Pijarinspirasi.com-Ada sore yang hanya lewat begitu saja. Ada pula sore yang diam-diam menetap di dalam ingatan. Minggu, 12 Juli 2026, adalah salah satunya.
Sore itu Lapangan Bola Cappa Padang, Batulicin, sedang menunjukkan wajah terbaiknya. Langit tidak sedang biru sempurna. Matahari pun enggan tampil utuh, memilih bersembunyi di balik awan yang bergerak perlahan. Justru karena itu, cahaya yang jatuh terasa begitu lembut. Angin berembus pelan, menggoyangkan rerumputan, seolah ikut mengajak kami memperlambat langkah dan memberi ruang untuk bernapas.
Rasanya seperti semesta sedang berkata, "Hari ini, kalian boleh berhenti sejenak."
Book Meet Up bertajuk "Jeda Juli" kali ini memang berbeda. Biasanya, setiap pertemuan Komunitas "Di Balik Halaman" selalu diisi dengan silent reading, book review dan sesi journaling. Kami menulis apa saja yang sedang memenuhi kepala dan hati, lalu pulang dengan perasaan yang sedikit lebih lega.
Sesi silent reading
Namun kali ini ada kejutan.
Selain silent reading dan berbagi ulasan buku, hadir satu sesi baru bernama "Spill the Poetry".
Kalau dipikir-pikir, apa sih susahnya membacakan puisi sendiri?
Ternyata... olala...memang sesulit itu.
Selama ini saya hanya akrab dengan proses menulis. Menitipkan rasa ke dalam bait demi bait terasa jauh lebih mudah daripada menghidupkannya lewat suara sendiri. Ketika nama dipanggil, mendadak semua keberanian yang tadi dikumpulkan terasa menguap begitu saja.
Puisi yang saya tulis memang tentang kerinduan, dan hal-hal yang selama ini tersimpan cukup rapi. Saat bait pertama keluar dari lisan, rasanya seperti membuka kembali kotak yang sudah lama terkunci unci.
Setiap kata membawa pulang perasaannya masing-masing.
Beberapa kali saya harus menarik napas panjang agar suara tidak berubah sengau karena tangis yang mulai memenuhi dada. Untung masih memakai masker. Jadi air mata yang diam-diam berlomba turun masih bisa disembunyikan. He... he...., masker selalu jadi penolong saat darurat.
Kadang kita memang pandai menyembunyikan luka, tetapi tidak pernah benar-benar bisa menyembunyikan rasa.
Sempat pikir hanya saya yang sedang berperang dengan emosi sendiri sore itu.
Ternyata saya keliru.
Dua peserta lain bahkan tak mampu lagi membendung tangisnya. Isaknya pecah begitu saja setelah puisi selesai saya bacakan. Suasana mendadak sunyi. Tidak ada yang berusaha mencari tahu penyebabnya. Tidak ada pertanyaan, "Memangnya kenapa?" atau "Apa yang terjadi?"
Mungkin karena kami semua paham, tidak setiap air mata meminta penjelasan.
Ada kesedihan yang cukup dihormati dengan kehadiran.
Ada luka yang tidak membutuhkan nasihat.
Yang kami lakukan hanyalah mendekat, lalu memeluk mereka.
Pelukan itu terasa hangat. Lama. Tanpa kalimat-kalimat penghiburan yang sering kali justru terdengar kosong.
Saat itulah saya sadar, kadang pelukan adalah bahasa paling jujur yang dimiliki manusia.
Di situlah saya kembali percaya bahwa buku memang mempertemukan banyak orang. Namun yang membuat mereka bertahan bukan hanya cerita di dalam halaman, melainkan rasa aman yang tumbuh di antara para pembacanya.
Aman untuk bercerita. Aman untuk menangis. Aman untuk terlihat rapuh.
Dan yang paling penting, aman untuk menjadi diri sendiri tanpa takut dihakimi.
Di sela-sela suasana yang begitu emosional, semesta masih menyelipkan kebahagiaan-kebahagiaan kecil.
Saya bertukar buku dengan Kak Aiko. Karena beliau memang penggemar karya J.S. Khairen, saya menghadiahkan novel "Rumah". Sempat berpikir pertukaran itu akan selesai begitu saja. Ternyata beliau justru menyerahkan dua novel dari rak pribadinya.
"Ini saja, aku punya dua yang judulnya sama. Daripada hanya tersimpan di rak, lebih baik untuk Rumah Baca Cahaya Ilmu. Di sana pasti lebih banyak yang membacanya."
Saya sempat terdiam. Rasanya kek terharu sekali, semudah ini ya memberikan "hartanya" kepada orang lain. Karena saya tahu, teman-teman ini selalu menyisihkan seribu dua ribu setiap hari untuk membeli buku-buku impiannya.
Kalau saya punya koleksi lebih dari JS Khairen itu karena memang sulung saya penggemar beratnya. Jadi pas belanja untuk rumah baca sengaja dilebihkan satu untuk dijadikan suprise buat Kak Aiko yang kebetulan punya kesukaan sama dengan sulung.
Pas menerima buku dari Kak Aiko, rasanya seperti sedang diingatkan bahwa kebaikan memang tidak pernah berhitung.
Bersama Kak Aiko
Saya hanya membawa satu buku, tetapi pulang dengan dua buku dan tentunya hati yang penuh syukur.
Bukankah setiap buku memang punya takdirnya sendiri? Ada yang lama menunggu di rak, lalu suatu hari menemukan pembaca yang paling membutuhkannya.
