Mandai

Pic by AI

PijarInspirasi.com-Pagi ini hujan kembali membasahi bumi, menyisakan aroma tanah basah yang selalu menenangkan. Ratna duduk termenung di depan jendela, menatap rintik air yang jatuh di dedaunan. Tatapannya kosong, seolah sedang membingkai kembali semua kenangan yang tertinggal di ruangan itu. Kamar sewaktu remaja yang menyimpan banyak memori, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk merantau dan melanjutkan pendidikan di Kota Pahlawan.

 

𝑁𝑎𝑖𝑘𝑎𝑚 𝑑𝑖 𝑚𝑎𝑛𝑎?”1

 Suara parau sang ayah memecah keheningan, terdengar dari arah ruang tengah.

𝑈𝑙𝑢𝑛 𝑑𝑖 𝑘𝑎𝑚𝑎𝑟𝐵𝑎ℎ𝑆𝑒𝑡𝑢𝑚𝑎𝑡,”2 sahut Ratna setengah berteriak. Ia segera bangkit dan bergegas menghampiri ayahnya. 

“Ada apa, Bah?” tanya Ratna lembut begitu mendapati ayahnya sedang duduk di kursi kayu ruang tamu.

𝑇𝑢𝑘𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑛𝑑𝑎𝑖 𝑑𝑖 𝑤𝑎𝑑𝑎ℎ 𝐴𝑐𝑖𝑙 𝐽𝑎𝑛𝑎ℎ𝑁𝑎𝐴𝑏𝑎ℎ ℎ𝑎𝑛𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑙𝑎𝑤𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑛𝑑𝑎𝑖.”3


Ratna mengernyitkan dahi sejenak, mencoba mengingat-ingat. “𝐴𝑐𝑖𝑙 𝐽𝑎𝑛𝑎ℎ 𝑏𝑒𝑑𝑖𝑎𝑚 𝑑𝑖 𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑠𝑒𝑘𝑎𝑟𝑎𝑛𝑔𝐵𝑎ℎ?”4

𝐼𝑛𝑦𝑎 𝑏𝑒𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛 𝑑𝑖 𝑃𝑎𝑠𝑎𝑟 𝐴𝑚𝑝𝑒𝑟𝑎𝐼𝑘𝑎𝑚 𝑡𝑎𝑘𝑢𝑛𝑖 𝑠𝑎𝑗𝑎 𝑤𝑎𝑟𝑢𝑛𝑔 𝐴𝑐𝑖𝑙 𝐽𝑎𝑛𝑎ℎ𝑠𝑒𝑚𝑢𝑎 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖 𝑠𝑎𝑛𝑎 𝑡𝑎ℎ𝑢 ,”5 jawab sang ayah dengan senyum tipis.

 

𝐼𝑛𝑔𝑔𝑖ℎ𝐵𝑎ℎ .”6


Ratna bergegas mengenakan jas hujan. Ia segera memacu sepeda motornya membelah gerimis menuju Pasar Ampera. Sudah bisa ditebak, setiap kali hujan turun, pasar itu pasti becek. Kondisi tanah yang belum tersentuh semen, ditambah lalu lalang langkah kaki para pengunjung, membuat permukaan jalan pasar yang bercampur air itu berubah menjadi lumpur tipis yang licin.

 

Setelah sempat bertanya kepada seorang tukang parkir, Ratna akhirnya menemukan tempat yang dicari. Warung Acil Janah terletak persis berseberangan dengan kios ikan.

𝐶𝑖𝑙𝑛𝑢𝑘𝑎𝑟 𝑚𝑎𝑛𝑑𝑎𝑖,”7 ucap Ratna begitu sampai di depan warung.

Perempuan paruh baya di balik meja jualan itu mendongak. Matanya seketika berbinar. “𝐼𝑘𝑎𝑚 𝑅𝑎𝑡𝑛𝑎𝑘𝑎𝑛𝑌𝑎 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ𝑝𝑎𝑏𝑖𝑙𝑎 𝑑𝑎𝑡𝑎𝑛𝑔?”8

 

Ratna segera mengulurkan tangan untuk menyalami Acil Janah. Bukannya sekadar bersalaman, Acil Janah justru menarik tubuh Ratna ke dalam pelukan hangat. Ah, pelukan yang begitu Ratna kenali. Semenjak Ratna kecil, pelukan hangat dari sahabat ibunya inilah yang selalu hadir menenangkan setiap kali ia merindukan sosok ibu yang telah tiada.

