Ceritanya begini, 𝐵𝑎𝑏𝑦 𝐵𝑒𝑎𝑟 panggilan kesayangan putri sulung saya, sekarang lagi sibuk-sibuknya PKL (Praktik Kerja Lapangan) di salah satu stasiun televisi di Jawa Timur. Kemarin dia sempat kirim foto bareng teman-teman sekelompoknya di tempat PKL. Namanya juga ibu-ibu, ya, pasti ℎ𝑎𝑝𝑝𝑦 banget lihat putrinya mau kirim foto dan pakai baju selain seragam sekolah dan asrama he..he.... . Setelah dapat izin untuk post foto mereka, tanpa pikir panjang, langsung foto itu saya 𝑢𝑝 ke IG Story.
Tapi pas saya perhatikan lagi fotonya, kok mereka duduknya agak renggang-renggang? Jaraknya itu lho, langsung bikin saya teringat momen Covid-19 dulu. Spontan saya ketik 𝑐𝑎𝑝𝑡𝑖𝑜𝑛 “𝑆𝑒𝑚𝑎𝑛𝑔𝑎𝑡 𝐾𝑖𝑑𝑑𝑜𝑠 (𝑠𝑎𝑚𝑏𝑖𝑙 𝑚𝑒𝑛-𝑡𝑎𝑔 𝑎𝑘𝑢𝑛 𝐼𝐺 𝑚𝑒𝑟𝑒𝑘𝑎), 𝑏𝑒𝑠𝑜𝑘 𝑙𝑖𝑏𝑢𝑟. 𝐵𝑡𝑤 𝐶𝑜𝑣𝑖𝑑 𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑢𝑠𝑎𝑖 𝑘𝑜𝑘 𝑚𝑎𝑠𝑖ℎ 𝑝ℎ𝑦𝑠𝑖𝑐𝑎𝑙 𝑑𝑖𝑠𝑡𝑎𝑛𝑐𝑖𝑛𝑔 𝑦𝑎?” tidak lupa pakai emotikon ketawa.
Gak lama setelah 𝑠𝑡𝑜𝑟𝑦 story itu naik, Mbak Bia langsung membalas. “ 𝑆𝑒𝑘𝑎𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑧𝑎𝑚𝑎𝑛𝑛𝑦𝑎 𝑚𝑜𝑜𝑑𝑦 𝑣𝑖𝑟𝑢𝑠 𝑢𝑚𝑖.. 𝑚𝑎𝑘𝑎𝑛𝑦𝑎 𝑝ℎ𝑦𝑠𝑖𝑐𝑎𝑙 𝑑𝑖𝑠𝑡𝑎𝑛𝑐𝑖𝑛𝑔 ….”
Padahal sebenarnya 𝑐𝑎𝑝𝑡𝑖𝑜𝑛 saya itu cuma bercanda. Dari awal saya sudah tahu kalau posisi duduk mereka memang diatur begitu karena masing-masing punya tugas sendiri. Ada yang kebagian 𝑠𝑒𝑡 𝑢𝑝 kamera, ada yang harus mantau monitor saat program 𝑙𝑖𝑣𝑒 dan lain-lain.
Tapi komentar Mbak Bia sukses bikin saya tertawa. Saya jawab saja kalau istilah yang dia pakai bisa jadi inspirasi buat bahan tulisan. Dari situlah saya mulai 𝑠𝑒𝑎𝑟𝑐ℎ𝑖𝑛𝑔 tentang 𝑀𝑜𝑜𝑑𝑦 𝑉𝑖𝑟𝑢𝑠 di mesin pencarian.
Sebagai seorang ibu yang punya anak remaja, dan kebetulan kami sekarang tinggal berjauhan karena si sulung ini sekolah 𝑏𝑜𝑎𝑟𝑑𝑖𝑛𝑔 (asrama), mendengar istilah itu rasanya 𝑗𝑙𝑒𝑏 banget. Ini memang bukan virus betulan yang bikin demam atau batuk sampai harus diobati pakai parasetamol. Tapi kalau dipikir-pikir, dampaknya ke suasana tempat tinggal si 𝐵𝑎𝑏𝑦 𝐵𝑒𝑎𝑟 walah, bisa bikin seasrama ikut "meriang".
Jadi, mumpung ingatan masih segar dan twins lagi anteng, saya mau coba numpahin coretan santai di sini. Anggap saja ini obrolan hati ke hati sesama orang tua, atau mungkin buat kalian para remaja yang gak sengaja mampir membaca.
