Bocah Berambut Jagung

Gambar by AI


PijarInspirasi.com-
Dadaku terasa sakit. Aku tidak tahu harus menyebutnya apa, rasa bersalah, sedih, penyesalan, atau mungkin kombinasi dari ketiganya.

Sudah seminggu aku menunggunya. Sama seperti Jumat-Jumat sebelumnya, aku memiliki kebiasaan baru, menunggu bocah lelaki berambut jagung yang biasa datang ke rumahku.

Kebiasaan yang sudah berjalan  sejak tiga bulan lalu. Biasanya, setiap sore aku mengajar privat, tetapi semuanya berubah sejak bocah berambut jagung itu singgah ke rumahku. Aku sengaja meliburkan diri setiap Jumat sore.

Tiga bulan silam, di tengah rintik hujan, aku mengawasi ketiga putriku bermain dengan gembira, mandi di sisa-sisa hujan yang hampir reda. Wajah polos mereka tampak berbinar karena bahagia.

Ah, kasihan, Nak. Masa kanak-kanak kalian berada di era digital sehingga kalian jarang bermain lumpur, kecuali ketika hujan tiba. Berbeda dengan masa kecil Abi dan Ummi dulu yang akrab dengan lumpur sawah dan batang-batang padi.

Aku menerawang ke masa kecilku.

“Assalamu’alaikum, Acio. Ulun kawa umpat beganti baju? Pakaian ulun basah.”¹

Suara asing itu membawaku kembali ke alam sadar. Aku menatap bocah laki-laki di depanku. Bibirnya tampak membiru karena kedinginan. Serentak, ketiga bidadariku berhenti bermain air.

“Acil...” ulangnya.

Aku tergagap. “Bawa pakaian ganti, kah, Nak?”

“Bawa, Acil. Ulun hendak ganti. Takut disariki Ustaz.”²

Aku mengangguk lalu menunjukkan kamar mandi agar dia bisa mengganti pakaiannya. Sementara itu, putri sulungku segera berlari ke dapur dengan baju yang masih basah. Tak lama kemudian, dia kembali membawa secangkir teh.

“Terima kasih, Acil.”

Aku masih kikuk dan bingung harus berkata apa. Sementara itu, suamiku mengajaknya ke ruang tamu.

“Minumlah, Nak, biar dinginnya berkurang,” kata suamiku sambil mempersilakannya menikmati teh yang dihidangkan Kayla, putri sulungku.

Anak itu meminumnya sambil tertunduk. Mungkin dia malu.

“Dari mana, Nak? Kok bisa basah kuyup seperti ini?” tanyaku.

“Dari masjid, Bulik. Imbah salat Asar, tadi ulun didorong kawan ulun sampai masuk kolam. Akhirnya ulun basah kuyup. Untung pakaian ganti ulun simpan di dekat tempat wudu, jadi tidak ikut basah.”

“Tinggal di mana, Nak?” tanya suamiku.

“Di asrama Abah.”

Aku segera menangkap maksud asrama yang dia sebutkan. Jujur, aku ingin tertawa mendengarnya karena dia memanggilku dengan sebutan Bulik, sementara suamiku dipanggil Abah. Kombinasi Jawa-Banjar, pikirku.

“Bapak dan Mamak sudah meninggal. Jadi, ulun dikirim ke asrama sama Nenek sejak lima tahun silam.”

Cerita itu mengalir begitu saja dari bibirnya.

Ada rasa ngilu yang menghantam dadaku. Lima tahun yang lalu berarti saat bocah ini menjadi yatim piatu, usianya baru tiga tahun. Usia ketika seorang anak seharusnya masih banyak merasakan dekapan dan kasih sayang orang tuanya.

“Terima kasih, Acil, Abah, sudah diizinkan pinjam tempat untuk ganti baju. Terima kasih juga tehnya. Ulun pamit dulu.”

Dia mencium tangan suamiku. Walaupun yatim piatu, ternyata dia anak yang sangat memahami sopan santun, pikirku.

Aku menatap kepergiannya sampai punggung kecil itu menghilang di tikungan.

Sejak saat itu, setiap Jumat sore, bocah berambut jagung itu selalu singgah di rumahku sepulang dari masjid. Bukan tanpa alasan dia memilih Jumat sore. Hari itu merupakan hari liburnya di asrama, saat kawan-kawannya yang lain diizinkan pulang ke rumah.

Dia selalu mengajak Kayla dan kedua adik kembarnya bermain bersama. Kadang-kadang, makanan yang dibawanya dibagi menjadi empat bagian, lalu dinikmati bersama ketiga putriku.