 

𝑆𝑒𝑚𝑎𝑙𝑎𝑚𝐶𝑖𝑙𝐴𝑐𝑖𝑙 𝑎𝑝𝑎 𝑘𝑎𝑏𝑎𝑟?” 9 tanya Ratna setelah pelukan mereka terurai.

𝐴𝑐𝑖𝑙 𝑠𝑒ℎ𝑎𝑡𝑅𝑎𝑡𝑛𝑎𝐷𝑢𝑑𝑢𝑘 𝑑𝑢𝑙𝑢𝐴𝑐𝑖𝑙 𝑠𝑖𝑎𝑝𝑘𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑛𝑑𝑎𝑖𝑛𝑦𝑎𝐿𝑎𝑤𝑎𝑠 𝑏𝑎𝑛𝑎𝑟 𝑖𝑘𝑎𝑚 𝑘𝑎𝑑𝑎 𝑏𝑢𝑙𝑖𝑘,”10 ujar Acil Janah sembari mulai membungkus pesanan.

 

“Inggih, Cil. Kerjaan di sana belum bisa ditinggalkan. Ini kebetulan bisa ambil cuti, jadi menyempatkan pulang.”

Sembari menunggu, Ratna mengedarkan pandangan ke sekeliling. Pasar Ampera ini ternyata belum banyak berubah sejak ia tinggalkan bertahun-tahun lalu. Bau khas pasar, riuh tawar-menawar, dan kesibukan di dalamnya masih sama. 

Acil Janah menyerahkan sebungkus mandai yang sudah siap. “Kalau ada waktu senggang, mainlah ke rumah Acil. Sekarang Acil tinggal di Wonorejo, dekat Masjid Agung.”

 

“InsyaAllah, Cil. Acil tiap hari kah berjualan di sini?”

 

Acil Janah mengangguk pelan, tatapannya mendadak melembut diiringi senyum haru. “𝐼𝑦𝑎𝑠𝑒𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑘 𝑎𝑟𝑤𝑎ℎ 𝑖𝑏𝑢𝑚𝑢 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑎𝑑𝑎𝐴𝑐𝑖𝑙 𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛 𝑑𝑖 𝑠𝑖𝑛𝑖 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑖𝑠𝑖 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢𝑇𝑒𝑛𝑔𝑎ℎ ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑏𝑎𝑟𝑢 𝑝𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔.”

 

Dada Ratna berdesir mendengar nama ibunya disebut. Namun, ia harus segera kembali. “𝑈𝑙𝑢𝑛 𝑏𝑢𝑙𝑖𝑘 𝑑𝑢𝑙𝑢𝐶𝑖𝑙𝑑𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢 𝐴𝑏𝑎ℎ 𝑑𝑖 𝑟𝑢𝑚𝑎ℎ .” 11

Setelah kembali bersalaman dan membayar, Ratna bergegas pulang.

 

Sesampainya di rumah, Ratna langsung bergerak ke dapur untuk menyiapkan makanan. Aromanya yang khas langsung menguar, membangkitkan selera.

 

𝐵𝑎ℎ𝑚𝑎𝑘𝑎𝑛𝑎𝑛 𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑎𝑝𝐴𝑦𝑜𝑅𝑎𝑡𝑛𝑎 𝑡𝑒𝑚𝑎𝑛𝑖 𝑚𝑎𝑘𝑎𝑛,” panggil Ratna.

 


Ratna menuangkan secentong nasi hangat ke piring, lalu menyerahkannya kepada sang ayah lengkap dengan lauk mandai yang baru dibelinya. Hatinya mendadak bergetar hebat saat melihat sang ayah menyuap nasi berlauk kulit cempedak goreng itu dengan begitu lahap. Entah sudah berapa lama pemandangan sehangat ini tidak Ratna saksikan.