𝗠𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗺𝗶 𝗔𝗽𝗮 𝗜𝘁𝘂 𝗠𝗼𝗼𝗱𝘆 𝗩𝗶𝗿𝘂𝘀 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗥𝗲𝗺𝗮𝗷𝗮
Kalau kita bicara soal 𝑚𝑜𝑜𝑑𝑦 , sebenarnya kita lagi bicara soal perubahan suasana hati yang cepatnya melebihi kecepatan kilat. Menit ini si kakak bisa ketawa ketiwi lihat video di laptopnya, eh, lima menit kemudian pas ditanya, " 𝐾𝑎𝑘, 𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑚𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚?" jawabannya bisa ketus banget sampai bikin elus dada.
Anak-anak zaman sekarang secara kreatif menyebutnya 𝑀𝑜𝑜𝑑𝑦 𝑉𝑖𝑟𝑢𝑠 karena sifatnya yang mirip virus, cepat menular, gak kelihatan bentuknya, tapi bisa melumpuhkan suasana.
Pas mereka PKL atau beraktivitas di luar, virus ini sering banget kambuh. Bayangkan saja, mereka harus beradaptasi dengan lingkungan kerja orang dewasa, tekanan tugas, plus lelah fisik. Begitu 𝑚𝑜𝑜𝑑 nya jungkir balik, mereka otomatis pasang mode𝑝ℎ𝑦𝑠𝑖𝑐𝑎𝑙 𝑑𝑖𝑠𝑡𝑎𝑛𝑐𝑖𝑛𝑔 alias jaga jarak. Bukan karena sombong, tapi kata putri saya, " 𝐷𝑎𝑟𝑖𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑑𝑖𝑠𝑒𝑛𝑔𝑔𝑜𝑙 𝑑𝑖𝑘𝑖𝑡 𝑙𝑎𝑛𝑔𝑠𝑢𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑙𝑒𝑑𝑎𝑘, 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑢ℎ 𝑑𝑢𝑙𝑢, 𝑀𝑖. 𝑙𝑒𝑏𝑖ℎ 𝑎𝑚𝑎𝑛, 𝑗𝑎𝑑𝑖 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑏𝑒𝑟𝑝𝑜𝑡𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑚𝑒𝑛𝑦𝑎𝑘𝑖𝑡𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑎𝑠𝑎𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑤𝑎𝑛 𝑙𝑎𝑖𝑛 𝑗𝑢𝑔𝑎"
Secara psikologis, ini sebenarnya fase transisi. Remaja itu berada di jembatan penyeberangan antara dunia anak-anak yang serba dilayani dan dunia dewasa yang penuh tanggung jawab. Di atas jembatan itu, anginnya kencang sekali. Mereka bingung, lelah, dan kadang belum punya kosakata yang pas untuk mengungkapkan rasa frustrasinya. Alhasil, yang keluar adalah sikap diam, mengurung diri di kamar, atau wajah cemberut yang ditekuk runcing.
𝗞𝗲𝗻𝗮𝗽𝗮 𝗦𝗶𝗵 𝗥𝗲𝗺𝗮𝗷𝗮 𝗚𝗮𝗺𝗽𝗮𝗻𝗴 𝗕𝗮𝗻𝗴𝗲𝘁 "𝗧𝗲𝗿𝗶𝗻𝗳𝗲𝗸𝘀𝗶"?
Sebagai ibu, saya gak mau langsung menghakimi, tapi harus harus cari tahu dulu virus ini datangnya dari mana. Dari membaca beberapa referensi dan hasil diskusi dengan teman-teman di tempat aktivitas saya, ada beberapa penyebab utamanya:
1. Perang Hormon di Dalam Tubuh
Ini yang sering kita lupakan. Secara biologis, anak remaja itu badannya lagi jadi medan perang hormon (estrogen, progesteron, testosteron). Hormon-hormon ini sedang bergejolak untuk mendewasakan fisik mereka. Efek sampingnya? Ya ke emosi. Jadi kalau mereka tiba-tiba nangis tanpa alasan jelas, atau mendadak sensitif, itu sebagian besar karena sinyal di otaknya memang lagi agak korslet karena hormon.
2. Kelelahan Fisik dan Mental
Anak PKL zaman sekarang tugasnya gak main-main. Belum lagi tekanan di media sosial, ujian sekolah, tugas dari pondok yang menumpuk, dan tuntutan untuk selalu terlihat "baik-baik saja". Ketika energi fisik mereka terkuras habis, benteng pertahanan emosinya runtuh. Di titik inilah si virus moody mengambil alih.
