Seni Menaklukkan Alis

Foto bareng setelah acara dengan all peserta

Pijarinspirasi.com-Ini Tulisan yang sudah lama sekali ditiriskan di draf sampai hampir gosong, tapi mau dibuang kok sayang, nanti tidak punya kenang-kenangan he...he... jadi ya sudahlah post saja.

Jujur saja, saya datang ke acara ini bukan karena hobi dandan. Tapi gara-gara "terprovokasi" salah satu anak magang di RS yang memang suka merias wajah. Rencananya kami datang bareng, tapi mendadak MbaCika berhalangan hadir. Mau batal rasanya sayang, akhirnya saya nekat datang sendirian.

Awalnya tentu saja canggung. Saya celingak-celinguk mencari wajah yang dikenal, tapi nihil. Untung modal SKSD masih cukup ampuh. Sedikit demi sedikit mulai ngobrol dengan peserta lain, saling kenalan, lalu suasana yang tadinya kikuk berubah jadi hangat. Ternyata masuk ke lingkungan baru tidak seseram yang dibayangkan.

Kalau mendengar kata make up, yang langsung muncul di kepala saya adalah pensil alis, bedak, lipstik, foundation, kuas dengan berbagai ukuran, dan entah berapa banyak lagi "bala kurawa" perlengkapan yang bahkan namanya saja saya belum hafal. Rasanya dunia make up itu memang punya bahasanya sendiri. Ya sebelas dua belas dengan dunia pertyanian, dan persampahan cs.

Acara Make Up Class bersama Ayu Badai yang digelar di Rei Beach Cafe, Batulicin, pada tangggal 10 Mei yang lalu, pesertanya cukup banyak ya, ada 32 orang dari Tanah Bumbu dan Kotabaru. latar belakang pun macam-macam mulai dari yang sudah terbiasa berdandan sampai yang benar-benar pemula seperti saya. Suasananya santai, penuh tawa, tapi tetap serius saat materi dimulai.

Sesi materi

Ayu Badai membawakan materi mulai dari pengenalan alat, memilih produk sesuai kebutuhan, menentukan shade yang cocok, teknik membuat complexion, blending eyeshadow, memasang bulu mata, hingga membuat alis agar terlihat proporsional. Menurutnya, riasan yang bagus bukan ditentukan oleh mahal atau banyaknya produk yang dipakai, melainkan teknik dan ketelatenan saat mengaplikasikannya.

"Materi yang saya bagikan meliputi pengenalan alat, teknik blending eyeshadow, pasang bulu mata, hingga cara bikin alis yang proporsional. Tujuannya supaya hasil akhir tampak flawless dan tahan lama sesuai tren masa kini," kata kak Ayu.

Nah, bagian yang paling membuat saya berkeringat dingin tentu saja saat menggambar alis. Baru satu sisi selesai, sisi satunya sudah berbeda bentuk. Besar sebelah. Itu baru alis, belum masuk ke mata, bibir, dan tahap akhir. Dalam hati saya cuma bisa bergumam, "Ya Allah... ribet juga, ya."

Untungnya Kak Ayu membimbing peserta dengan sabar. Kesalahan demi kesalahan dibetulkan pelan-pelan. Memang hasil saya masih jauh dari kata sempurna, tapi setidaknya sekarang sudah paham dasar-dasarnya. Ternyata membuat alis memang butuh latihan, bukan sulap.

Di sela-sela praktik saya sempat bercanda dengan teman baru dari Kotabaru. Saya bilang, jujur saja saya lebih memilih memegang mesin cultivator untuk menggemburkan tanah daripada memegang kuas alis. Menurut saya, cultivator jauh lebih mudah. Sekali jalan, tanah langsung gembur. Sementara pensil alis dicoba berkali-kali, hasilnya tetap saja mirip alis Sinchan. Kami pun sama-sama tertawa.

Teman saya kemudian menimpali, "Itu cuma karena belum terbiasa. Sering dicoba saja, nanti juga bisa."

Kalimat sederhana itu ternyata masuk akal. Semua memang soal kebiasaan. Kak Ayu juga mengingatkan hal yang sama. Menurutnya, banyak pemula masih bingung fungsi alat atau memakai produk terlalu banyak. Padahal kunci make up yang baik justru ada pada detail, kerapian, dan jam terbang.

Menjelang sore, wajah kami akhirnya selesai dirias. Perlu waktu tiga jam hanya untuk memakai semua alat tempur yang ada di meja. Lama juga ya, kami mulai 13.00 selesai 16.10. Ini kalau mengemudikan cultivator sudah selesai pekerjaan, tapi ternyata dandan dengan hasil ala-ala memerlukan waktu lebih lama.

Bersama talent dan narsum

Tapi jujur, saya sendiri agak pangling setelah melihat hasilnya. Biasanya sehari-hari paling mentok hanya memakai sunscreen dan lip balm. Hari itu hampir semua perlengkapan make up di depan saya ikut dicoba. Awalnya terasa aneh melihat wajah sendiri, tetapi setelah beberapa kali bercermin, saya harus mengakui hasilnya membuat wajah tampak lebih segar.

Kegiatan seperti ini memang bukan sekadar belajar berdandan. Ada rasa percaya diri yang ikut tumbuh ketika berhasil mencoba sesuatu yang sebelumnya terasa sulit. Tidak heran jika banyak peserta berharap ilmu yang didapat bisa menjadi bekal untuk terus mengasah kemampuan, bahkan mungkin merintis karier sebagai make up artist suatu hari nanti.

Kalau ditanya apakah setelah ini saya akan rajin menggambar alis setiap hari? Sepertinya belum juga. Untuk urusan pekerjaan, saya tetap lebih nyaman menjadi "driver" cultivator. Rasanya masih jauh lebih gampang mengolah tanah daripada menaklukkan sepasang alis.

Bersama teman satu meja

Tapi setidaknya sekarang saya tahu, di balik sepasang alis yang tampak rapi itu ternyata ada kesabaran, latihan, dan tangan-tangan terampil yang tidak sesederhana kelihatannya. Dan siapa tahu, suatu hari nanti alis saya tidak lagi mirip Sinchan. Bonus dari acara ini selain dapat kawan baru, kami juga diberi piagam, sebenarnya malu wong alisnya saja seperti alis Sinchan kok diberi piagam. Tapi mungkin karena ini kelas berbayar (kami bayar 300k)jadi semua peserta mendapatkan oleh-oleh piagam dan spons. Ya sudahlah, hitung-hitung tanda jejak pernah ngalis meskipun belepotan. Btw saya tidak pakai softlens dan bulu mata palsu, pakai punya sendiri saja, he...he...he...

Kalau ditanya apakah sekarang saya menerapkan semua ilmu yang saya pelajari beberapa bulan lalu? oh tentu tidak, balik ke habbits awal, sunscreen, lip balm, hand body, sudah cukup. Bahkan istilah dan nama-namanya pun harus lihat catatan dulu he...he...tapi suatu hari nanti pasti akan saya buka lagi, entah untuk dipakai sendiri, entah dibagikan kepada yang lain. Karena konon katanya, ilmu yang dibagikan itu akan semakin bertambah.

Posting Komentar

0 Komentar