 

𝑂𝑠𝑒𝑛𝑔 𝑚𝑎𝑛𝑑𝑎𝑖 𝑏𝑖𝑘𝑖𝑛𝑎𝑛 𝐽𝑎𝑛𝑎ℎ 𝑖𝑛𝑖... 𝑟𝑎𝑠𝑎𝑛𝑦𝑎 𝑚𝑖𝑟𝑖𝑝 𝑏𝑎𝑛𝑎𝑟 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑠𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑒𝑚𝑎𝑘 𝑖𝑘𝑎𝑚𝑁𝑎, Na,” 12bisik ayahnya tiba-tiba. Suaranya bergetar, dan sepasang mata senjanya tampak mulai digenangi air mata.

 

Ratna tercekat. Tenggorokannya mendadak terasa tersumbat, dan bayangan almarhumah ibunya seolah menari-nari di pelupuk mata. Kerinduan yang sama ternyata menggelayuti hati mereka berdua.

 

𝐴𝑏𝑎ℎ 𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑙𝑒𝑠𝑎𝑖𝐼𝑘𝑎𝑚 𝑙𝑎𝑛𝑗𝑢𝑡𝑘𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑘𝑎𝑛𝑛𝑦𝑎𝑁𝑎,” ucap sang ayah sembari menyandarkan punggung, berusaha menyembunyikan genangan di matanya.

 

𝐼𝑛𝑔𝑔𝑖ℎ𝐵𝑎ℎ.”

 

Tak terasa, hampir seminggu Ratna berada di kampung halaman. Selama itu pula, ia menyadari ada sesuatu yang tidak biasa dari kebiasaan makan ayahnya. Rasa cemas itu akhirnya membawanya kembali mengunjungi rumah Acil Janah di Wonorejo suatu sore.

 

𝐶𝑖𝑙𝑅𝑎𝑡𝑛𝑎 𝑘ℎ𝑎𝑤𝑎𝑡𝑖𝑟 𝑡𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐴𝑏𝑎ℎ 𝑛𝑎𝑖𝑘 𝑙𝑎𝑔𝑖𝐻𝑎𝑚𝑝𝑖𝑟 𝑠𝑒𝑚𝑖𝑛𝑔𝑔𝑢 𝑖𝑛𝑖 𝑠𝑖𝑑𝑖𝑛 𝑠𝑒𝑝𝑒𝑟𝑡𝑖 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑏𝑖𝑠𝑎 𝑙𝑒𝑝𝑎𝑠 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑚𝑎𝑛𝑑𝑎𝑖𝑇𝑖𝑎𝑝 ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑚𝑎𝑘𝑎𝑛𝑛𝑦𝑎 𝑖𝑡𝑢 𝑡𝑒𝑟𝑢𝑠,” keluh Ratna, menumpahkan segala kekhawatiran yang mengganjal hatinya.

 

Acil Janah menghela napas panjang, lalu menatap Ratna dengan tatapan keibuan.

 

𝑁𝑎𝑎𝑏𝑎ℎ𝑚𝑢 𝑖𝑡𝑢 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑝𝑖𝑎𝑛𝑀𝑎𝑛𝑑𝑎𝑖13 𝑖𝑡𝑢 𝑙𝑎𝑢𝑘 𝑘𝑒𝑠𝑢𝑘𝑎𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑚𝑎𝑘𝑚𝑢 𝑠𝑒𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑘 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑙𝑎𝑛𝑗𝑢𝑡 𝑠𝑒𝑘𝑜𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑒 𝐽𝑎𝑤𝑎 𝑑𝑢𝑙𝑢𝐾𝑎𝑚𝑢 𝑝𝑎𝑠𝑡𝑖 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑙𝑢𝑝𝑎𝑘𝑎𝑛𝑘𝑎𝑙𝑎𝑢 𝑎𝑏𝑎ℎ𝑚𝑢 𝑖𝑡𝑢 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑛𝑦𝑎 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑠𝑢𝑘𝑎 𝑚𝑎𝑘𝑎𝑛𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑠𝑖𝑛𝑇𝑎𝑝𝑖 𝑠𝑒𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑚𝑎𝑘𝑚𝑢 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙𝑑𝑖𝑎 𝑗𝑎𝑑𝑖 𝑠𝑢𝑘𝑎 𝑠𝑒𝑘𝑎𝑙𝑖 𝑚𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑛𝑑a𝑖.”

