Pijarinspirasi.com-Sabtu, 13 September kemarin, ada cerita kecil yang cukup berkesan bersama Rumah Baca Cahaya Ilmu. Ceritanya bermula dari ajakan seorang kawan. Beliau mengajak, buka lapak baca dan mengadakan read aloud di dekat rumahnya.
Lokasinya di halaman TK Tunas Harapan, Desa Karang Bintang. Kebetulan, ibu-ibu di sana sedang punya agenda zumba bersama. Sementara para ibu bergerak mengikuti irama, anak-anak diajak mengisi waktu dengan kegiatan yang tidak kalah seru. Anak-anak bisa membaca, mewarnai, dan bermain bersama.
Awalnya saya sempat berpikir karena memang jaraknya lumayan jauh, saya angkut buku pakai motore, belum lagi cuaca sendang kurang bersahabat, hot potato ( panas ngentang-entang/ panas pol) ditambah jelaga banyak beterbangan karena kebakaran lahan.
Selama ini kegiatan Rumah Baca Cahaya Ilmu memang lebih sering berlangsung di basecamp. Karena anak-anak memang suka main dan baca buku di sana. Setelah saya pikir ulang rasanya kok memang perlu penyegaran juga. Sesekali membawa buku keluar, bertemu anak-anak di tempat yang berbeda, melihat wajah-wajah baru, dan tentu saja membawa suasana rumah baca lebih dekat dengan mereka.
Akhirnya, tawaran itu saya terima.
Kami pun menyusun kegiatan sederhana. Ada read aloud, mewarnai, dan lapak baca. Untuk kegiatan mewarnai, saya menyiapkan sketsa dan nanti akan di handle Kak Aiko, karena memang beliau yang jago melukis. Sementara saya akan fokus mendampingi anak-anak dalam sesi read aloud. Sengaja tidak bawa Otan karena agak banyak bawaan jadi lumayan ribet.
Perjalanan dari rumah menuju lokasi kurang lebih memakan waktu 30 menit. Di tengah perjalanan, kami sempat nyasar. Apesnya lagi, listrik sedang padam sehingga jaringan internet ikut menghilang. Mau membuka peta, susah. Mau menghubungi kawan di lokasi, juga tidak mudah. Modal tanya orang di pinggir jalan akhirnya bisa balik ke jalur yang benar.
Untungnya, ternyata kami tidak terlalu jauh dari lokasi. Setelah menemukan jalan yang benar, akhirnya sampai juga di halaman TK Tunas Harapan.
Begitu tiba, suasananya langsung terasa ramai.
Anak-anak sudah berdatangan. Satu per satu mulai mendekat ke lapak. Ada yang langsung memilih buku, ada yang penasaran dengan gambar-gambar yang tersedia, ada pula yang sekadar melihat-lihat dari kejauhan.
Karena perkiraan awal peserta hanya sekitar 30 anak, saya membawa sekitar 40 lembar sketsa. Rasanya jumlah itu sudah cukup. Ternyata, perkiraan memang kadang hanya perkiraan. Fakta di lapangan bisa jadi berbeda he...he...
Karena ternyata...
Jumlahnya sekitar 60 anak.
Saya langsung teringat sketsa yang hanya dibawa 40 lembar.
Waduh.
Tapi ya sudah, namanya juga kegiatan di lapangan. Tidak semuanya harus berjalan persis seperti rencana. Beberapa anak tetap bisa ikut mewarnai, sementara sebagian lainnya memilih bergabung dalam sesi read aloud.
Alasnya pun ternyata tidak cukup karena anak-anak memlih lesehan di tanah daripada duduk di teras, we lah sak bahagiamu Nak.
Meskipun banyak kekurangan di sana-sini, Alhamdulillah, anak-anak ternyata sangat antusias.
Ada yang duduk manis mendengarkan cerita. Ada yang ikut menjawab ketika saya bertanya. Ada yang berebut ingin melihat gambar di dalam buku. Ada pula yang sesekali menyela dengan cerita versinya sendiri.
Justru di situ serunya read aloud. Buku memang menjadi pintu masuk, tetapi setelah pintu itu terbuka, anak-anak membawa kita ke banyak cerita lain.
Di tengah keseruan itu, ada satu kejadian yang cukup membuat saya menahan napas.
Seorang anak datang membawa BESTie kesayangannya.
Bukan boneka. Bukan kucing. Bukan kelinci.
Tapi... iguana.
Iya, iguana.
Awalnya saya masih berusaha santai. Sampai kemudian saya diminta ikut mengajak si iguana bermain.
Dalam hati, "Duh, bagaimana ini?"
Mau menolak, gengsi. Mau sok berani, sebenarnya bulu kuduk sudah berdiri semua.
