Sudah seminggu aku menunggunya. Sama seperti Jumat-Jumat sebelumnya, aku memiliki kebiasaan baru, menunggu bocah lelaki berambut jagung yang biasa datang ke rumahku.
Kebiasaan yang sudah berjalan sejak tiga bulan lalu. Biasanya, setiap sore aku mengajar privat, tetapi semuanya berubah sejak bocah berambut jagung itu singgah ke rumahku. Aku sengaja meliburkan diri setiap Jumat sore.
Tiga bulan silam, di tengah rintik hujan, aku mengawasi ketiga putriku bermain dengan gembira, mandi di sisa-sisa hujan yang hampir reda. Wajah polos mereka tampak berbinar karena bahagia.
Ah, kasihan, Nak. Masa kanak-kanak kalian berada di era digital sehingga kalian jarang bermain lumpur, kecuali ketika hujan tiba. Berbeda dengan masa kecil Abi dan Ummi dulu yang akrab dengan lumpur sawah dan batang-batang padi.
Aku menerawang ke masa kecilku.
“Assalamu’alaikum, Acio. Ulun kawa umpat beganti baju? Pakaian ulun basah.”¹
Suara asing itu membawaku kembali ke alam sadar. Aku menatap bocah laki-laki di depanku. Bibirnya tampak membiru karena kedinginan. Serentak, ketiga bidadariku berhenti bermain air.
“Acil...” ulangnya.
Aku tergagap. “Bawa pakaian ganti, kah, Nak?”
“Bawa, Acil. Ulun hendak ganti. Takut disariki Ustaz.”²
Aku mengangguk lalu menunjukkan kamar mandi agar dia bisa mengganti pakaiannya. Sementara itu, putri sulungku segera berlari ke dapur dengan baju yang masih basah. Tak lama kemudian, dia kembali membawa secangkir teh.
“Terima kasih, Acil.”
Aku masih kikuk dan bingung harus berkata apa. Sementara itu, suamiku mengajaknya ke ruang tamu.
“Minumlah, Nak, biar dinginnya berkurang,” kata suamiku sambil mempersilakannya menikmati teh yang dihidangkan Kayla, putri sulungku.
Anak itu meminumnya sambil tertunduk. Mungkin dia malu.
“Dari mana, Nak? Kok bisa basah kuyup seperti ini?” tanyaku.
“Dari masjid, Bulik. Imbah salat Asar, tadi ulun didorong kawan ulun sampai masuk kolam. Akhirnya ulun basah kuyup. Untung pakaian ganti ulun simpan di dekat tempat wudu, jadi tidak ikut basah.”
“Tinggal di mana, Nak?” tanya suamiku.
“Di asrama Abah.”
Aku segera menangkap maksud asrama yang dia sebutkan. Jujur, aku ingin tertawa mendengarnya karena dia memanggilku dengan sebutan Bulik, sementara suamiku dipanggil Abah. Kombinasi Jawa-Banjar, pikirku.
“Bapak dan Mamak sudah meninggal. Jadi, ulun dikirim ke asrama sama Nenek sejak lima tahun silam.”
Cerita itu mengalir begitu saja dari bibirnya.
Ada rasa ngilu yang menghantam dadaku. Lima tahun yang lalu berarti saat bocah ini menjadi yatim piatu, usianya baru tiga tahun. Usia ketika seorang anak seharusnya masih banyak merasakan dekapan dan kasih sayang orang tuanya.
“Terima kasih, Acil, Abah, sudah diizinkan pinjam tempat untuk ganti baju. Terima kasih juga tehnya. Ulun pamit dulu.”
Dia mencium tangan suamiku. Walaupun yatim piatu, ternyata dia anak yang sangat memahami sopan santun, pikirku.
Aku menatap kepergiannya sampai punggung kecil itu menghilang di tikungan.
Sejak saat itu, setiap Jumat sore, bocah berambut jagung itu selalu singgah di rumahku sepulang dari masjid. Bukan tanpa alasan dia memilih Jumat sore. Hari itu merupakan hari liburnya di asrama, saat kawan-kawannya yang lain diizinkan pulang ke rumah.
Dia selalu mengajak Kayla dan kedua adik kembarnya bermain bersama. Kadang-kadang, makanan yang dibawanya dibagi menjadi empat bagian, lalu dinikmati bersama ketiga putriku.
Sejak saat itu pula Kayla mulai rajin menabung uang sakunya. Ketika aku bertanya kenapa uang sakunya selalu utuh, Kayla hanya menjawab,
“Mau dibagi sama Kak Hasan, Mi. Kak Hasan sudah tidak punya orang tua. Tapi kalau dikasih makanan, Kak Hasan selalu berbagi sama Mbak Kayla dan adik kembar.”