Mata Ratna seketika mengembun. Kalimat Acil Janah seperti hantaman keras yang menyadarkannya. Benar, ia ingat betul dahulu ayahnya selalu menghindari makanan asin karena riwayat tensi tingginya.

 

Acil Janah memegang lembut jemari Ratna. “𝑃𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑙𝑎ℎ𝑁𝑎𝑇𝑒𝑚𝑎𝑛𝑖 𝑚𝑎𝑠𝑎 𝑡𝑢𝑎 𝑎𝑏𝑎ℎ𝑚𝑢𝐾𝑎𝑟𝑖𝑒𝑟𝑚𝑢 𝑑𝑖 𝑙𝑢𝑎𝑟 𝑠𝑎𝑛𝑎 𝑚𝑎𝑠𝑖ℎ 𝑏𝑖𝑠𝑎 𝑑𝑖𝑘𝑒𝑗𝑎𝑟𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑢𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑟𝑔𝑖 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑟𝑛𝑎ℎ 𝑏𝑖𝑠𝑎 𝑘𝑒𝑚𝑏𝑎𝑙𝑖.”

Malam itu, di dalam kamarnya yang dingin, Ratna memantapkan hati. Keputusannya sudah bulat, ia akan mengurus kepindahannya dan kembali menetap di kampung halaman demi menemani sisa usia ayahnya.

Ia tidak rela membiarkan laki-laki yang sangat dicintainya itu menghabiskan hari-hari tua dalam sepi. Hanya berteman sepiring mandai sebagai pengobat rindu pada masa lalu. Rumah ini terlalu sunyi untuk ayahnya berjalan sendiri. Sesunyi hati Ratna sendiri, yang beberapa waktu lalu juga sempat patah dan dipaksa ikhlas, saat melepas orang yang selama ini ia harapkan untuk menua bersama, justru bersanding di pelaminan dengan orang lain.

 

Kini, fokus hidupnya telah berubah. Di tanah kelahirannya ini, ia akan merajut kembali arti rumah yang sesungguhnya,.

 

Tanah Bumbu, 16 November 2022

Srie Umma Kayshwa


Catatan Kaki

1.       “Na, kamu di mana?”

2.       “Saya di kamar Yah, sebentar”

3.       “Belikan Mandai di tempatnya Bibi Janah, ayah mau makan dengan mandai”

4.       “Bibi jannah tinggal di mana sekarang?

5.       Dia berjualan di Pasar Ampera, tanya saja warung  Bi jana, semuam orang di sana  tahu

6.       “Iya, yah”

7.       “Bi beli Mandai”

8.       “Kamu Ratna kah? Ya Allah, kapan datang?”4

9.       “Kemarin Bi, Bibi apa kabar?’

10.    “Kemarin Bi, Bibi bagaimana kabarnya?”

11.    “Bibi sehat , Ratna. Duduk dulu, Bibi siapkan mandainya. Lama sekali kamu tidak pulang”

12.    “Oseng Mandai buatan Janah ini...rasanya mirip sekali denagan masakan ibu kamu, Na”

13.    Makanan khas Kalimantan Selatan yang berasal dari fermentasi kulit cempedak




Posting Komentar

38 Komentar

Ariefpokto mengatakan…
Bagus ceritanya walaupun agak salfok tiba-tiba saya merasa bisa bahasa Banjar membaca tulisan ini karena ternyata dalam dialog bahasa Banjarnya di bawah ada terjemahan. Banyakin tulisan seperti ini mbak memperkaya khasanah budaya dan juga melestarikan bahasa Banjarmasin
Mang Duyeh mengatakan…
Saya suka cerita yang memiliki latar di daerah seperti ini, meski harus bulak balik buat liat footnote karena ada kata - kata yang tidak dimengerti.
ketika membaca beberapa kalimat yang menggunakan bahasa daerah dalam dialog, seketika itu pula imajinasi dibawa ke tempat dengan latar yang sama, dan ini seru daripada membaca cerita yang latarnya biasa.
Sukaaaaaa banget cerita ini 😍😍😍😍. Pakai bahasa lokal, dan tetap ada terjemahan. Lalu aku jadi tahu apa itu Mandai. Fermentasi kulit cempedak, blm kebayang rasanya. Biasa cempedak kalau di keluargaku hanya dimakan begitu saja, atau digoreng. Ternyata kulitnya pun bisa dimakan yaa.