"Umma pegang saja, dia nggak nakal kok, kada mengigut" (kada mengigut: tidak mengigit maksunya)
Duh, nggak nakal jare, nggak nyokot ni anak nggak ngeh apa muka emak sudah pucet.
Akhirnya saya memberanikan diri mendekat. Pelan-pelan menyapa, sambil tetap menjaga jarak aman versi saya. Anak yang membawa iguana itu justru terlihat begitu santai. Seolah membawa hewan peliharaan biasa saja. Eh malah dia taruh bestinya di lengan umma. Duh piye iki?
"Umma senyum dong biar dia tahu kalau umma sayang"
Bocah ora nggenah pikir saya, orang ketakutan disuruh senyum. Ya sudah memaksa senyum meskipun akhirnya malah meringis, takut tiba-tiba makhluk nerwarna hijau itu nyaplok, kan horor.
dari situ saya jadi berpikir, ternyata dunia anak-anak memang penuh kejutan. Sesuatu yang bagi kita mungkin terasa sedikit horor, bagi mereka bisa menjadi sahabat yang menyenangkan. harus banyak baca refersnsi lagi ini, takutnya besok ada yang bawa ular terus umma disuruh ngasuh, kan tambah ngeri (jadi ingat anak tetangga yang suka main sama ular kecil-kecil).
Acara pun terus berjalan dengan meriah. Anak-anak betah di lapak baca. Bahkan ketika waktu yang direncanakan sudah hampir selesai, masih ada saja yang ingin membaca, mewarnai, atau sekadar duduk bersama.
Awalnya kegiatan dijadwalkan selesai sekitar pukul 09.30. Namun karena anak-anak masih antusias, akhirnya molor sampai sekitar pukul 10.30.
Satu jam tambahan yang rasanya justru menjadi bonus. Pas acara selesai ternyata Bunda Alis dari Kampung Dongeng menyusul. belai datang terlamabat karena harus antre BBM dulu. Sebagaimana "bad news" antrean BBM di Kalsel tidak terkecuali di tanah Bumbu, panjangnya sepan jang jalan kenangan. Bahkan belum adzan subuh pun antrean sudah mengular. Akhirnya kami hanya foto bareng.
Pulang dari sana, rasanya lelah, tetapi hati cukup penuh. Ada rasa senang karena ternyata membawa rumah baca keluar dari basecamp bisa menghadirkan pengalaman yang berbeda.
Kadang kita memang perlu keluar dari rutinitas. Membawa buku ke tempat baru, bertemu anak-anak yang belum pernah kita kenal, lalu membiarkan kegiatan berjalan dengan segala kejutan di dalamnya.
Dari perjalanan yang sempat nyasar, jaringan yang menghilang, jumlah peserta yang jauh di luar perkiraan, sketsa yang ternyata kurang, sampai bertemu BESTie berupa iguana.
Semuanya menjadi bagian dari cerita.
Dan mungkin, inilah salah satu hal menyenangkan dari menjadi pegiat literasi. Kita tidak pernah benar-benar tahu cerita apa yang akan dibawa pulang setelah membuka sebuah lapak baca.
Terima kasih untuk kawan yang sudah mengajak. Terima kasih untuk anak-anak yang sudah datang dan membuat pagi itu begitu ramai. Semoga buku-buku yang kami bawa tidak hanya menemani beberapa jam, tetapi meninggalkan rasa ingin membaca lagi setelah kami pulang.
Sampai bertemu di lapak baca berikutnya.
Semoga next time kita bisa bertemu lagi, dengan cerita yang lebih seru.
Dan siapa tahu... kali berikutnya saya sudah lebih siap bertemu iguana.






3 Komentar
Salut
Ini aktivitas yang organik, saya suka. Bagaimana kehidupan asli di sana tanpa dipulas dibuat Asal Bapak Senang.
Semoga keadaan semakin membaik ya
Iguana nya bisa diajak mengikuti acara dan dijadikan icon tuh. Hehe...
Pas baca 30 menit jarak tempuh, aku sebenarnya mikir kalau di JKT itu dianggab jarak dekat, bukan jauh. Tapi setelah merasakan pergi ke kota2 yg tidak macet, seperti Solo, Sibolga, etc, 30 menit itu memang bisa dikatakan jauh 😄😄.
Bagus juga kalau diadakan di tempat baru ya mba, ibaratnya ganti suasana. Anak2 pun bisa happy karena ada penyegaran baru.
Ga nyangka kalau yg ikut lebih banyak yaa 😄
Uwaaaah kagum dengan si adik. Tp dulu ada tetangga ku yg juga pelihara iguana, dan dari situ aku tahu kalau iguana memang jinak, walau tampang serem.
Tapi kalau ular yg dibawa, itu akupun nyerah 🤣🤣