Rindu Alam yang Benar-Benar Dirindukan




Pijarinspirasi.com-Bagi sebagian orang, rapat triwulanan mungkin identik dengan ruang pertemuan yang dingin, tumpukan berkas, serta presentasi yang berganti dari satu slide ke slide berikutnya. Namun, pengalaman itu tidak berlaku bagi Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan (HAKLI) Kabupaten Tanah Bumbu. Rapat kali ini berlangsung di tempat yang jauh dari kesan formal, yakni Pantai Rindu Alam di Desa Betung, Kecamatan Kusan Hilir.

Begitu tiba, suasana pantai langsung menyambut dengan caranya sendiri. Angin laut bertiup pelan, deretan pohon cemara memberi keteduhan, sementara hamparan pasir putih memanjang di sepanjang bibir pantai. Rasanya, bahkan sebelum rapat dimulai, penat akibat rutinitas pekerjaan sudah lebih dulu menguap.


Sebuah gazebo besar menjadi tempat berlangsungnya pertemuan. Dengan biaya sewa Rp100 ribu untuk sehari penuh, gazebo sederhana itu berubah menjadi ruang diskusi yang nyaman. Tidak ada dinding yang membatasi pandangan, tidak ada suara pendingin ruangan. Yang terdengar justru debur ombak yang datang silih berganti, sesekali diselingi semilir angin yang membuat suasana terasa lebih rileks. Menariknya, suasana santai itu tidak mengurangi keseriusan pembahasan. Justru sebaliknya, setiap gagasan mengalir lebih lepas dan diskusi terasa lebih hidup.

Karena rapat dilaksanakan pada akhir pekan, beberapa anggota memilih mengajak keluarga. Keputusan sederhana itu membuat suasana terasa berbeda. Setelah agenda organisasi selesai, pantai seolah berubah menjadi ruang kebersamaan.

Anak-anak menjadi yang paling bahagia. Mereka berlarian di atas pasir, bermain di tepian pantai, lalu kembali tertawa saat ombak kecil menyentuh kaki mereka. Sementara itu, para orang tua masih berbincang santai, menikmati waktu yang jarang bisa dinikmati di tengah padatnya pekerjaan.



Putri kembar saya pun tak kalah antusias. Sejak turun dari kendaraan, mereka sudah ingin segera bermain di tepi pantai. Sayangnya, rencana bermain air harus ditunda karena Mbak Wawa sedang demam dan perlu beristirahat. Agar semangat mereka tidak hilang, Abi mengajak keduanya bermain pasir di bawah rindangnya pohon cemara. Dari tangan-tangan kecil mereka lahir istana pasir, jalan-jalan kecil, hingga bentuk-bentuk sederhana yang mungkin hanya dimengerti oleh imajinasi anak-anak. Tawa mereka menjadi musik paling indah siang itu. Umminya agak plong berarti mbak sudah mulai membaik. Tapi sayang tidak sempat mendokumentasikan istana pasir buatan mereka.

Di tengah suasana yang menyenangkan, mata saya tanpa sadar mulai memperhatikan kondisi lingkungan dan fasilitas yang tersedia di kawasan wisata ini. Jadi jiwa keponya mulai muncul, akhirnya saya blusukan sebentar sembari menunggu tim datang semua. Ada beberapa hal yang membuat saya mengelus dada. Beberapa fasilitasnya tidak layak pakai.




Padahal, Pantai Rindu Alam memiliki potensi yang luar biasa. Harga tiket masuknya sangat terjangkau, hanya Rp5.000 pada hari kerja dan Rp7.000 saat akhir pekan. Tarif parkir pun masih ramah di kantong, yakni Rp2.000 untuk sepeda motor dan Rp5.000 untuk mobil.



Fasilitas pendukung sebenarnya cukup beragam. Gazebo-gazebo kecil tersedia untuk disewa pengunjung yang ingin bersantai. Ada pula homestay mini bagi wisatawan yang ingin bermalam. Sayangnya, ketika kami datang, homestay tersebut dalam keadaan terkunci tanpa petugas yang berjaga sehingga tidak dapat dimanfaatkan. Musala yang berada di kawasan pantai tampak bersih, meski saat itu sedang digunakan rombongan lain sehingga saya tidak sempat melihat bagian dalamnya.


