Generasi Hebat Tanpa Asap


pic by AI

Oleh. Sri Purwanti 
PijarInspirasi.Com- Fase remaja merupakan periode penting dalam siklus hidup manusia, di mana karakter, kebiasaan, nilai moral, serta stabilitas emosinya terbentuk dan memiliki dampak jangka panjang. Dengan kata lain investasi pada remaja berarti memastikan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan. Karena mereka adalah aset yang akan meneruskan tonggak kepemimpinan di negeri ini.

Ketika seorang anak memasuki usia remaja, mereka berada dalam mode penuh energi. Memiliki idealisme tinggi, lebih kritis dalam berpikir dan berpendapat, serta memiliki ketertarikan yang besar pada berbagai hal baik hal yang benar atau sebaliknya. 

Namun balik semua itu, ada fakta yang membuat kita miris. Anak-anak polos yang memiliki energi luar biasa ini banyak yang terjebak dalam pergaulan yang kurang tepat, sehingga tidak jarang mereka berada dalam pusaran asap rokok. 

Seperti dilansir dari kompas (2-6-2025), data Kementerian Kesehatan menunjukkan 75 persen perokok mulai merokok pada usia kurang dari 20 tahun. Sebanyak 23,1 persen di antaranya sudah mulai merokok pada usia 10-14 tahun dan 52,1 persen mulai merokok pada usia 15-19 tahun.

 Lebih parah lagi, usia pertama kali mereka mencoba rokok terus bergeser semakin muda, bahkan sudah ada yang mulai sejak usia sembilan tahun. Fakta ini tentu membuat kita mengelus dada. Mengingat kita sedang bersiap menyambut Indonesia Emas 2045. Bagaimana mau menjadi generasi emas kalau paru-parunya sudah hitam sejak remaja?

Rokok bukan sekadar gaya hidup, tetapi ancaman nyata bagi kualitas generasi penerus. Oleh karena itu, Islam hadir bukan hanya melarang, tapi juga memberi solusi nyata agar remaja bisa lepas dari jerat nikotin. Ini merupakan salah satu ikhtiar melahirkan generasi hebat tanpa asap.

Saat ini merokok di kalangan remaja tidak dianggap sebagai hal aneh dan tabu. Biasanya kebiasaan ini dimulai dari iseng saat nongkrong, lalu menjadi kebiasaan karena "nggak enak kalau nggak ngerokok". Lama-lama nikotin mengambil alih kendali otak, sehingga menimbulkan ketergantungan.

Mirisnya, asap rokok seperti sudah dinormalisasi. Fakta ini bisa kita lihat di berbagai tempat tongkrongan. Pegang rokok (termasuk vape) dianggap simbol kedewasaan, lebih manly, lebih gentle dan keren. Padahal yang terjadi justru sebaliknya, ketika mereka memegang rokok, tanpa disadari mereka menggadaikan masa depannya demi kepulan asap yang hilang dalam hitungan detik.
Pertanyaannya, bagaimana bisa anak-anak polos, bermata jernih bisa terjebak dalam kepulan asap?

Jika kita telisik lebih dalam ada dua faktor utama, baik internal maupun eksternal. Sebagaimana kita tahu remaja sedang berada di fase mencari jati diri. Rasa ingin tahu tinggi, ditambah stres baik karena pelajaran di sekolah atau masalah di rumah membuat rokok terlihat seperti pelarian paling gampang. Usianya yang masih labil dan kontrol diri yang lemah, membuatnya mudah terpengaruh. Awalnya coba-coba, lama-lama kecanduan. Mereka bisa melarikan diri sejenak, bahagia sesaat, melupakan semua masalah yang ada dengan menikmati kepulan asap. 