Sejak saat itu pula Kayla mulai rajin menabung uang sakunya. Ketika aku bertanya kenapa uang sakunya selalu utuh, Kayla hanya menjawab,

“Mau dibagi sama Kak Hasan, Mi. Kak Hasan sudah tidak punya orang tua. Tapi kalau dikasih makanan, Kak Hasan selalu berbagi sama Mbak Kayla dan adik kembar.”

Ada rasa haru yang menyeruak ke dalam kalbuku.

Ternyata, anak itu bernama Hasan.

“Sayang, Kak Hasan bukan mahram Mbak Kayla, ya, Mi. Jadi, nanti kalau kami sudah balig, kami tidak boleh main bersama lagi,” kata putri sulungku.

“Kak Hasan tidak punya saudara, lho, Mi. Adiknya meninggal ketika baru lahir. Terus, ibunya juga meninggal waktu melahirkan adiknya. Kasihan Kak Hasan jadi sendirian. Kalau sakit, tidak ada yang merawat.”

Aku tercenung, mencoba mencerna arah pembicaraan putriku. Aku tahu, dia ingin sekali memiliki saudara laki-laki.

Setiap Jumat sore, aku sudah hafal kebiasaan suami dan ketiga putriku. Seusai salat Asar, mereka selalu siaga di depan pintu. Lama-kelamaan, aku pun tertarik ikut dalam kegiatan yang kemudian kusebut sebagai “ritual Jumat”.

Mereka berbagi tugas. Abi mengajari Hasan bahasa Arab, sementara Kayla mengajarinya matematika karena ternyata Hasan agak kesulitan dalam pelajaran berhitung. Kebetulan, mereka berada di tingkat kelas yang sama meskipun bersekolah di tempat yang berbeda.

“Ummi kebagian tugas apa, ya? Hmm... ajari Kak Hasan bahasa Inggris saja, ya, Mi. Jadi, Ummi libur mengajar privat setiap Jumat.”

Si kembar yang baru berusia dua tahun ikut meramaikan suasana.

“Bi, Ummi kok kepikiran ingin mengadopsi Hasan, ya? Kasihan dia, yatim piatu,” kataku kepada suamiku pada suatu malam.

Suamiku terlihat menghela napas sejenak.

“Sebetulnya Abi tidak masalah. Hanya saja, banyak yang harus kita pertimbangkan. Ketiga anak kita perempuan, Hasan laki-laki. Walau bagaimanapun, mereka bukan mahram. Apakah kita bisa mengondisikan semuanya? Ini jelas PR yang tidak mudah.”

Mulai malam itu, aku mengumpulkan informasi mengenai anak adopsi, baik dari sudut pandang Islam maupun hukum, termasuk hak dan kewajiban anak serta orang tua angkat.

Jumat itu terasa berbeda. Kami menikmati penantian yang tanpa kepastian karena Hasan ternyata tidak datang. Anak-anak masih setia menunggu sampai azan Magrib berkumandang. Namun, sosok itu tidak juga muncul.

Malam kami lewati dengan seribu tanya.

Ke mana anak itu pergi? Sehatkah dia? Atau adakah peraturan baru sehingga dia tidak bisa keluar?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalaku.

Sabtu pagi hadir bersama rintik hujan yang tak kunjung reda. Waktunya bersantai, pikirku, karena hari ini Kayla dan abinya libur.

Bude Nasriah, tetangga sebelah, datang tergopoh-gopoh dari pasar. Ternyata beliau membawa berita yang seolah meluluhlantakkan duniaku.

“Ummi, anak yang biasanya ke sini itu ternyata tadi malam meninggal dunia di rumah sakit,” kata Bude.

Nyawaku seakan terlepas dari raga. Tubuhku lemas dan gemetar.

“Sakit apa, Bude?”

“Katanya kena DBD, Mi. Hari ini jenazahnya dibawa ke asrama. Kemungkinan langsung dimakamkan.”

Di bawah rintik hujan, aku menatap pusara yang masih merah. Kenangan bersamanya kembali berputar di kepalaku. Aku mengusap batu nisannya sambil berbisik lirih,

“Beristirahatlah, Nak. Semoga suatu saat nanti kamu bisa berkumpul kembali dengan kedua orang tuamu. Inilah yang terbaik untukmu, untukku, untuk kita. Selama ini aku sudah belajar banyak darimu. Belajar tentang ketegaran, belajar tentang kasih sayang yang tulus.

Selamat jalan, Nak. Hadirmu mungkin tak lagi mewarnai hari-hari kami, tetapi dirimu akan selalu hidup dalam ingatan kami.”