Beberapa wahana permainan juga sudah mengalami perubahan. Persewaan mobil APV mini yang dulu menjadi favorit anak-anak kini sudah tidak beroperasi. Pengunjung masih dapat menemukan becak mini dan papan lukis sebagai alternatif aktivitas, sedangkan wahana perahu bebek tampak tidak lagi digunakan.




Perhatian saya kemudian tertuju pada fasilitas publik. Sejumlah permainan anak, seperti ayunan, perosotan, dan jungkat-jungkit, terlihat mulai rusak. Kondisi kamar mandi umum dan tempat bilas juga memerlukan perawatan agar lebih nyaman digunakan. Hal-hal seperti ini mungkin tampak sederhana, tetapi sangat menentukan kenyamanan dan keselamatan pengunjung.



Pengamatan dan diskusi kami tentu  bukan dimaksudkan sebagai kritik semata. Justru sebaliknya, saya melihat Pantai Rindu Alam memiliki modal yang sangat besar untuk berkembang menjadi destinasi wisata keluarga yang lebih baik. Keindahan alamnya sudah tersedia. Yang dibutuhkan kini adalah perhatian yang berkelanjutan terhadap fasilitas pendukung agar kualitas lingkungan sejalan dengan pesona alam yang dimiliki.



Menjelang siang, matahari mulai meninggi. Cahaya yang menembus sela-sela daun cemara memantulkan kilau di permukaan laut. Rapat telah selesai, agenda organisasi telah dituntaskan, tetapi rasanya tak seorang pun terburu-buru pulang. Anak-anak masih asyik bermain, sementara orang dewasa menikmati obrolan ringan sebelum akhirnya berkemas. Tentunya kami tidak lupa mengabadikan momen. Sesi ini pasti bikin saya gemes, karena wajah saya hampir tidak pernah muncul di frame, tapi ya sudah lah terima saja nasibnya kang kodak he...he...



Hari itu saya menyadari bahwa sebuah rapat tidak selalu harus berlangsung di balik tembok kantor. Sesekali, alam memberi ruang untuk berpikir lebih jernih, berdiskusi lebih hangat, dan mengingat kembali bahwa pekerjaan yang kami jalani pada akhirnya bermuara pada kualitas hidup masyarakat.

Saya pulang membawa dua hal sekaligus, hasil rapat yang akan ditindaklanjuti dan harapan agar Pantai Rindu Alam terus berbenah. Sebab, tempat seindah ini layak menjadi destinasi yang benar-benar dirindukan, bukan hanya karena panorama alamnya, tetapi juga karena kebersihan, kenyamanan, dan keamanan yang dirasakan setiap pengunjung.

Oleh. Sri Purwanti 
(Sanitarian, Founder Rumah Baca Cahaya Ilmu)

Posting Komentar

19 Komentar

Fajarwalker.com mengatakan…
Begitulah, kiranya apa yang ada di destinasi wisata lokal Indonesia itu berada dalam kondisi yang kurang lebih sama. Punya potensi yang cukup besar, namun tidak mendapatkan dukungan yang layak. Belum lagi, acapkali banyak masyarakatnya justru culas, lebih memikirkan profit jangka pendek ketimbang pertumbuhan jangka panjang. Alhasil, kemajuan pariwisata pun hanya menjadi angan.