Kedua, faktor eksternal. Ini yang paling kuat. Tuntutan teman sebaya memiliki dampak yang sangat besar. Adanya rasa takut dibilang cupu atau tidak solider kalau menolak tawaran rokok, membuat mereka mudah sekali terperdaya dalam kenikmatan sesaat. Akses memperolehnya juga terlalu mudah. Meskipun ada aturan, namun fakta di lapangan anak SMP, maupun SMA yang masih berseragam bisa membeli rokok ketengan di warung. Bahkan ada yang berani merokok di lingkungan sekolah, meskipun dilakukan diam-diam. Padahal sekolah adalah kawasan yang seharusnya steril mengingat ada peraturan tertulis yang disepakati bersama sebelum mereka masuk menjadi warga sekolah.

Hilangnya role model, maupun kurangnya keteladanan juga semakin memperparah kebiasaan merokok di kalangan remaja. Susah melarang anak merokok kalau bapaknya, pamannya, atau bahkan gurunya sendiri masih merokok di depan mereka. Ibarat menabur garam ke dalam lautan. Karena mereka memiliki contoh nyata, sehingga menganggap rokok adalah hal yang wajar.

Pembahasan masalah rokok memang masih menjadi pro kontra di tengah masyarakat. Bahkan sudah tahu mudharatnya pun akan dicari dalih yang mendukung kebiasaan mereka. Jika dilihat dari kacamata Islam, semua ini berakar dari sikap lalai terhadap konsep hifzhun nafs, yaitu menjaga jiwa. Padahal menjaga jiwa adalah satu dari lima maqashid syariah tujuan utama syariat Islam. Merokok jelas memasukkan dharar atau bahaya ke dalam tubuh secara sengaja.

Padahal Allah Swt. sudah mengingatkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 195 yang artinya: "Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan." Ulama menjelaskan, ayat ini menjadi dasar larangan semua hal yang merusak tubuh, termasuk rokok.

Kaidah fiqih pun menjelaskan dengan tegas, La dharara wa la dhirar. Artinya, tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain. Rokok melanggar dua-duanya. Selain merusak diri sendiri dan menyakiti orang sekitar dengan menjadikan orang lain perokok pasif.

Satu batang rokok mungkin terasa ringan di tangan. Ia tampak tak berbahaya, seperti teman setia saat bersantai atau pelarian dari stres yang tak berkesudahan. Namun, di balik kepulan asapnya, tersembunyi ancaman nyata, perlahan, diam-diam, dan sering kali mematikan. 


Memang, banyak orang masih meremehkan bahaya merokok hingga tubuh mereka sendiri menunjukkan tanda peringatan. Detak jantung yang mulai tidak teratur, sesak napas tiba-tiba, atau nyeri dada yang tak kunjung hilang. Padahal ini menjadi sinyal awal dari gangguan kesehatan serius yang sering datang tapi terlambat disadari. 

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), merokok membunuh lebih dari 8 juta orang setiap tahun di seluruh dunia. Yang lebih menyedihkan, sekitar 1,3 juta di antaranya bukan perokok aktif, melainkan orang-orang terdekat yang hanya menghirup asapnya di rumah, di tempat kerja, atau bahkan di kendaraan tertutup (perokok pasif).

Ketika kita berbicara tentang rokok, sebenarnya  bukan hanya membahas kebiasaan, tetapi ancaman serius yang dapat merusak hampir setiap organ vital tubuh. Asap rokok membawa lebih dari 7.000 zat kimia berbahaya, termasuk tar, nikotin, dan karbon monoksida yang bekerja perlahan tetapi pasti menghancurkan sistem tubuh dari dalam.

Begitu asap rokok masuk ke paru-paru, proses kerusakan pun dimulai. Tar dan senyawa beracun lainnya melekat pada saluran napas, memicu peradangan kronis yang mempersempit aliran udara.

Risiko kanker paru-paru juga meningkat 15 hingga 30 kali pada perokok aktif dibandingkan mereka yang tidak merokok. Ini merupakan penyebab kematian utama akibat kanker di dunia menurut WHO dan PDPI (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia). 
Merokok juga menjadi penyebab utama Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), termasuk bronkitis kronis dan emfisema. Kondisi ini menyebabkan sesak napas yang progresif dan menurunkan kualitas hidup secara drastis.