Baca ceritanya terharu mba. Krn aku LGS bayangin papa mama ku di Medan. Cuma untungnya ada adik bungsu yg tinggal di sana juga, JD ga lah kesepian. Tapi tetep aku kangen pengen balik
rejekingalir.com mengatakan…
Cerita dengan menyelipkan budaya salah satunya adalah bahasa lokal, jadinya tuh lebih unik, karena bisa sambil kenalan juga sama bahasanya. Terlebih ceritanya juga related dengan keadaan sehari-hari
Fajarwalker.com mengatakan…
Sediiiih bacanya mbak. Kalau aku ada di posisi Ratna, sepertinya pun akan kebingungan pulak. Berat pasti melepas karir, tapi semuanya tentu demi sisa orang tua satu-satunya.
Unik juga nih pakai bahasa lokal. Walau jujur jadi agak repot naik turun nih bacanya, hihihi.
Utami Isharyani mengatakan…
Jujur baru tau soal 'Mandai' gara-gara cerpen ini, dan langsung bikin penasaran pengen nyobain! Ceritanya nggak berat tapi ngena banget di hati. Pakai bahasa daerah juga, jadi saya dapet spoiler nih Bahasa Banjar itu seperti apa...
Tukang jalan jajan mengatakan…
Aaaaaaaa.... saya suka mandai hehehe beberapa kali masak sendiri juga hehehe... Membaca ceritanya dan Dialek lokal yang disisipkan juga membuat atmosfer pasarnya terasa sangat hidup dan otentik. Terima kasih sudah mengingatkan kita semua lewat tulisan ini bahwa sejauh apa pun kita mengejar karier, pelukan orang tua dan kehangatan rumah adalah tempat pulang yang sesungguhnya. Sukses selalu untuk karyanya
AlineaLala mengatakan…
Suka sekali baca ceritanya. Kearifan lokal yang beneran mendominasi, bahkan pakai bahasa daerah dan jadi kenalan sama Mandai, makanan khas.

Ratna keren, ia rela melepaskan pekerjaan untuk membersamai ayahnya. Sweet banget kisahnya, bikin merembes mata.
Yuni Bint Saniro mengatakan…
saya suka makan cempedak. Cuma belum pernah nyobain mandai..

Tadi aku salfok. ini bahasa apa ya? Pas dibaca sampai akhir ternyata ada terjemahannya.

aku pikir tadinya ini di Palembang karena ada Ampera-nya. Tapi kupikir bahasa palembang nggak begini. hehehe
Didik Purwanto mengatakan…
Ulun jadi penasaran bagaimana tampang masakan mandai ini. Walau udh dijelaskan, ada kulit cempedek goreng. Dan ada fermentasi cempedak, ulun masih bingung memvisualkannya.

Tapi dr cerita sederhana ini, kuliner lokal bikin kangen kampung halaman. Dan bgm kehangatan warga kampung Ampera dan daratan Kalimantan yg penuh pesona. Semoga ulun bs menyambangi bumi Borneo dan segera menyantap mandai ini di kampung halamannya.
Yonal Regen mengatakan…
Mbak Srie, terima kasih sudah membuat cerita yang hangat di hati. Juga, dengan penggunaan bahasa lokal Banjar, vibe-nya makin terasa indah. Saya jadi belajar beberapa kosa kata setelah membandingkan dengan artinya di bagian bawah.

Pesannya juga kuat, betapa orang tua yang anak-anaknya merantau dan mereka tinggal sendiri, pastinya rasa sendiri dan kesepian itu menjadi menu sehari-hari mereka. Dari situ saya pun bersyukur karena rumah tempat tinggal saya tak jauh dari rumah orang tua sehingga dengan mudah menengok ibu sesering mungkin
dinda mengatakan…
Ceritanya heartwarming mbakk.. meski saya kebingungan sama bahasa banjar karena terjemahannya ada di catatan kaki. Hehehe..

