“𝑁𝑎, 𝑖𝑘𝑎𝑚 𝑑𝑖 𝑚𝑎𝑛𝑎?”1
Suara parau sang ayah memecah keheningan, terdengar dari arah ruang tengah.
“𝑈𝑙𝑢𝑛 𝑑𝑖 𝑘𝑎𝑚𝑎𝑟, 𝐵𝑎ℎ. 𝑆𝑒𝑡𝑢𝑚𝑎𝑡,”2 sahut Ratna setengah berteriak. Ia segera bangkit dan bergegas menghampiri ayahnya.
“Ada apa, Bah?” tanya Ratna lembut begitu mendapati ayahnya sedang duduk di kursi kayu ruang tamu.
“𝑇𝑢𝑘𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑛𝑑𝑎𝑖 𝑑𝑖 𝑤𝑎𝑑𝑎ℎ 𝐴𝑐𝑖𝑙 𝐽𝑎𝑛𝑎ℎ, 𝑁𝑎. 𝐴𝑏𝑎ℎ ℎ𝑎𝑛𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑙𝑎𝑤𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑛𝑑𝑎𝑖.”3
Ratna mengernyitkan dahi sejenak, mencoba mengingat-ingat. “𝐴𝑐𝑖𝑙 𝐽𝑎𝑛𝑎ℎ 𝑏𝑒𝑑𝑖𝑎𝑚 𝑑𝑖 𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑠𝑒𝑘𝑎𝑟𝑎𝑛𝑔, 𝐵𝑎ℎ?”4
“𝐼𝑛𝑦𝑎 𝑏𝑒𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛 𝑑𝑖 𝑃𝑎𝑠𝑎𝑟 𝐴𝑚𝑝𝑒𝑟𝑎. 𝐼𝑘𝑎𝑚 𝑡𝑎𝑘𝑢𝑛𝑖 𝑠𝑎𝑗𝑎 𝑤𝑎𝑟𝑢𝑛𝑔 𝐴𝑐𝑖𝑙 𝐽𝑎𝑛𝑎ℎ, 𝑠𝑒𝑚𝑢𝑎 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖 𝑠𝑎𝑛𝑎 𝑡𝑎ℎ𝑢 ,”5 jawab sang ayah dengan senyum tipis.
“𝐼𝑛𝑔𝑔𝑖ℎ, 𝐵𝑎ℎ .”6
Ratna bergegas mengenakan jas hujan. Ia segera memacu sepeda motornya membelah gerimis menuju Pasar Ampera. Sudah bisa ditebak, setiap kali hujan turun, pasar itu pasti becek. Kondisi tanah yang belum tersentuh semen, ditambah lalu lalang langkah kaki para pengunjung, membuat permukaan jalan pasar yang bercampur air itu berubah menjadi lumpur tipis yang licin.
Setelah sempat bertanya kepada seorang tukang parkir, Ratna akhirnya menemukan tempat yang dicari. Warung Acil Janah terletak persis berseberangan dengan kios ikan.
“𝐶𝑖𝑙, 𝑛𝑢𝑘𝑎𝑟 𝑚𝑎𝑛𝑑𝑎𝑖,”7 ucap Ratna begitu sampai di depan warung.
Perempuan paruh baya di balik meja jualan itu mendongak. Matanya seketika berbinar. “𝐼𝑘𝑎𝑚 𝑅𝑎𝑡𝑛𝑎, 𝑘𝑎𝑛? 𝑌𝑎 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ, 𝑝𝑎𝑏𝑖𝑙𝑎 𝑑𝑎𝑡𝑎𝑛𝑔?”8
Ratna segera mengulurkan tangan untuk menyalami Acil Janah. Bukannya sekadar bersalaman, Acil Janah justru menarik tubuh Ratna ke dalam pelukan hangat. Ah, pelukan yang begitu Ratna kenali. Semenjak Ratna kecil, pelukan hangat dari sahabat ibunya inilah yang selalu hadir menenangkan setiap kali ia merindukan sosok ibu yang telah tiada.
“𝑆𝑒𝑚𝑎𝑙𝑎𝑚, 𝐶𝑖𝑙. 𝐴𝑐𝑖𝑙 𝑎𝑝𝑎 𝑘𝑎𝑏𝑎𝑟?” 9 tanya Ratna setelah pelukan mereka terurai.
“𝐴𝑐𝑖𝑙 𝑠𝑒ℎ𝑎𝑡, 𝑅𝑎𝑡𝑛𝑎. 𝐷𝑢𝑑𝑢𝑘 𝑑𝑢𝑙𝑢, 𝐴𝑐𝑖𝑙 𝑠𝑖𝑎𝑝𝑘𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑛𝑑𝑎𝑖𝑛𝑦𝑎. 𝐿𝑎𝑤𝑎𝑠 𝑏𝑎𝑛𝑎𝑟 𝑖𝑘𝑎𝑚 𝑘𝑎𝑑𝑎 𝑏𝑢𝑙𝑖𝑘,”10 ujar Acil Janah sembari mulai membungkus pesanan.