Dampak merokok terhadap sistem kardiovaskular sering kali terjadi tanpa gejala awal. Namun, efeknya bisa sangat mematikan.

Racun dalam rokok juga merusak lapisan endotel pembuluh darah, memicu pembentukan plak dan menyumbat arteri. Akibatnya, risiko serangan jantung, stroke, dan penyakit jantung koroner meningkat tajam. 
Menurut Perkumpulan Kardiologi Indonesia (PERKI), merokok meningkatkan risiko penyakit jantung iskemik hingga dua kali lipat.

Selain itu paparan nikotin dan karbon monoksida mempercepat proses penuaan otak, melemahkan daya ingat, serta meningkatkan risiko gangguan kognitif dan demensia dini. Karena otak sangat sensitif terhadap perubahan oksigenasi dan tekanan darah, dua komponen yang terganggu akibat merokok.


Oleh karena itu kita harus menyelamatkan generasi muda dari paparan asap rokok. Agar mereka bisa terjaga kesehatan baik secara fisik dan psikis. Negeri ini memerlukan pemuda-pemuda yang kuat untuk menghadapi tantangan yang ada di depan 

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan agar anak-anak yang sudah terpapar nikotin bisa meninggalkan kebiasaan yang merusak  kesehatan tersebut.

Pertama, latihan menahan diri dengan mengajak mereka puasa sunnah Senin-Kamis. Kalau bisa menahan lapar dan haus seharian, menahan keinginan merokok pasti bisa. Kedua, ganti kebiasaan. Saat tangan anak-anak  gelisah ingin ingin memegang rokok, ganti dengan memegang tasbih sambil berdzikir. Lisan yang biasa menghisap asap, ganti dengan beristighfar. Atau bisa diganti dengan permen atau snack lain untuk mengalihkan.

Ketiga, jaga shalat lima waktu tepat di awal. Allah berjanji dalam QS. Al-Ankabut: 45 bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Rokok termasuk salah satu yang mungkar karena bisa merusak kesehatan.

Perubahan paling cepat terjadi kalau lingkungannya mendukung. Orang tua dan guru harus jadi teladan pertama. Mereka harus berhenti merokok dengan total, minimal jangan pernah merokok di depan anak.  Remaja juga perlu circle yang sehat. Daripada nongkrong di tempat yang penuh asap, lebih baik aktif di remaja masjid, ekskul olahraga, atau komunitas yang tidak menormalisasi rokok sebagai bagian dari gaya hidup. Karena teman yang baik akan menarik ke hal-hal positif, bukan ke dalam lingkaran yang penuh kepulan asap.

 Energi dan uang untuk rokok harus dialihkan.  Remaja perlu sosok panutan dari kalangan berbagai kalangan. Mereka bisa diarahkan juga ke hobi produktif.  Uang jajan yang biasanya untuk membeli rokok bisa dikumpulkan jadi modal jualan kecil-kecilan atau memfasilitasi hobi mereka. Terakhir, niatkan berhenti total karena Allah, sehingga tidak punya alasan untuk kembali bercengkrama dengan nikotin, karena muncul kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi mereka.

Generasi hebat adalah generasi yang paham bahwa tubuh ini amanah dari Allah. Ia harus dijaga, bukan dirusak. Merokok bukan bentuk kedewasaan, tapi bentuk ketidakmampuan mengendalikan hawa nafsu. Bentuk kerapuhan yang disamarkan.

