Oleh. Sri Purwanti
(Founder Rumah Baca Cahaya Ilmu)
PijarInspirasi.Com-Pernahkah kita membayangkan, bagaimana rasanya bekerja satu malam, namun dibayar dengan gaji setara 83, 4 tahun masa kerja? Di dunia nyata, tentu tawaran ini sangat mustahil. Namun, pada sepuluh malam terakhir Ramadan, semua ini nyata adanya. Karena kita akan bertemu dengan Lailatul Qadar, malam yang Allah janjikan dengan berbagai kabar gembira, salah satunya adalah pahala setiap amal akan dilipatgandakan.
Faktanya, tanpa disadari kita bisa melewatkan momen istimewa ini karena hal-hal sepele. Seperti pelari maraton, sepuluh hari terakhir adalah saat di mana energi hampir habis, padahal hadiah utamanya ada di sana. Namun kita justru tergoda hal lain yang sebenarnya tidak begitu urgent.
Begitulah kira-kira gambaran 10 malam terakhir bulan Ramadan. Kebanyakan Muslim sudah pecah fokus antara tetap istikamah mengejar amalan bulan Ramadan atau mempersiapkan Idul Fitri dengan segala keriuhan yang menyertai.
Pada 10 hari terakhir Ramadan seharusnya umat Muslim meningkatkan ibadah demi mendapatkan malam Lailatul Qadar. Namun fakta di lapangan banyak umat Islam, khususnya ibu-ibu yang justru berburu lailatul diskon (midnight sale). Mulai dari pakaian hingga kue lebaran, dan sedihnya fenomena seperti ini selalu berulang setiap tahun.
Menjelang Lebaran, pusat-pusat perbelanjaan selalu mengadakan perang diskon dan potongan harga yang semakin besar ketika malam takbiran tiba. Maka tidak heran jika mendekati Idul Fitri pusat perbelanjaan selalu dipadati pengunjung, sementara pemandangan berbeda justru terlihat di masjid. Jamaah Salat Tarawih justru semakin sepi, shaf semakin maju. Bahkan jamaah yang tadarus pun semakin sepi.
Karena aktivitas sebagian umat Islam sudah berpindah dari masjid ke toko maupun pusat perbelanjaan lainnya
Padahal Lailatul Qadar merupakan malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Meskipun kita tidak tahu secara pasti secara pasti kapan datangnya malam Lailatul Qadar. Namun, Rasulullah saw. Sudah memberikan petunjuk bahwa malam yang mulia itu ada pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan.
Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin demi mendapatkan keistimewaan malam Lailatul Qadar dengan meningkatkan kualitas ibadah puasa serta melakukan amalan sunnah lainnya.
Kita perlu menyadari bahwa diskon di pusat perbelanjaan akan ada lagi di tahun depan, bahkan setiap bulan pun sebenarnya banyak diskon bertebaran. Namun, kesempatan bertemu dengan Lailatul Qadar belum tentu akan terulang. Lalu mengapa kita harus tergiur godaan sesaat yang sebenarnya bisa kita kejar pada bulan lain? Padahal tidak ada yang bisa menjamin napas kita masih berembus hingga Ramadan mendatang. Seandainya Ramadan ini menjadi Ramadan terakhir, alangkah besar kerugian yang kita alami.
Sebenarnya mempersiapkan hari kemenangan memang tidak dilarang, namun jangan sampai "cover" mengalahkan "isi". Mempercantik rumah, membeli pakaian dan aksesoris baru, dan mempercantik penampilan di hari raya bisa jadi merupakan salah satu bentuk syukur, tetapi mempercantik ruhani dengan itikaf, zikir, dan tilawah jauh lebih utama untuk menjemput rida-Nya.
Lalu bagaimana caranya supaya kita tidak terjebak dalam keriuhan duniawi, dalam menyambut Idul Fitri?
Sebenarnya kita bisa menyelesaikan persiapan lebaran lebih awal. Kita bisa mempersiapkan kebutuhan pokok atau pakaian sebelum memasuki bulan Ramadan. Selain menghemat anggaran karena harga barang masih stabil, kita juga bisa lebih fokus meningkatkan ibadah pada sepuluh malam terakhir.
Kita juga bisa memanage waktu dengan lebih baik, kurangi scroll medsos, kurangi hang out, cukup istirahat sehingga malamnya kuat untuk menghidupkan ibadah.
Menjemput Lailatul Qadar memerlukan tekad kuat dan kesungguhan hati. Karena ini adalah investasi jangka panjang yang hasilnya tidak hanya dirasakan di dunia, tapi hingga ke akhirat. Maka sudah selayaknya kita bisa memilih prioritas, menghidupkan malam dengan berbagai macam amalan sunah, meluruskan niat semata-mata untuk menggapai rida Allah. Meramaikan kembali shaf-shaf masjid seperti awal Ramadan. Sehingga momen yang hanya hadir setahun sekali ini benar-benar bisa kita isi dengan hal-hal yang bisa menambah kedekatan kita kepada Sang Pencipta.
Semoga Ramadan kali ini, kita termasuk hamba-hamba yang terpilih untuk mendapatkan "bonus" seribu bulan tersebut. Sebab, kerugian yang nyata adalah ketika Ramadan berlalu, namun nama kita belum tercatat sebagai hamba yang mendapatkan ampunan-Nya.
Wallahu a'lam bish-shawab
.png)
0 Komentar