Ada rasa haru yang menyeruak ke dalam kalbuku.
Ternyata, anak itu bernama Hasan.
“Sayang, Kak Hasan bukan mahram Mbak Kayla, ya, Mi. Jadi, nanti kalau kami sudah balig, kami tidak boleh main bersama lagi,” kata putri sulungku.
“Kak Hasan tidak punya saudara, lho, Mi. Adiknya meninggal ketika baru lahir. Terus, ibunya juga meninggal waktu melahirkan adiknya. Kasihan Kak Hasan jadi sendirian. Kalau sakit, tidak ada yang merawat.”
Aku tercenung, mencoba mencerna arah pembicaraan putriku. Aku tahu, dia ingin sekali memiliki saudara laki-laki.
Setiap Jumat sore, aku sudah hafal kebiasaan suami dan ketiga putriku. Seusai salat Asar, mereka selalu siaga di depan pintu. Lama-kelamaan, aku pun tertarik ikut dalam kegiatan yang kemudian kusebut sebagai “ritual Jumat”.
Mereka berbagi tugas. Abi mengajari Hasan bahasa Arab, sementara Kayla mengajarinya matematika karena ternyata Hasan agak kesulitan dalam pelajaran berhitung. Kebetulan, mereka berada di tingkat kelas yang sama meskipun bersekolah di tempat yang berbeda.
“Ummi kebagian tugas apa, ya? Hmm... ajari Kak Hasan bahasa Inggris saja, ya, Mi. Jadi, Ummi libur mengajar privat setiap Jumat.”
Si kembar yang baru berusia dua tahun ikut meramaikan suasana.
“Bi, Ummi kok kepikiran ingin mengadopsi Hasan, ya? Kasihan dia, yatim piatu,” kataku kepada suamiku pada suatu malam.
Suamiku terlihat menghela napas sejenak.
“Sebetulnya Abi tidak masalah. Hanya saja, banyak yang harus kita pertimbangkan. Ketiga anak kita perempuan, Hasan laki-laki. Walau bagaimanapun, mereka bukan mahram. Apakah kita bisa mengondisikan semuanya? Ini jelas PR yang tidak mudah.”
Mulai malam itu, aku mengumpulkan informasi mengenai anak adopsi, baik dari sudut pandang Islam maupun hukum, termasuk hak dan kewajiban anak serta orang tua angkat.
Jumat itu terasa berbeda. Kami menikmati penantian yang tanpa kepastian karena Hasan ternyata tidak datang. Anak-anak masih setia menunggu sampai azan Magrib berkumandang. Namun, sosok itu tidak juga muncul.
Malam kami lewati dengan seribu tanya.
Ke mana anak itu pergi? Sehatkah dia? Atau adakah peraturan baru sehingga dia tidak bisa keluar?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalaku.
Sabtu pagi hadir bersama rintik hujan yang tak kunjung reda. Waktunya bersantai, pikirku, karena hari ini Kayla dan abinya libur.
Bude Nasriah, tetangga sebelah, datang tergopoh-gopoh dari pasar. Ternyata beliau membawa berita yang seolah meluluhlantakkan duniaku.
“Ummi, anak yang biasanya ke sini itu ternyata tadi malam meninggal dunia di rumah sakit,” kata Bude.
Nyawaku seakan terlepas dari raga. Tubuhku lemas dan gemetar.
“Sakit apa, Bude?”
“Katanya kena DBD, Mi. Hari ini jenazahnya dibawa ke asrama. Kemungkinan langsung dimakamkan.”
Di bawah rintik hujan, aku menatap pusara yang masih merah. Kenangan bersamanya kembali berputar di kepalaku. Aku mengusap batu nisannya sambil berbisik lirih,
“Beristirahatlah, Nak. Semoga suatu saat nanti kamu bisa berkumpul kembali dengan kedua orang tuamu. Inilah yang terbaik untukmu, untukku, untuk kita. Selama ini aku sudah belajar banyak darimu. Belajar tentang ketegaran, belajar tentang kasih sayang yang tulus.
Selamat jalan, Nak. Hadirmu mungkin tak lagi mewarnai hari-hari kami, tetapi dirimu akan selalu hidup dalam ingatan kami.”
Orang-orang telah beranjak pergi. Tinggallah pusara itu, beku dan membisu.
Tanah Bumbu, 27 Januari 2017
Keterangan istilah:
1. Ulun kawa umpat beganti baju? = Bolehkah saya ikut berganti baju?
2. Takut disariki Ustaz = Takut dimarahi Ustaz.
Acil: Tante

1 Komentar
Salut sama anak-anaknya mbak, didikannya bagus, sehingga senantiasa baik dan senang berbagi kepada sesama. Hampir saja Hasan menjadi kakak, tapi apa daya, jalan lain sudah menantinya.