Mari mulai dari diri sendiri. Lalu tularkan ke keluarga dan teman. Ciptakan lingkungan yang sehat tanpa asap rokok. Karena surga itu mahal harganya. Jangan sampai ditukar dengan kenikmatan kepulan asap sesaat. Alihkan perhatian dengan hal-hal positif sehingga tidak tergoda untuk mencicipi kembali kenikmatan sesaat yang bisa membawa dampak negatif jangka panjang. Jaga agar paru-paru tetap sehat, karena paru-paru merupakan organ penting untuk menopang organ tubuh yang lain.

Wallahu a'lam bish-bishawab 


Posting Komentar

20 Komentar

  1. Menjadi Remaja/ Generasi Muda jaman now butuh sikap dan tekad dahsyat
    untuk menghindari hal2 mudharat.
    karena godaan datang dari berbagai penjuru kata angin.
    Termasuk perkara rokok ini.
    makasii sharing nya ya.

    BalasHapus
  2. Ini aku ngalamin sendiri sih mbakkk. Kemaren pas liburan di satu tempat ya, itu bau rokoknyaaaaa luar biasa pekat. padahal tu tempat isinya banyak anak-anak, tapi bapak-bapaknya pada nyantai weh ngerokok, seperti gak peduli dosa.
    makanya aku setuju, perkara role model itu penting dalam memberantas rokok. Kalo orng tua udah ngerokok, sulit untuk meyakinkan anaknya buat tidak merokok juga. Pun begitu juga dengan para petinggi agama, harusnya gak nanggung dalam berantas rokok. ga ada istilah manly karena merokok. Penyakit mah penyakit aja euy.

    Dari batu lanjut ke surabaya
    sepanjang jalannya banyak biri-biri
    Rokok itu tidaklah berbahaya
    Asal asapnya ditelan sendiri

    BalasHapus
  3. Kayaknya untuk mulai dari sendiri itu suatu hal miracle buat yang merokok, karena terciptanya kesadaran itu pastinya sesuatu banget. Perlu disebarkan secara masif hal-hal seperti ji agar kesadaran itu makin terbentuk

    BalasHapus
  4. Aku tuh nggak suka banget asap rokok. Alhamdulillah dapat suami yang tidak merokok. Dari sekarang pun sudah mulai ngobrol sama anak masalah rokok ini. Sudah saya sugesti kalau nantinya jangan sampai merokok, walaupun teman-temannya merokok nggak usah ikut-ikutan.

    Dia pun setuju karena bagi dia asap rokok itu bikin mual. Semoga ngak berubah pikiran. Semoga anak keturunan kita selalu dijaga dari bahaya asap rokok ini ya.

    BalasHapus
  5. dulu itu anak sekolah merokok sembunyi-sembunyi. Tapi sekarang, mereka enteng saja merokok. mirisnya di jam masih sekolah lagi dan masih pakai seragam sekolah. sudah pasti kemunginan besar bolos.
    Pas pus pas pus dengan santainya, padahal rokok belum bisa beli sendiri. Kalau sudah ketagihan, sering SPP pun dipakai bahkan bohong pada orang tua ini itu.
    Merokok tidsk dilarang, termasuk dalam agama. Hanya bagusnya kalau sudah cukup umur, sudah bisa cari uang sendiri. Walau begitu rokok tetap harus dihindari. Tidak hanya merusak kesehatan, tapi juga menguras uang.

    BalasHapus
  6. Aku doain anakku juga ga tergoda dengan teman2nya yg mungkin coba2 merokok. Apalagi papi mereka samasekali ga merokok . JD berharapnya anak2ku bisa menjadikan itu sebagai role modelnya.

    Aku paham remaja itu penasaran nya tinggi. Lah aku aja mantan perokok kok. Alhamdulillah bisa berhenti sejak nikah dan Krn ada alasan khusus juga.

    JD aku paham kalau remaja nyobain hal2 yg mungkin Krn rasa penasaran aja.

    Sebagai orangtua, aku pasti akan kasih tahu, tp ga mau yg saklek ga boleh gitu. Krn dulu aku berani coba2 Krn ortu ngelarangnya sekedar 'ga boleh. Pokoknya ga boleh ngerokok. Awas kamu kalau ketahuan'

    Gitu doang... Kan aku makin pengen tahu 😅.