Hadiah dari Kak Aiko
Menjelang senja, langit kembali memainkan warna-warnanya. Matahari masih malu-malu keluar dari balik awan. Cahaya keemasan berpadu dengan semburat abu-abu, menciptakan latar yang nyaris terlalu indah untuk dilewatkan.
"Foto dulu!" Kak Cut, gadis Aceh ini memang selalu suka mengabadikan moment. Tentu saja langsung disambut riuh. Kami tertawa, bergeser mencari posisi terbaik, lalu mengabadikan sore itu. Tidak ada filter yang mampu menandingi keindahan langit hari itu. Alam sedang bermurah hati.
Dikodak Kak Cut, anaknya tidak masuk frame
Kini, setiap kali melihat kembali foto-foto itu, yang teringat bukan hanya langitnya.
Tapi teringat suara puisi yang bergetar.
Pelukan-pelukan yang menguatkan.
Tawa kecil yang muncul setelah tangis reda.
Juga buku-buku yang berpindah tangan, membawa cerita baru menuju rumah yang baru.
Book Meet Up "Jeda Juli" ternyata bukan sekadar agenda membaca buku.
Ia adalah ruang tempat kami belajar bahwa manusia tidak selalu membutuhkan jawaban. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang bersedia duduk di sampingnya, mendengarkan tanpa menghakimi, lalu memeluk ketika kata-kata tak lagi sanggup mewakili isi hati.
Dan mungkin, itulah alasan mengapa Komunitas Di Balik Halaman terasa begitu istimewa.
Karena di balik halaman-halaman buku yang kami baca sore itu, ada hati-hati yang diam-diam sedang saling menyembuhkan.
Ditulis oleh. Sri Purwanti
(Sanitarian, blogger)





20 Komentar
Jeda Juli sepertinya memberi kehangatan dan arti persahabatan.
Momen tukar buku dengan Kak Aiko juga jadi bukti kalau kebaikan itu menular.
Saluuut dengan teman2 yg bisa menulis puisi. Ini salah satu yg aku ga jago . Berasa lamaaaaaa bgt mikirin kata2nya. Dan sayangnya , di antara banyak buku yg aku rutin baca, buku puisi termasuk yg aku kurang sentuh. Mungkin Krn aku sendiri ga bisa paham apa yg ditulis 😔. Soalnya ada kan puisi2 yg rumit diksinya 😅.
Meleleh sangaattt baca reportase ini. Ditulis pakai hati, sampai ke hati
Memang literasi apalagi jenis puisi rentan bikin jiwa mlehoyy ya kak.
Duh 💯🫰😍
Dan begitulah, Mbak. Sebuah puisi itu kuat. Jadi bisa langsung merasuk ke hati pendengarnya. Apalagi Mbak Membacakannya penuh penghayatan. Bisa jadi, isi puisi juga dialami langsung si pendengarnya.
Penasaran dgn puisinya yg bikin kalian sesenggukan nih. Apa ceritanya sedih sehingga bikin menetaskan air mata? Apapun itu, ungkapan hati yg diceritakan dlm narasi puisi sehingga menggugah perasaan yang mendengar, itu sdh merupakan pencapaian. Bs melepaskan pikiran yg sedih sehingga yg mendengar pun bs merasakan.
Menurutku ya, puisi itu bisa jadi salah satu cara kita mengekspresikan perasaan. Entah itu duka, atau mungkin bahagia. Dikemas dalam sastra dengan kosakata yang penuh adiwarna.
Tapi masalahnya, kadang sulit untuk mengeluarkan ekspresi diri, kalau kepala lagi penuh euy. Biasanya hal-hal yang ekspresif macam gini, baru keluar pas saya lagi galau beraaaat banget, heuheuheu.
Aku baca Rumah ini di Gramedia pas jemput dan nungguin anak cekulah (satu gedung ma gramed). Kebetulan ada yang terbuka sampul plastiknya dan boleh dibaca. Tulisannya kecil2 dan challenging buat aku yang udah punya mata plus ini jadi bacanya lambat dan belom selesai wkwk. Belum beli karena masih banyak buku2 timbunan *ups :D
Senengnya bisa tuker2an buku, mana bukunya beranak nih yang dibawa pulang haha :D
Seru banget sih ada perkumpulan kek gini, sama2 penyuka buku, berbagi cerita, bahkan menulis puisi dan membacakannya. Ternyata emang nggak mudah menuangkan cerita dalam puisi, apalagi dengan jujur dan bikin mewek ya.
Tapi seneng ya kalau ramean gitu bisa saling support dan menguatkan :D
Seru banget kegiatan book meet up-nya. Kebayang sih kak baca puisis tulisan sendiri yang mana pasti banyak perasaan kita di puisi itu ya, jadi pasti tumpah deh air mata.. Kegiatan kayak gini yang bis ngasah sisi emosi dan empati kita ya.. Seneng pasti punya teman-teman komunitas juga yang suportif ya.. :)
Dan setiap kata yang terangkai untuk artikel Jeda Juli.
Memang ketika kita membaca kata, selalu melahirkan banyak rasa.
Dari POV yang berbeda, tentu melahirkan makna yang berbeda pula..
Senang ada aktivitas seperti ini.. agar jiwa kita merasakan kembali nikmat dari kekayaan makna kata..
Puisinya sampai bikin menangis pasti isinya mengharukan sekali ya. Mungki ada kesedihan, luka, dan emosi lain yang tertuang di dalamnya.