paket data soalnya jaga-jaga kalau pas keluar rumah. Koneksi laptop kembali tersambung. Saya masih ada di dalam ruang rapat virtual, meskipun kini suasana di sekitar saya sudah berubah total.
Masuk ke sesi utama pukul 19.40 WIB, saya dan Vivin mulai menguliti profil dan isi buku #ResetIndonesia. Acara yang diselenggarakan dalam virtual zoom ini berjalan sangat seru, karena Mba Vivin membedah bab demi bab dengan jeli, mengupas bagaimana laporan-laporan jurnalistik di buku tersebut merekam ketimpangan, eksploitasi alam, dan perlunya kita memikirkan ulang arah bangsa ini. Rasa-rasanya, situasi mati lampu yang saya alami di Tanah Bumbu malam itu menjadi latar belakang yang sangat relevan dan "kontekstual" dengan apa yang sedang kami bicarakan.
Pukul delapan malam, Vivin membagikan perasaan personalnya setelah membaca buku tersebut. Ada nada emosional yang tertangkap dari suaranya sebuah refleksi jujur dari seorang pembaca yang merasa digugah. Masuk ke sesi tanya jawab pada pukul 20.10 WIB, antusiasme peserta makin memanas. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir dari kolom obrolan maupun interaksi langsung. Sesi yang awalnya dialokasikan hingga pukul 20.50 WIB terasa berjalan begitu cepat karena dinamika argumen dan tanggapan dari para partisipan yang sangat hidup.
Sepanjang dua jam acara itu, ada satu kompromi estetika yang terpaksa saya lakukan, saya harus mematikan kamera. Mengapa? Karena tanpa pencahayaan sama sekali di dalam kamar, satu-satunya sumber cahaya hanya berasal dari pantulan layar laptop yang menampilkan wajah-wajah peserta Zoom. Kalau saya memaksakan diri untuk on-camera, wajah saya mungkin akan terlihat samar, pucat, dan agak menyeramkan mirip penampakan di acara uji nyali uka-uka zaman dulu. Daripada merusak konsentrasi peserta yang sedang serius membahas masa depan Indonesia, lebih baik saya menjelma menjadi suara tanpa wujud di balik kegelapan.
Meskipun dipandu dari sebuah kamar gelap di sudut Kalimantan, acara berjalan dengan sangat lancar hingga akhir. Memasuki pukul 20.50 WIB, kami masuk ke agenda penutup, membacakan closing statement, dan mengumumkan beberapa nama peserta yang beruntung mendapatkan reward malam itu.
Ketika saya akhirnya menutup ruang Zoom pada pukul sembilan malam, saya bersandar di rak buku dalam kegelapan yang masih pekat. Saaya sempat berpikir " malam ini kami baru saja berdiskusi tentang bagaimana cara "mereset" Indonesia menuju arah yang lebih baik, justru di saat lingkungan sekitar saya sedang dipaksa melakukan restart manual akibat mati lampu."
Sebuah ironi yang terpaksa harus diterima, sekaligus pengingat bahwa literasi akan selalu menemukan jalannya untuk tetap menyala, bahkan dari dalam ruang Zoom yang gelap gulita.
Saya sambil mikir juga, air di tandon cukup apa tidak ya untuk dua sampai tiga hari ke depan. Karena setelah pemadaman yang berlangsung lama PDAM pun akan ikut terganggu, biasanya air tidak akan mengalir sampai dua atau tiga hari ke depan. Masa iya harus libur nyuci lagi?
Apapun kondisinya berusaha untuk tetap mensyukuri semua kondisi. Karena mengeluh pun tidak akan dapat solusi.
Seperti apapun gelap malam ini kita tetap harus menyalakan semangat dalam diri. Agar hari esok lebih indah, saatnya mereset energi, untuk menyambut hari esok yang lebih indah.
Salam Literasi



.jpg)
0 Komentar