Orang-orang telah beranjak pergi. Tinggallah pusara itu, beku dan membisu.

Tanah Bumbu, 27 Januari 2017

Keterangan istilah:

1. Ulun kawa umpat beganti baju? = Bolehkah saya ikut berganti baju?
2. Takut disariki Ustaz = Takut dimarahi Ustaz.
Acil: Tante 

Posting Komentar

22 Komentar

Fajarwalker.com mengatakan…
Sediiiih mbak. Selamat jalan ya hasaaan, akhirnya dirimu bisa berkumpul kenbali bersama kedua orangtuamu.
Salut sama anak-anaknya mbak, didikannya bagus, sehingga senantiasa baik dan senang berbagi kepada sesama. Hampir saja Hasan menjadi kakak, tapi apa daya, jalan lain sudah menantinya.
Mba ini sekedar cerpen fiksi kah? Atau kejadian nyata? Terasa nyeeees banget pas baca. Sedihnya dapet. 😢.membayangkan Hasan kecil tanpa orangtua , tp terlihat sudah sangat mandiri dan sopan santunnya juga baik 😭.

Tp terkadang ada rasa lega juga, pas baca dia meninggal di usia belum baligh. Masih suci ❤️.
dinda mengatakan…
Aku merinding mbak bacanya. Kok aku habis baca lihat anakku langsung mewek.. T_T
Dalam kepalaku, anak sekecil itu harus berjuang untuk hidup sendiri. Belum lagi dia bisa merasakan rasanya masa anak-anak, Tuhan memanggil. Aku yang masih hidup, kayak malu mbak sama anak-anak yang sebatang kara gitu. :(

Semoga ini hanya fiksi mbak. Entah gimana remuknya kalau kisah ini beneran nyata.. T_T
Okti Li mengatakan…
Gak jadi deh sodaraan sama Kayla dan si kembar
Mungkin Tuhan tahu itu makanya jalan terbaik mengambil Hasan dengan tanpa kabar kesakitan nya lebih dulu

Kalau kenyataan di masyarakat kemungkinan akan lain lagi
Tidak banyak orang dan keluarga yang berbaik hati terhadap orang asing walaupun yatim piatu seperti tokoh Aku dan keluarga nya ini
Yuni Bint Saniro mengatakan…
Sedih bacanya. Semoga ini hanya cerita fiksi. Harapanku saat membaca di awal tadi sih, mungkin akan ada jalan untuk mengadopsi Kak Hasan.

Ternyata oh ternyata. Tuhan lebih sayang Kak Hasan. Mungkin kedua orang tuanya sudah rindu sekali sama Kak Hasan.
Asri M Lestari mengatakan…
Mbak ini fiksi atau nyata ya? Sedih baca ceritanya. Kasihan Hasan, tapi itu sudah jalan hidupnya.

Btw kalau Acil itu Tante, Bulik itu apa ya mbak? Kl di Jawa Bulik yang artinya Tante.
Fenni Bungsu mengatakan…
Hasan, bocah unik yang entah gimana komentarnya ini. Ga bisa merangkainya, karena sedih. Mungkin jadi ada kisah yang seperti ini dalam kehidupan nyata seperti Hasan yang mandiri dan tangguh, tapi kehidupan dunia tak bisa ia jalani lebih lama
Tukang jalan jajan mengatakan…
enggak terbayang gimana hancurnya perasaan pas dengar kabar itu. Padahal baru aja mau membuka pintu dan rumah buat Hasan, tapi ternyata Allah punya rencana yang lebih indah buat dia.
Hasan anak yang luar biasa santun dan tangguh ya. Di usianya yang masih sangat muda, dia udah mengajarkan banyak hal tentang ketabahan dan ketulusan berbagi. Pasti berat banget buat keluarga mba, terutama Kayla dan si kembar yang udah terbiasa menunggu "ritual Jumat".Semoga Hasan husnul khatimah dan sudah bahagia berkumpul kembali dengan kedua orang tuanya di surga. Aamiin.
Antung apriana mengatakan…
sedih banget ceritanya, mbak. InsyaAllah Hasan kini sudah berkumpul bersama orang tua dan adiknya yaa. Tapi btw ini fiksi kan ya? Keren nih mbak Sri cerpennya bagus-bagus
Ire Rosana Ullail mengatakan…
Hm, perkara mau adopsi ini juga pernah jadi pembicaraan kami, kalau putri berarti harus berjarak dengan suami dan sebaliknya. Mungkin kalau kami bertemu Hasan di dunia nyata akan terbesit juga untuk mengadopsinya, sayang Allah lebih sayang sama Hasan.
AlineaLala mengatakan…
Ya Allah 🥹😭 nyesek banget endingnya. Ternyata Hasan si anak rambut jagung meninggal dunia. Tapi takjub sama satu keluarga yang dengan berbaik hati menerima Hasan hadir setiap Jumat. Bahkan kepikiran untuk mengadopsi sampai dengan cari banyak informasi daris sisi islami nya.
.mungkin, itu memang takdir terbaik. Seseorang bahkan anak kecil yang hadir pun kasih pembelajaran berharga ya.
Heni Hikmayani Fauzia mengatakan…
Ya Allah Hasaan...belum sempat diambil keputusan apakah diadopsi atau enggak tapi takdir Allah berkata lain. Hasan sudah diambil oleh pemiliknya ke alam baka. Sediih ih ceritanya kaak...🥹
nurul rahma mengatakan…
Hasan, ya Allah keberadaan dan kehadiranmu yg sekejap saja, sudah bisa memberikan begitu banyak rasa, ya. Yang jelas, doa-doa terbaik terlangitkan untuk Hasan.
Jadi ibroh/pelajaran untuk kita semua. MasyaAllah BarokAllah
Ditopuccino mengatakan…
Maunya cerita bahagia eh malah dikasih cerita duka. Ah elaah kak. Mana sodaraku baru di ICU abis tabrakan lagi. Kemarin kondisinya kritis, diminta segera dioperasi krn kena benturan di kepala. Ada cairan masuk di kepala sehingga hrs dioperasi. Mana dia ga ada BPJS lagi.