3. Belum Matangnya Regulasi Emosi
Anak remaja belum punya pengalaman hidup sepanjang kita orang tuanya. Mereka belum lihai mengelola stres. Kalau orang dewasa stres, mungkin pelariannya minum kopi atau 𝑑𝑒𝑒𝑝 𝑡𝑎𝑙𝑘. Kalau remaja, kadang mereka sendiri bingung kenapa dadanya terasa sesak, akhirnya pelariannya ya ke perubahan 𝑚𝑜𝑜𝑑 yang drastis itu.
𝑴𝒆𝒎𝒂𝒏𝒅𝒂𝒏𝒈 "𝑽𝒊𝒓𝒖𝒔 𝑴𝒐𝒐𝒅𝒚" 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝑲𝒂𝒄𝒂𝒎𝒂𝒕𝒂 𝑰𝒔𝒍𝒂𝒎
Nah, sebagai keluarga muslim, saya selalu mencoba mengembalikan segala urusan ke tuntunan agama kita. Islam itu indah banget, semua hal dari yang besar sampai urusan hati yang remeh-temeh begini ada obatnya di dalam Al-Qur'an dan hadis.
Dalam Islam, fase remaja ini sering dikaitkan dengan 𝑀𝑎𝑠𝑎 𝑆𝑦𝑎𝑏𝑎𝑏 atau menuju Baligh. Ini adalah masa di mana catatan amal sudah mulai dihitung sendiri. Di satu sisi ini masa emas yang energinya luar biasa, tapi di sisi lain, musuh nyata kita yaitu setan paling suka membisikkan hal-hal negatif pada jiwa-jiwa yang sedang labil. Perasaan tidak tenang, gampang marah, gundah gulana tanpa sebab, dalam literatur Islam sering kali berkaitan dengan kondisi hati yang sedang kering atau terusik.
Jadi, ketika anak remaja kita kena virus moody, itu adalah sinyal bahwa "baterai spiritual" atau ketenangan di dalam hatinya mungkin lagi lowbat. Tugas kita bukan memarahi, tapi membantu mereka men-charge kembali baterai itu.
Apalagi kalau tinggalnya berjauhan seperti saya dan si sulung. Makanya, saya selalu mengusahakan untuk bisa berkomunikasi setiap hari, meskipun itu hanya memanfaatkan jam istirahat. Karena di pondok tidak boleh bawa HP, saya harus pintar-pintar menunggu jam efektif. Kebetulan karena anak-anak belajar di sekolah menggunakan laptop, mereka biasanya mengaktifkan IG yang boleh diakses pas jam istirahat saja.
Lalu, Bagaimana Cara Menghadapinya?
Bagaimana kita sebagai orang tua, atau mungkin kalian para remaja, menghadapi virus ini supaya tidak sampai merusak hubungan keluarga atau pertemanan?
1. Ingatkan untuk Pakai Jurus Mengubah Posisi
Kalau kita sudah mulai merasa ada tanda-tanda mau "meledak" atau cemberut gak jelas, segeralah baca istighfar. Rasulullah SAW memberikan resep yang sangat logis dan psikologis banget saat emosi kita lagi gak stabil atau marah. Beliau bersabda, kalau kita marah dalam posisi berdiri, maka duduklah. Kalau masih marah, maka berbaringlah.
Kenapa? Karena mengubah posisi fisik itu bisa memutus aliran emosi negatif di otak. Dan kalau masih membal juga, ambillah air wudhu. Air itu sifatnya mendinginkan, meredam api amarah yang ditiupkan setan ke dalam dada.
2. Berikan "Jarak Aman"
Komentar teman anak saya tadi ada benarnya. Kadang, physical distancing itu perlu. Kalau pas kita lagi video call (VC) anak yang sedang PKL dan wajahnya sudah ditekuk, ya jangan langsung diberondong pertanyaan: "Gimana tadi? Kok mukanya gitu? Ada masalah ya?". Sebaiknya kita rem dulu ego kita sebagai orang tua.
Berikan anak waktu untuk menenangkan diri dulu di kamarnya. Biarkan dia mengeluarkan emosinya pelan-pelan. Nanti kalau semua unek-uneknya sudah keluar, tugas kita cukup menjadi pendengar yang baik. Biasanya kalau sudah plong, mood-nya akan balik sendiri. Di saat itulah kita bisa masuk sebagai teman ngobrol, lalu arahkan pelan-pelan bagaimana sebaiknya sikap yang harus mereka ambil.
3. Mengisi Hati dengan Al-Qur'an dan Dzikir Pagi-Petang
Ini benteng utamanya. Saya selalu cerewet mengingatkan si sulung untuk tidak melewatkan dzikir pagi dan petang, sekecil apa pun itu. Dzikir itu kayak pelindung tak kasat mata dari aura-aura negatif di luar rumah. Apalagi mereka sekarang tinggal di tempat baru dan masih dalam fase adaptasi. Biasanya akan muncul rasa belum kerasan, atau belum ketemu *chemistry* dengan kawan satu tim (kebetulan peserta PKL di tempat si kakak berasal dari dua sekolah yang berbeda).