    Ke anak2 aku ga mau gitu. Aku bakal KSH tahu efeknya apa, terserah mereka akan tetap melakukan atau gimana. Justru anak2 yg dijelaskan baik2 dan detil, akan lebih nurut drpd hanya sekedar Ga Boleh.

    BalasHapus
  7. Bener banget, masa remaja itu mesti beneran di maksimalkan dengan baik jangan sampai rusak gegara asap rokok. Secara data bikin ngelus dada dan miris sih, semoga ya para orangtua dan role mode beneran kasih contoh baik, menjadikan diri mereka dari rokok, sehingga anak-anak terbiasa bebas rokok juga.

    Di pikir-pikir kalau kata aku sih dari pada uangnya buat merokok better di pakai beli makanan ya, lebih enak dan kenyang juga dan nggak merusak tubuh.

    BalasHapus
  8. Sekarang pergeseran nilai sudah banyak terjadi ya kak.. anak sekolah merokok sudah tidak sungkan atau malu lagi. Semoga edukasi generasi tanpa asap rokok ini makin meluas sehingga banyak memberikan kesadaran untuk para remaja (maria tanjung sari)

    BalasHapus
  9. Bener sih ini. Sodaraku skrg yg msh SMP, malah udh bnyk yg merokok. Kelas 1 malahan. Yg pasti, itu krn lingkungan sih, dari teman2nya. Dari teman, mereka kyk kena bully kl ga ikut2an ngerokok. Kyk dikatain bencong lah, ga manly lah, ga jantan lah.

    Dan satu lagi sodaraku yg ga ngerokok malah kena jantung dan paru. Bisa jadi, kata dokter, perokok pasif jg malah lbh bahaya jg. Mknya aku kalo kondangan/hajatan/dtg ke acara2 yg bnyk org ngerokoknya, udh pasti hindarin sih. Krn bahaya jg jd perokok pasif tuh.

    BalasHapus
  10. Iya juga sih ya kak, Fenomena "normalisasi" rokok di kalangan remaja saat ini memang sangat mengkhawatirkan. Miris rasanya melihat aset masa depan bangsa justru menggadaikan kesehatan mereka demi sekadar label "keren" atau pelarian sesaat.
    Pendekatan spiritual dan keteladanan yang ditawarkan sebagai solusi benar-benar relevan. Memang sulit mengharap remaja berhenti jika lingkungan terdekatnya tidak memberikan contoh nyata. Mari wujudkan generasi hebat tanpa asap!

    BalasHapus
  11. Miris banget sih baca data usia anak yang mulai merokok sekarang makin muda. Hiks. Yang bikin sedih memang kebiasaan ini sering dianggap hal biasa di lingkungan sekitar, padahal efek jangka panjangnya serem banget!
    Aku setuju sama poin soal role model juga, karena anak biasanya lebih gampang meniru apa yang mereka lihat sehari-hari dibanding cuma dinasehati. Semoga makin banyak orang tua, guru, dan lingkungan sekitar yang lebih aware buat sama-sama melindungi remaja dari kebiasaan ini. Aamiin.

    BalasHapus
  12. Aku bener bener no comment soal rokok karena orang orang tersayang pada begitu semua
    Ngelarang tuh effort banget
    Syukurlah mereka tuh ngerokok di tempat yang tidak ada orang tapi kan mereka tuh harusnya tahu kalau baunya bisa kemana mana
    Aaah sudahlah rasanya tuh pengen nangis terus kalau minta mereka berhenti