Baca ceritanya jadi teringat Alm. Bapak sama Ibuk waktu saya masih merantau dulu. Kalau rindu atau mereka sakit seringkali anak² diperantauan juga kepikiran. Nggak tega juga ninggal bapak ibuk di rumah. 🥲

Sungguh hal yang patut disyukuri, ketika orang tua masih ada dan jaraknya pun tidak jauh. 🤗
Percaya gak di kampung halaman saya ada daerah namanya Mandai
Di situ ada sekolah yang keren dan disegani karena sering menang lomba
Hmm... kalau di sini ceritanya makanan ya
Jadi penasaran juga karena cempedak saja belum pernah rasain
Asri M Lestari mengatakan…
Begitu membaca "ikam" langsung tahu itu bahasa Banjar dan teringat papa mertua.

Ceritanya mengharukan. Kalau jadi Ratna juga pasti nggak tega sih ya meninggalkan ayahnya sendirian.

Btw aku baru tahu Mandai. Kupikir sejenis ikan. Ternyata olahan kulit cempedak.
Antung apriana mengatakan…
keren banget mbak Sri bikin cerpen pakai bahasa banjar begini dan memilih mandai sebagai unsur lokalnya. Dan asli ceritanya juga nggak ketebak nih ternyata tentang orang tua kita yaa. aku jadi ingat ibuku yang sekarang juga tinggal berdua aja sama adik bungsu. untungnya kami semua masih di kota yang sama jadi kalau mau ke rumah mama bisa cepat
Aprillia Ekasari mengatakan…
Kebayang bapaknya kangen banget sama ibunya sampai yang dimakan mandai terus huhu.
Suamiku suka sekali mandai. Sampai pernah tahun berapa tu pas mudik dia bawa mandai ke Jakarta. Dia sendiri yang makan hehe, karena di aku kurang cocok.
Owh ternyata mandai itu bisa diolah menjadi masakan lain ya? Aku kira ya langsung dicemil gitu aja :D
Thanks pengetahuannya mbak. Cerpen dengan nuansa lokalitas daerah gini emang selalu ngasi pengetahuan2 baru :D
Dee_Arif mengatakan…
Cerita yang menarik mbak
Aku suka membaca cerita dengan latar belakang budaya seperti ini
Bisa sekalian belajar budaya
Srie Ummu Kayshwa mengatakan…
Iya Kak, saya memberanikan diri menulis cerita dengan latar belakang lokalitas karena memang salah satu tujuannya untuk menghapal kosa kata he...he...kan saya perantauan jadi lebih sering pakai bahasa nasional. Makanya kalau bicara menggunakan bahasa lokal agak kagok
Srie Ummu Kayshwa mengatakan…
Mandai itu bahannya kak berasal dari fermentasi kulit cempedak, kadang-kadang pakai kulit nangka kalau pas tidak musim cempedak. Cara masaknya ditumis/oseng
Srie Ummu Kayshwa mengatakan…
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Srie Ummu Kayshwa mengatakan…
Iya Kak, padahal sebenaranya yang dirindukan ada di Jawa he..he...Ini asal mulanya tercetus ide karena ada salah satu kawan yang suka sekali dengan olahan Mandai, tapi terpaksa harus menahan diri karena sidin hipertensi. Kalau saya jujur malah tidak bisa makan karena terlalu asin.
Srie Ummu Kayshwa mengatakan…
saya dulu malah dapat info Mandai itu daging kerbau kok he...he...ini benar-benar info yang menyesatkan. Ternyata tujuannya mereka beri info itu agar saya mau makan, tapi ya tetap teryahan di tenggorokan karena asin banget, akhirnya ada pasien yang baik hati menjelaskan bahwa Mandai itu hasil fermentasi kuliot cempedak.
Srie Ummu Kayshwa mengatakan…
Mandai itu ada di Maros ya Kak? Kalau Mandai yang di Kalsel rasanya asin sekali, mirip ikan asin lah, beda bahan saja.
Srie Ummu Kayshwa mengatakan…