Smg dia tdk bernasib spt Hasan ya kak. Emg umur ga ada yg tahu. Yg pntg kita udh ngasih sesuatu yg baik ke org lain, khususnga Hasan.
Ariefpokto mengatakan…
Cerita kali ini sedih ya dan memang kisah anak rambut jagung berakhir menyedihkan. itu memang suka bikin hati ngenes karena nasibnya yang tidak pasti dan memang Hasan ini banyak sekali cerita serupa dan itu ada lah bagian kehidupan
Alienda mengatakan…
Lucu deh istilah “berambut jagung” ini ... Ternyata di balik rambut anak yang terlihat berbeda, ada cerita dan keunikan tersendiri. Baca tulisannya jadi ingat kalau setiap anak memang punya ciri khas yang membuat mereka istimewa. Walau teringat lagi jadi sad harus melepas Hasan >.<
Aprillia Ekasari mengatakan…
Duh endingnya menyedihkan, tetapi mungkin Allah lebih sayang sama anak itu ya mbak.
Perkara adopsi emang agak susah ya di Islam tu, soalnya emang aturannya ada supaya menjaga si anak agar nggak terputus nasabnya, nggak kecampur2.
Aku pun kalau ada pilihan adopsi kyknya nggak melakukannya, tapi kalau misalnya membantu biaya dan si anak tetep sama keluarganya baru ok deh.
Eh ya jadi dia berambut jagung karena ortunya mix ada campuran bulenya gitu kah?
Ainun mengatakan…
endingnya bikin hati sedih mbak, bagus jalan ceritanya. Kadang kita nggak tahu ya kalau dalam kehidupan sehari-hari misalnya ketemu orang baru dan dari sana banyak pelajaran atau hikmah yang bisa kita ambil
Bahasa Banjar bikin aku kangen hidup di Kalimantan
Meski apa apa di sana mahal sih ya tetapi memang UMR juga sepadan
Makanya aku kangen banget deh bisa berbahasa Banjar lagi
Bertemu orang orang Jawa dan Bugis di Banjar
lendyagasshi mengatakan…
Inna lillahi wa inna lillahu raji'un.
Aku sedih bacanyaa..tapi sekaligus memikirkan betapa mulianya ketika sudah ada niat baik, namun belum terlaksana.. semoga Allah catatkan pahala baginya.
Barakallahu fiikum.
Dyah Kusuma mengatakan…
Innalillahi wainnailaihi rojiun. Ini kisah nyata atau cerpen ya mbak, aku terhanyut dalam ceritanya. Hasan sosok yang menarik kisah hidupnya sungguh mengharukan dan membuatnya tegar. Salut dengannya, di usia yang sedini itu sudah ta punya ortu dan tinggal di asrama, dimana seusia itu membutuhkan pelukan hangat ortunya
Banyak belajar dari kisah Hasan ini
HazinMaLeo.blogspot.com mengatakan…
ikut terharu dengan penuturan kisahnya karena berakhir dengan kesedihan. ini mengajarkan kepada kita untuk segera menuntaskan niatan yang penuh kebaikan sebelum penyesalan berakhir kemudian.