“Inggih, Cil. Kerjaan di sana belum bisa ditinggalkan. Ini kebetulan bisa ambil cuti, jadi menyempatkan pulang.”
Sembari menunggu, Ratna mengedarkan pandangan ke sekeliling. Pasar Ampera ini ternyata belum banyak berubah sejak ia tinggalkan bertahun-tahun lalu. Bau khas pasar, riuh tawar-menawar, dan kesibukan di dalamnya masih sama.
Acil Janah menyerahkan sebungkus mandai yang sudah siap. “Kalau ada waktu senggang, mainlah ke rumah Acil. Sekarang Acil tinggal di Wonorejo, dekat Masjid Agung.”
“InsyaAllah, Cil. Acil tiap hari kah berjualan di sini?”
Acil Janah mengangguk pelan, tatapannya mendadak melembut diiringi senyum haru. “𝐼𝑦𝑎, 𝑠𝑒𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑘 𝑎𝑟𝑤𝑎ℎ 𝑖𝑏𝑢𝑚𝑢 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑎𝑑𝑎, 𝐴𝑐𝑖𝑙 𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛 𝑑𝑖 𝑠𝑖𝑛𝑖 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑖𝑠𝑖 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢. 𝑇𝑒𝑛𝑔𝑎ℎ ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑏𝑎𝑟𝑢 𝑝𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔.”
Dada Ratna berdesir mendengar nama ibunya disebut. Namun, ia harus segera kembali. “𝑈𝑙𝑢𝑛 𝑏𝑢𝑙𝑖𝑘 𝑑𝑢𝑙𝑢, 𝐶𝑖𝑙, 𝑑𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢 𝐴𝑏𝑎ℎ 𝑑𝑖 𝑟𝑢𝑚𝑎ℎ .” 11
Setelah kembali bersalaman dan membayar, Ratna bergegas pulang.
Sesampainya di rumah, Ratna langsung bergerak ke dapur untuk menyiapkan makanan. Aromanya yang khas langsung menguar, membangkitkan selera.
“𝐵𝑎ℎ, 𝑚𝑎𝑘𝑎𝑛𝑎𝑛 𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑎𝑝. 𝐴𝑦𝑜, 𝑅𝑎𝑡𝑛𝑎 𝑡𝑒𝑚𝑎𝑛𝑖 𝑚𝑎𝑘𝑎𝑛,” panggil Ratna.
Ratna menuangkan secentong nasi hangat ke piring, lalu menyerahkannya kepada sang ayah lengkap dengan lauk mandai yang baru dibelinya. Hatinya mendadak bergetar hebat saat melihat sang ayah menyuap nasi berlauk kulit cempedak goreng itu dengan begitu lahap. Entah sudah berapa lama pemandangan sehangat ini tidak Ratna saksikan.
“𝑂𝑠𝑒𝑛𝑔 𝑚𝑎𝑛𝑑𝑎𝑖 𝑏𝑖𝑘𝑖𝑛𝑎𝑛 𝐽𝑎𝑛𝑎ℎ 𝑖𝑛𝑖... 𝑟𝑎𝑠𝑎𝑛𝑦𝑎 𝑚𝑖𝑟𝑖𝑝 𝑏𝑎𝑛𝑎𝑟 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑠𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑒𝑚𝑎𝑘 𝑖𝑘𝑎𝑚, 𝑁𝑎, Na,” 12bisik ayahnya tiba-tiba. Suaranya bergetar, dan sepasang mata senjanya tampak mulai digenangi air mata.
Ratna tercekat. Tenggorokannya mendadak terasa tersumbat, dan bayangan almarhumah ibunya seolah menari-nari di pelupuk mata. Kerinduan yang sama ternyata menggelayuti hati mereka berdua.
“𝐴𝑏𝑎ℎ 𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑙𝑒𝑠𝑎𝑖. 𝐼𝑘𝑎𝑚 𝑙𝑎𝑛𝑗𝑢𝑡𝑘𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑘𝑎𝑛𝑛𝑦𝑎, 𝑁𝑎,” ucap sang ayah sembari menyandarkan punggung, berusaha menyembunyikan genangan di matanya.
“𝐼𝑛𝑔𝑔𝑖ℎ, 𝐵𝑎ℎ.”
Tak terasa, hampir seminggu Ratna berada di kampung halaman. Selama itu pula, ia menyadari ada sesuatu yang tidak biasa dari kebiasaan makan ayahnya. Rasa cemas itu akhirnya membawanya kembali mengunjungi rumah Acil Janah di Wonorejo suatu sore.
“𝐶𝑖𝑙, 𝑅𝑎𝑡𝑛𝑎 𝑘ℎ𝑎𝑤𝑎𝑡𝑖𝑟 𝑡𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐴𝑏𝑎ℎ 𝑛𝑎𝑖𝑘 𝑙𝑎𝑔𝑖. 𝐻𝑎𝑚𝑝𝑖𝑟 𝑠𝑒𝑚𝑖𝑛𝑔𝑔𝑢 𝑖𝑛𝑖 𝑠𝑖𝑑𝑖𝑛 𝑠𝑒𝑝𝑒𝑟𝑡𝑖 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑏𝑖𝑠𝑎 𝑙𝑒𝑝𝑎𝑠 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑚𝑎𝑛𝑑𝑎𝑖. 𝑇𝑖𝑎𝑝 ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑚𝑎𝑘𝑎𝑛𝑛𝑦𝑎 𝑖𝑡𝑢 𝑡𝑒𝑟𝑢𝑠,” keluh Ratna, menumpahkan segala kekhawatiran yang mengganjal hatinya.
