Aku kerap menata sebuah nama,
Nama yang tak pernah terpanggil oleh lisan,
Namun bergema riuh di dalam dada.
Engkau adalah bayangan yang betah menetap,
Putra kecil yang tak pernah ada dalam dekap.
Aku melihatmu dalam tetes-tetes hujan,
Atau pada tawa anak tetangga di seberang jalan.
Raga kita tak pernah bersentuhan,
Hanya jemariku yang sibuk meraba udara.
Membayangkan betapa hangat kepalamu di bahu,
Atau betapa kuat genggaman kecilmu padaku.
Duniaku memang tak ditakdirkan memilikimu,
Tapi hatiku tak pernah berhenti mencarimu.
Meraba dalam pekatnya malam,
Bercengkrama dengan keheningan,
Karena satu-satunya caraku untuk memelukmu,
adalah dengan melipat tangan dan memejamkan mata.
Sebab hanya di dalam doa,
Kau nyata, hadirmu terasa,
Ada rindu yang tak perlu kehadiran raga untuk menjadi abadi,
Ada kasih yang tidak harus terbalas agar tetap bersemi,
Cukup dengan doa, jarak antara dunia dan angan menjadi tiada.
Cukup dengan doa, sekat-sekat akan terkikis habis.
Bahagiaku sederhana,
Bisa memeluk bayanganmu di tengah keheningan malam,
Bisa bercengkrama dengan wujud yang tak pernah nyata,
Mengabadikan kebersamaan kita lewat tarian jemari,
Memahatnya dengan barisan aksara
Meskipun peluk tak pernah sampai,
Namun rindu akan tetap terpintal rapi.
Kasih akan tetap terajut sempurna.
Bumi Bersujud, 12 April 2026
Ummu Kayshwa

22 Komentar
Lewat do'a teriring
Tiba mengetuk pintu surga
Ku kirim pesan lewat tawa
Sebagai penawar rindu di dada
Ku kirim cinta lewat hujan
Agar basah bumi tempatmu berpijak,
Menyampaikan rasa yang tak lagi berjarak.
bakal menyambut di pintu jannah-NYA
semogaaa bisa kumpul dengan bahagia bareng ya
Sekarang sudah setahun tak lagi bisa memeluk anaknya
Pergi asbab sakit tetapi saya percaya Allah sudah persiapkan agar mereka berdua sudah punya tiket surga kelak
Mereka mungkin saat ini sedih, tetapi aku selalu yakinkan bahwa perjalanan mereka ke surga sudah ada jalan tolnya
Keinget istriku pas baru banget abis lahiran sesar anak. Di ruang tunggu itu ada pasien lain, sebelah-sebelahan juga. Istriku segala iseng basa-basi, "lahiran juga mbak?"
Dijawab, "Ngga mbak, kuret..."
Seketika langsung hening.
Yg menghibur hati, kita yakin anak2 itu pasti surga jaminannya, dan pasti mereka gembira bermain di atas sana ❤️
Tapi ia abadi dalam kenangan kita
tak pernah putus dalam setiap rapalan doa
semoga suatu saat bersua di indahnya surga
Tinggallah sebuah rasa yang menyeruak bernama kerinduan
Begitulah pepatah yang selalu mengarak, di mana ada pertemuan akan diiringi dengan perpisahan.
Semoga di pertemuan kekalnya nanti akan menerbitkan senyuman
Hebatnya, Kak ummu berhasil mengubah rasa kehilangan dan ruang hampa menjadi untaian doa serta aksara yang begitu abadi.
Pasti sangat rindu banget. Peluk virtual, Mbak.
Memang tidak ada duka yang paling dalam, selain orang tua yang kehilangan anaknya
Smg perjuangan kak Srie menempuh garis dia segera terlaksana. Emg ga mudah menemukan rezeki itu. Kita sdh berusaha tapi tetap Tuhan yg akan memberikan jawabannya.
Mgkn ini sbuah ujian yg hrs kita Terima. Tinggal kita memantaskan diri utk bersiap menyambutnya. Atau malah kita tdk akan diberikannya. Tapi tetap menguji kesabaran dgn smua rintangannya.
Mengutip kata dr. Gia.. kalau anak kehilangan Ayah, namanya "Yatim", anak kehilangan Ibu namanya "Piatu... Namun, tidak ada satu kata pun yang bisa menggantikan seorang Ibu yang kehilangan anaknya.
...and it's true.
Tapi janji Allah pasti. Anak-anak suci yang belum punya dosa ini akan menjadi syafaat untuk kedua orangtuanya, kelak.. di surga.
Amiin allahumma amiin.
Udah ovt macem2 alhamdulillah masih dikasi kesempatan memeluk ketika anaknya udah sehat.
Kehilangan karena kematian orang yang disayangi emang nggak bisa dilukiskan, cuma iman aja pegangan buat tetap bertahan sih ya :(
Peluk dari jauh ya mbak