Sepasang mata masih enggan terpejam.
Kuketuk pintu langit dengan jemari doa,
Merayu belas kasih Sang Pemilik Semesta.
Untuk putra-putriku, permata hati,
Semoga keburukan menjauh dan enggan menghampiri.
Baik yang tampak, maupun yang tersembunyi di balik sunyi,
Tetaplah kokoh berjalan di koridor rida Ilahi.
Dunia ini mungkin terlalu riuh dan berjelaga,
Bagi jiwamu yang masih mencari arah dermaga.
Agar tak hanyut dibawa arus yang menderu,
Atau terhempas angin yang tak tentu arah tuju.
Ibu percaya, meski raga penuh keterbatasan,
Doa adalah benteng yang melampaui segala kekuatan.
Melindungi kalian dari fitnah dunia yang fana,
Menjaga marwah agar tetap bercahaya.
Lelah dan kantuk hanyalah harga yang murah,
Demi aliran berkah yang tak boleh patah.
Sebab keselamatanmu adalah detak di nadiku,
Dan kebahagiaanmu adalah napas bagi hidupku.
Jika esok mentari menyapamu dengan hangat,
Ingatlah ada kekuatan yang hadir lewat munajat.
Sujud panjang di keheningan yang paling dalam,
Adalah pelita yang membimbingmu menembus malam.
Andai hatimu gundah dan jiwamu mulai resah,
Kutitipkan pesan lewat angin yang berhembus pasrah:
"Tenanglah, anakku sayang, semua akan baik-baik saja,"
Sebab tanpa kau tahu, semesta sedang mendekapmu dengan doa.
Meskipun raga terpisah jarak dan waktu,
Semoga pesan ibu tetap sampai kepadamu.
Tanah Bumi Bersujud, 8 April 2026
Sri Purwanti

0 Komentar