    BalasHapus
  13. Miris ya teh aku cerita di skt tmoat tinggal ku aku ada warung nah depannya itu ada pos ronda
    Awalnya aku gak ngeuh ngapain tuh bocil nongkrong di jam sekolah (9-10)
    Eh ku coba dekatin mereka megang rokok
    Lah bukan iseng aku tanya dalam bahasa sunda naha jang teu sakola naha oge ngaroko didieu seketika mereka kabyurrr
    Bukan usil sih aku berusaha coba bantu ngroko itu rusak
    Kebiasaan yg haruanya tidak bisa ditolerir
    Ini mungkin akan sulit bagi kita memberantas orng toh produksi nya lanjoot terus ya teh
    kita terus share apa yv teteh tulis diatas aemoga ada perubahan
    Ku share ke ade aku yg cowo ah

    BalasHapus
  14. Salah satu alasan mengapa aku suka Ramadan tu karena nggak banyak asap dari perokok dan tukang nge-vape huhu.
    Di Indonesia ini emang lingkungannya kurang bersahabat buat anak2 khususnya, karena banyak orang dewasa kebal-kebul sesuka hatinya, even itu di taman yang banyak bocil, bahkan saat bawa anak sendiri jalan aja orang2 ini merokok. Anaknya akhirnya kena juga. Malah kadang nggak lihat bapak2 aja pelakunya, tapi emaknya juga ngrokok, sedih deh.
    Setuju banget nih mari kita upayakan lingkungan sehat tanpa rokok itu, dimulai dari pilih pasangan hidup yang bukan perokok, sehingga anak2 nggak melihat contoh buruk dari rumahnya. Begitu pula untuk lingkungan pergaulan anak, pilihkan yang pemikirannya minimal sama kek kita, anti rokok.

    BalasHapus
  15. Iya prihatin lihat anak-anak sekolah nongkrong sambil merokok jadi berasa keren banget padahal bahaya anakku kuwanti-wanti jangan sampai merokok..

    BalasHapus
  16. Aku suka penggunaan kata "investasi pada remaja" remaja jadi nggak dipandang sebelah mata tapi punya potensi sekaligus aset untuk masa depan. Memang ya Kak, masa remaja itu punya tantangan tersendiri, terutama banget soal pergaulan, belum punya pendirian, masih suka terbawa arus.

    Nah, di era vape ini, mereka tambah-tambah lagi, merokok karena terlihat keren. elum lagi banyak publik figure atau selebgram yang secar terang-terangan ngevape pas acara atau di konten mereka gitu.

    Peranan orang tua penting banget sih ini, kala perlu kencangkan ikat pinggang saat mereka memasuki usia remaja.

    BalasHapus
  17. qadarullah aku punya suami perokok, mbak makanya nih anakku yang laki-laki dari kecil kukasih tahu jangan coba-coba merokok semoga aja dia nanti nggak jadi perokok

    BalasHapus
  18. Membangun kesadaran akan bahaya rokok memang harus dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga, dengan memberikan keteladanan yang nyata tanpa sekadar teori.

    Saya sangat sependapat bahwa untuk menciptakan generasi hebat, kita perlu memberikan ruang tumbuh yang sehat dan bersih dari polusi asap, sehingga potensi mereka dapat berkembang maksimal tanpa gangguan kesehatan yang tidak perlu.

    Semangat mengedukasi walau susah huhu

    BalasHapus
  19. Intinya yaa.. kalau lagi jatuh cinta sama sesuatu tuuh.. mau dilarang pakai jalur apapun, selalu tertolak.
    Meski uda ada kaitannya sama kesehatan. Pasti jawabannya "Umur, jodoh, dan rejeki itu ada di tangan Allah."
    Huhuhu.. memang ikhtiar terbaik kalo uda begini maah.. doa yaa...
    Semoga Allah buka hatinyaa..

    BalasHapus
  20. Rokok itu gak ada manfaatnya sedikitpun, hanya membuat tubuh jadi sakit. Ancaman kesehatan yang ditimbulkan asap rokok itu bukan hanya untuk si perokok tapi juga orang orang di sekelilingnya para prokok pasif.

    BalasHapus