Acil Janah menghela napas panjang, lalu menatap Ratna dengan tatapan keibuan.
“𝑁𝑎, 𝑎𝑏𝑎ℎ𝑚𝑢 𝑖𝑡𝑢 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑝𝑖𝑎𝑛. 𝑀𝑎𝑛𝑑𝑎𝑖13 𝑖𝑡𝑢 𝑙𝑎𝑢𝑘 𝑘𝑒𝑠𝑢𝑘𝑎𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑚𝑎𝑘𝑚𝑢 𝑠𝑒𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑘 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑙𝑎𝑛𝑗𝑢𝑡 𝑠𝑒𝑘𝑜𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑒 𝐽𝑎𝑤𝑎 𝑑𝑢𝑙𝑢. 𝐾𝑎𝑚𝑢 𝑝𝑎𝑠𝑡𝑖 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑙𝑢𝑝𝑎, 𝑘𝑎𝑛, 𝑘𝑎𝑙𝑎𝑢 𝑎𝑏𝑎ℎ𝑚𝑢 𝑖𝑡𝑢 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑛𝑦𝑎 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑠𝑢𝑘𝑎 𝑚𝑎𝑘𝑎𝑛𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑠𝑖𝑛? 𝑇𝑎𝑝𝑖 𝑠𝑒𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑚𝑎𝑘𝑚𝑢 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙, 𝑑𝑖𝑎 𝑗𝑎𝑑𝑖 𝑠𝑢𝑘𝑎 𝑠𝑒𝑘𝑎𝑙𝑖 𝑚𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑛𝑑𝑎𝑖.”
Mata Ratna seketika mengembun. Kalimat Acil Janah seperti hantaman keras yang menyadarkannya. Benar, ia ingat betul dahulu ayahnya selalu menghindari makanan asin karena riwayat tensi tingginya.
Acil Janah memegang lembut jemari Ratna. “𝑃𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑙𝑎ℎ, 𝑁𝑎. 𝑇𝑒𝑚𝑎𝑛𝑖 𝑚𝑎𝑠𝑎 𝑡𝑢𝑎 𝑎𝑏𝑎ℎ𝑚𝑢. 𝐾𝑎𝑟𝑖𝑒𝑟𝑚𝑢 𝑑𝑖 𝑙𝑢𝑎𝑟 𝑠𝑎𝑛𝑎 𝑚𝑎𝑠𝑖ℎ 𝑏𝑖𝑠𝑎 𝑑𝑖𝑘𝑒𝑗𝑎𝑟, 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑢𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑟𝑔𝑖 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑟𝑛𝑎ℎ 𝑏𝑖𝑠𝑎 𝑘𝑒𝑚𝑏𝑎𝑙𝑖.”
Malam itu, di dalam kamarnya yang dingin, Ratna memantapkan hati. Keputusannya sudah bulat, ia akan mengurus kepindahannya dan kembali menetap di kampung halaman demi menemani sisa usia ayahnya.
Ia tidak rela membiarkan laki-laki yang sangat dicintainya itu menghabiskan hari-hari tua dalam sepi. Hanya berteman sepiring mandai sebagai pengobat rindu pada masa lalu. Rumah ini terlalu sunyi untuk ayahnya berjalan sendiri. Sesunyi hati Ratna sendiri, yang beberapa waktu lalu juga sempat patah dan dipaksa ikhlas, saat melepas orang yang selama ini ia harapkan untuk menua bersama, justru bersanding di pelaminan dengan orang lain.
Kini, fokus hidupnya telah berubah. Di tanah kelahirannya ini, ia akan merajut kembali arti rumah yang sesungguhnya.
Tanah Bumbu, 16 November 2022
Srie Umma Kayshwa
Catatan Kaki
1. “Na, kamu di mana?”
2. “Saya di kamar Yah, sebentar”
3. “Belikan Mandai di tempatnya Bibi Janah, ayah mau makan dengan mandai”
4. “Bibi jannah tinggal di mana sekarang?
5. Dia berjualan di Pasar Ampera, tanya saja warung Bi jana, semuam orang di sana tahu
6. “Iya, yah”
7. “Bi beli Mandai”
8. “Kamu Ratna kah? Ya Allah, kapan datang?”4
9. “Kemarin Bi, Bibi apa kabar?’
10. “Kemarin Bi, Bibi bagaimana kabarnya?”
11. “Bibi sehat , Ratna. Duduk dulu, Bibi siapkan mandainya. Lama sekali kamu tidak pulang”
12. “Oseng Mandai buatan Janah ini...rasanya mirip sekali denagan masakan ibu kamu, Na”
13. Makanan khas Kalimantan Selatan yang berasal dari fermentasi kulit cempedak


0 Komentar