Iya Kak, dilemanya anak rantau, sering terkungkung rindu yang datang tiba-tiba.
Srie Ummu Kayshwa mengatakan…
Saya masih berada di fase ini, jauh dari orang tua dan mertua. Tapi berusaha untuk menikmati semua proses yang ada, dan semoga bisa segera balik kampung agar bisa menemani masa senja mereka.
Srie Ummu Kayshwa mengatakan…
Aamien semoga kawa lakas beelang lah Kak. Saya berani menuliskan saja, belum berani makan masin banar eh. Tenyaman iwak bulu ayam soalnya.
Srie Ummu Kayshwa mengatakan…
Bahasa Banjar (Kalimantan Selatan) Kakak. Nah kalau pas musim cempedak bisa tu kulitnya dibuat Mandai he...he...
Srie Ummu Kayshwa mengatakan…
Treima kasih Kakak. Saya malah kebalikannya tidak bisa makan karena terlalu asin, masih terbiasa dengan gurih, pedas dan manis.
Srie Ummu Kayshwa mengatakan…
Ayo Kak, coba buat sendiri kalau tidak ada kulit cempedak, bisa pakai kulit nangka kok.
Srie Ummu Kayshwa mengatakan…
Sesuatu yang berhubungan dengan orang tua atau anak biasanya memang bikin melow. Saya aslinya lancar menuliskan saja, kalau ngomonmg langsung jujur belum pede, kecuali kata-kata yang memang mirip Bahasa Indonesia atau Bahasa Jawa. Karena perlah mencoba ngobrol pakai bahasa ini malah dapat komentar "Bahasa Banjar versi medhok" akhirnya kicep, cari aman saja pakai bahasa nasional.
Srie Ummu Kayshwa mengatakan…
Inggih Kak, ini kebetulan juga sedang digencarkan konten tulisan bermuatan lokal dari Balai Bahasa. Jadi men-𝑐ℎ𝑎𝑙𝑙𝑒𝑛𝑔𝑒 diri supaya berani ikut menulis, meskipun bukan putri daerah sini.
Srie Ummu Kayshwa mengatakan…
Tetap semangat untuk kita anak-anak perantauan. Pingin balik itu sudah pasti Kak, karena banyak momen dan jejak yang tertinggal. Mandai itu seperti ikan asin rasanya Kak, asin banget kalau menurut saya.
Srie Ummu Kayshwa mengatakan…
Terima kasih Mang, semoga nanti bisa menuliskan cerita lain dengan latar Banjar, mumpung masih jadi warga Banjar he...he...
Srie Ummu Kayshwa mengatakan…
Terima kasih Kak, semopga nanti bisa eksplore lebih banyak ya, mengingat Bahasa Banjar saja juga masih terbatas he.....he... masih perlu bantuan kamus hidup (putra daerah) karena belu ada yang cetak kamus bahasa Banjar.
Dyah Kusuma mengatakan…
Cerita yang hangat mbak, sangat menyentuh
saya suka dan tanpa terasa sudah berada di akhir cerita, apalagi menggunakan bahasa daerah
ternyata beberapa katanya memiliki arti yang sama dengan bahasa jawa ya
Indahnya keragaman Indonesia
Sukacita mengatakan…
Aku sampai tanya mbah google untuk cari lebih lengkap soal makanan ini hihi. Trus bayangin rasanya. Dengan latar cerita yang keinginan abang ini, aku merasa kayak duduk manis di samping abah, ikutan nunggu Mandai. Ceritanya terasa hidup.
Ruli retno mengatakan…
Ahhh jadi ingat stok penyimpananan mandaiku habis. Memang musiman sih buahnya ya. Alur ceritanya syedihhh bikin aku mebayangkan bagaimana kalo aku di posisi ratna, dan bagaimana kalo bapakku di posisi bapaknya ratna, huhuhu
erykaditya mengatakan…
Aaaaa ceritanya bagus banget mbaaa...aku yg baca sampai sedih sendiri jadi bayangin yg skrg msh diberi kesempatan membersamai orang tuaaa..aku sukaaa sama jalan cerita dna cara menyampaikan nya enak dibaca...
Tp tadi aku sempet salah mengartikan tertulis mandari tapi pikiranku ke wadai hehehe trus mikir masak kuee buat lauk ternyata aku yg salah memgartikann 😁