Saya harap, cerminan hal seperti ini bisa sepenuhnya disingkirkan dari negeri ini. Suatu saat nanti, ketika kita berkunjung ke pantai-pantai, gunung-gunung, atau wisata apapun itu.. Fasilitasnya senantiasa terawat, dengan biaya masuk yang terjangkau, dan masyarakatnya pun aktif turut serta menjaga sektor pariwisata bersama :)
erykaditya mengatakan…
Sedihnyaaa liat kondisi pantai ini ...saya jug apernah menemukan beberpa tempat publik yang sepertinya perlu revitalisasi...mungkin tempat2 itu pernah hits pada masanya namun dengan berjalannya waktu dan tampak kurangnya inovasi lama2 tempat tersebut ditinggalkan pengunjungnya...
Melihat pantai ini sebenarnya sudah lengkap semua fasiltas yang ada,,perlu rebranding dan tentu renovasi agar masyarakat berkenan kembali datang
Mang Duyeh mengatakan…
JIka di kelola dengan profisonal sepertinya akan lebih terawat dan bertambah lagi fasilitasnya, harga tiket sudah sangat murah tapi sepertinya tidak ngejar ke biaya oeprasional, apalagi untuk menambah fasilitas, tapi jika tiketnya dinaikan resikonya kana menjadi sepi.
tapi sepintas lihat gazebonya bagus, berish dan terawat, semoga kedepannya bertahap akan ada perbaikan.
Aprillia Ekasari mengatakan…
Wih mantul mbak, kalau gazebonya bisa disewa 100 ribu aja tapi bisa seharian, jadi nggak dibatasin waktu yaa. Bisa dibikin acara kek meeting atau bahkan piknik2 sama keluarga, nggak kepanasan :D
Tapi aku penasaran mbak, sewanya pas di tempat atau bisa reservasi online dulu sebelumnya?
Wah samaan kek anak2ku mbak, sukanya main pasir di pantai. Nggak mau balik kalau ketemu pantai, padahal emaknya ndak suka panas2an, lebih suka area pegunungan haha :D
Sayang sekali ya beberapa fasilitas di sana rusak. Mungkin karena biaya perawatannya kurang. Tiketnya apa kurang mahal atau yang ngurusin nggak pinter ngatur keuangan buat pengelolaan pantainya ya?
Atau mungkin jumlah pengunjung berkurang, karena mungkin ada pantai lain yang lebih menarik, jadi pendapatan kurang ya?
Yg jelas sangat disayangkan kalau pantai dengan potensi besar buat hiburan masyarakat gitu kurang terawat ya.
Fenni Bungsu mengatakan…
Yah Kak Srie kenapa pake acara gak masuk pas difoto hehe, padahal itu momen kak.. Momen, tssahhh 😁

Tempatnya mah bikin happy ya buat acara dengan peserta yang banyak. Gak sumpek, luas, dan deket pantai juga. Walau memang bila kondisi sekitarnya dirawat dengan penuh perhatian, tentunya bisa manggil banyak pengunjung lagi sih.
Yuni Bint Saniro mengatakan…
Rapat organisasi di pantai begitu emang asyik sih, Kak. Berasa ide tuh kayak lancar mengalir dalam diskusi kayaknya.

Sayang banget ya fasilitasnya nggak dijaga. Padahal kayaknya emang potensial banget tuh jadi tempat wisata untuk keluarga.
Tukang jalan jajan mengatakan…
Konsep rapat outdoor di pantai kaya gini emang paling pas buat ngilangin penat, apalagi diselingi hembusan angin laut dan cemara. Setuju banget, fasilitas publik kaya toilet dan mainan anak emang krusial banget buat dijaga biar pengunjung makin betah dan aman.
Btw, syukurlah Mbak Wawa udah mendingan ya. Walau istana pasirnya nggak sempat difoto dan nasib "si fotografer" emang sering nggak masuk frame, yang penting momen kebersamaannya dapet banget. Semoga Pantai Rindu Alam makin dibenahi biar makin bikin rindu!
Uwaaah gazebonya bisa disewa 100 RB seharian, besar pula yaaa. Memang sesuai kalau utk tempat kumpul dan diskusi mba 👍👍.

Sukaaa melihat tempatnya di tepi laut begini. Walaupun setelah dieksplor, banyak fasilitas yang kurang terawat yaa 😔. Terkadang sedih sih, tiap jalan ke banyak kota Indonesia, adaaa aja tempat2 wisata terbengkalai. Kamar mandilah yg jorok. Padahal ini salah satu fasilitas yg menjadi penilaian utama turis mau balik lagi. Kalau jorok, ya cukup sekali.

Padahal kalau suatu tempat wisata terawat, fasilitasnya bersih, yg menikmati warga sekitar juga..

Semoga aja, Pemda nya juga tergerak utk membaiki tempat2 wisata begini
AlineaLala mengatakan…
Sedih memang kalau melihat destinasi wisata di Indonesia, apalagi yang beraroma pantai. Banyak yang abai sama perawatan fasilitas. Permainan anak yang mulai rusak, apalagi kamar mandi yang kurang bersih. Duh, bikin momen explore jadi berasa kurang padahal secara panorama alam, indah betul.