Saya selalu minta mereka untuk menghidupkan shalat berjamaah dan tadarus bersama. Sebenarnya kebiasaan ini sudah terbentuk sejak sebelum PKL karena mereka memang tinggal di pondok. Tapi namanya anak-anak, kadang ada masanya pengen serba cepat dan praktis. Kawannya masih wudhu, eh dia sudah shalat duluan karena saking pengennya segera istirahat. Di sinilah pentingnya saling mengingatkan.
4. Jangan Lupa Bahwa Orang Tua Adalah "Cermin"
Nah, ini tamparan keras buat saya sendiri sih. Kadang anak *moody* karena melihat ibunya juga suka *moody*. Jadi, sebelum kita menyembuhkan virus moody pada anak, kita harus pastikan dulu diri kita sendiri punya imunitas emosi yang baik.
Banyak-banyak berdoa meminta kesabaran, sehingga ketika berkomunikasi dengan anak-anak, emosi kita tetap terkontrol—baik dari nada bicara maupun raut wajah. Apalagi si sulung ini tipe anak yang kelewat peka. Kalau pas VC dia lihat umminya agak lemas sedikit saja, dia bakal mengulik sampai habis apa penyebabnya. Jadi ya... selelah apa pun saya, kalau sudah berkomunikasi dengan anak-anak, tetap diusahakan pasang mode 'ibu peri', hehe.
Catatan Akhir untuk Anak-Anakku Tercinta
Untuk Baby Bear kesayangan Abi- Ummi, dan teman-temannya yang lagi berjuang di tempat PKL, atau di mana pun kalian berada: "Ummi tahu kalian lelah. Menjadi dewasa itu memang tidak seindah fiksi di Wattpad atau video estetik di TikTok. Jalannya terjal dan melelahkan."
Sikap kalian yang memilih "jaga jarak aman" saat mood lagi buruk itu sebenarnya sudah satu langkah dewasa yang bagus. Artinya kalian tahu batas dan gak mau menyakiti orang lain dengan lisan atau sikap kalian. Tapi ingat ya nak, jangan lama-lama mengurung diri dalam virus itu.
Dunia luar mungkin menuntut kalian untuk selalu profesional, tapi di rumah, dan di hadapan Allah, kalian boleh menumpahkan segala lelah. Hampar sajadahmu, adukan semua rasa sebal, capek, dan bingungmu pada-Nya. Dia tidak akan pernah moody mendengarkan curhatan hamba-Nya.
Yuk, semangat lagi. Moody virus itu biasa, tapi jangan sampai kita mengalah pada virus itu sampai bikin kita rugi. Nyalakan lagi semangatnya, selesaikan semua amanah baik dari tempat PKL, dari pondok, maupun dari sekolah.
Khusus buat baby bears yang harus 𝑡𝑟𝑖𝑝𝑙𝑒 𝑗𝑜𝑏 karena sekarang juga lagi berjuang mengikuti OSN, semangatnya harus tiga kali lipat ya. Boleh lelah kok, tapi setelah itu segera bangkit lagi. Abi dan Ummi selalu mendukungmu. Spesial thanks for Mba Robiatul M, yang sudah menjadi inspirasi untuk tulisan ini. Sehat-sehat ya Nak, doa-doa terbaik dari kami untukmu.
Bagaimana dengan ayah dan bunda yang lain? Ada yang anaknya lagi hobi kena 𝑚𝑜𝑜𝑑𝑦 𝑣𝑖𝑟𝑢𝑠 juga? Boleh dong share ceritanya di kolom komentar.
Ditulis oleh: Sri Purwanti ( Founder Rumah Baca Cahaya Ilmu)



4 Komentar
Biasanya memang kalau udh sendirian di kamar, mikirin lagi penyebab yg bikin moody, atau melakukan hobi, mood yg tadinya jelek bisa normal kembali.
Anak2 juga aku diemin dulu di saat mereka moody. Baru ditanya2 saat kondisinya aku liat sudah mulai normal.
Dan ini gak cuma di anak PKL aja si. Saya yang udah bapack-bapack pun kadang mengalami hal yang sama. Namanya semangat dan baterai sosial, kadang penuh,kadang lobet. Kalo lagi lobet, ya paling saya menyendiri barang sejenak. biar benang kusutnya bisa terurai terlebih dahulu.