Mudah-mudahan Pantai Rindu Alam di Desa Betung, Kecamatan Kusan Hilir kedepannya bersolek lebih bagus dan rapi secara fasilitasnya. Lebih bersih, aman, dan nyaman buat seluruh wisatawan.

Wah, sama kayak saya pas 2025 mbak, jadi kang foto dan video nggak pernah inframe pokoknya hehe.
nurul rahma mengatakan…
Sebeenernya potensial bangeettt ya destinasi ini.
Assoy geboy untuk gathering, baik ama komunitas, rekan kerja ataupun keluarga.
Hanya sajaaa, tetap dibutuhkan kerjasama dan kolaborasi berbagai pihak, supaya bikin makin OK, bersih dan nyaman.
Bambang Irwanto mengatakan…
Ini pilihan tempat yang keren benar. Apalagi bisa sekalian ajak keluarga. Misalnya emak rapat, anak-anak bisa bermain di pantai diawasi paksu. Dijamin ga ada suasana rapat, adanya suasana gembira. Tiket masuknya juga sangat terjangkau. 7 ribu wiken dan 5 ribu hari biasa. Semua happy...
Ariefpokto mengatakan…
Sayang sekali pemeliharaan sarana dan fasilitas di Pantai Rindu Alam kurang baik ya, padahal dengan potensinya bisa jadi pantai nyaman andalan masyarakat. Apalagi tiket masuknya murah, hiburan rakyat banget hingga bisa diakses berbagai kalangan. Semoga ke depannya lebih membaik
Okti Li mengatakan…
Paling respek sama perusahaan atau pemberi kerja yang saat mengadakan outing melibatkan keluarga pekerja dalam arti keluarga boleh dibawa serta untuk jalan jalan dan bertamasya bersama.
Saya yakin perusahaan seperti itu pekerja nya juga akan lebih solid, bertanggung jawab dan saling menjaga
Kekeluargaan dalam sebuah perusahaan ibarat kedekatan antara anggota keluarga kan ya...
Kompak dan saling menjaga kunci keberhasilan projek kedepannya
Ditopuccino mengatakan…
Nah rapat tuh seharusnya di tempat kyk gini. Ga kaku dan terkesan bertele2 bikin mumet. Ga bikin tegang krn yang diomongin lbh fleksibel. Udh kebayang pgn nyebur ke pantai aja tuh jadinya. Hehe.

Tp tetap fokus ya mbak meski rapat di pinggir pantai gini. Takutnya krn hawanya liburan, rapatnya malah buyar dlm pikiran.

Pokoknya biar tetap kompak dan ga ngabisin anggaran, gaskeeun kak.
Dewi Rieka mengatakan…
Menyenangkan sekali sih rapat tapi vibenya piknik banget jadi lebih segar perasaan dan guyub yaa kalau jalan-jalan begini.. pantai Rindu Alam cantik sekali dan bersih ahh Tanah Bumbu indah yaa..
Antung apriana mengatakan…
mbak pantai rindu alam ini kemananya pantai jo cemara? Aku pas liburan kemarin ke sana sama keluargaku. Sayang banget ya pantainya jadi kurang terurus padahal tanah bumbu ini sepanjang jalannya aja sudah pantai ya jadi warganya mau ke pantai nggak perlu jauh-jauh lagi.
Asri M Lestari mengatakan…
Rapat seperti ini menarik nih. Selain bisa sekalian refreshing, juga lebih hemat anggaran nggak sih? Terus bisa quality time bareng keluarga juga. Anak-anak bisa berkenalan dengan anak-anak lain juga. Seru sih. Sayang fasilitas pantainya kurang terawat ya. Padahal potensinya bagus.
Dee_Arif mengatakan…
Sebenarnya, tempatnya asik ya
Kalau dirawat dan diperbaiki fasilitasnya, pasti bisa jadi tempat wisata andalan banyak orang
Alienda mengatakan…
Sedih dan syahdu huhuhu.. sedihnya kek jadi kultur orangnya gitu yang ga bisa jaga potensi keindahan alam negeri sendiri..syahdunya ya tetep masih kita cari pesona alam yang gak cuma buat kita tenang buat healing tapi bikin kita happy