Rindu yang Tak Pernah Pulang



Pijarinspirasi.com-Di bawah langit senja yang mulai temaram,

aku menitipkan rindu pada arus yang diam,
Barito mengalir membawa cerita malam,
menyulam doa-doa kecil di antara riak yang tenggelam.

 

Wahai sungai panjang penjaga tanah Banjar,
engkau menyimpan jejak waktu yang tak pernah pudar,
dari perahu kecil hingga mimpi yang berlayar,
kau ajarkan harapan tetap tumbuh meski badai mengejar.

 

Kadang angin datang membawa kabar pilu,
menggoyang daun bakau di tepian yang syahdu,
namun aliranmu tetap menuju birunya waktu,
seperti hati yang percaya pada janji Allah Yang Maha Tahu.

 

Barito, dalam sunyimu ada ribuan doa,
terbang bersama embun menuju pintu Yang Kuasa,
tentang kampung halaman, tentang cinta yang dijaga,
tentang harapan yang tak lelah mengetuk langit semesta.

 

Jika suatu hari langkahku jauh mengembara,
biarkan namamu tetap tinggal dalam jiwa,
menjadi nyanyian rindu yang mengalir selamanya,
Sungai Barito, rumah doa yang tak pernah kehilangan cahaya.

 

Tanah Bumbu, 18 September 2026

Posting Komentar

18 Komentar

Okti Li mengatakan…
Saya tidak bisa menerjemahkan secara detail akan kata Deni kata, diksi demi diksi dari semacam puisi, syair atau sajak ini (semua saya anggap ini artikel aja, hehe)

Yang pasti dari sekilas saja saya bisa menebak kalau penulis memang tengah merindukan semacam kampung halaman atau lokasi di Kalimantan sana ya

Atau tengah prihatin dengan kondisi saudara kita di Kalimantan yang tengah dilanda berbagai macam ujian?

Yang saya tahu pasti Barito terletak di pulau Kalimantan, mencakup wilayah Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan jadi tebakan saya pasti ada kaitannya ke sana. Maafkan kalau salah
Mang Duyeh mengatakan…
ada pepatah bahwa Sungai adalah Sumber Kehidupan dan Kebahagiaan, aplagi sungai seperti Barito dimana banyak orang yang kehidupannya bergantung kepada aliran airnya.
sayangnya Barito sekarang sedang mengering,
puisi dan syair tantang Barito yang ditugaskan oleh Tuhan untuk membuat manusia bahagia, semoga menjadi kenangan
erykaditya mengatakan…
Baca puisinya berasa langsung nyesss di hati mbaa...kok aku merasa ada kesan sedih namun oenuh harap didalamnya...

Tiap baca tentang barito ingatan ku langsung tertuju pada pengalaman hidup di banjarmasin selama beberapa tahun kemarin. Meski tidak lama dan tidak banyak berinteraksi dengan penduduk asli banjar namun sependek pengetahuan saya Sungai Barito ini menyimpan banyak cerita dan menjadi salah satu tempat untuk mendulang rejeki bagi rakyat banjar

Sedih karena melihat berita sungai barito yang kering karena musim kemarau ini :(
M.iqbal mengatakan…
Puisinya terasa begitu tenang dan penuh kerinduan. Sungai Barito tidak hanya digambarkan sebagai sungai, tetapi seperti tempat menyimpan kenangan, doa, dan rasa rindu pada kampung halaman. Indah sekali puisinya, terutama bagian akhir yang terasa hangat dan menyentuh.
Baca bait demi bait, berasa sekali rindu yang mungkin sedang dirasa. Terkadang jika rindu dengan seorang, ntah kenapa melihat lautan yang luas, sungai yang mengalir, itu bikin rindu makin menjadi. Berharap aliran sungai dan lautan itu bisa membawa rindu kita ke orang yang disayang
Fenni Bungsu mengatakan…
Ada momen rintih nan pilu terhadap suatu tempat di mana Sungai Barito itu berada.
Harapan daku, semoga riak tetap mengalir, membasahi setiap kehidupan agar kembali subur jangan sampai makin melebur
Rizky Kurnia Rahman mengatakan…
Puisi memang menjadi suatu karya seni yang memunculkan rasa yang mendalam. Apalagi berkaitan dengan alam yang memang perlu dijaga ini. Namun, dalam dunia literasi kita, puisi justru tidak banyak peminatnya, ya? Yang paling banyak itu novel, terus cerpen, dan terakhir adalah puisi. Padahal, dengan membaca puisi, selain belajar kata-kata, juga belajar pengungkapan rasa, yang tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang, sih.
Dyah Kusuma mengatakan…
Puisi yang cantik mbak tentang sungai Barito yang melintas di Kalimantan. Sungai yang menjadi sumber berbagai aktivitas masyarakat di sekitarnya. Puisi yang bisa diterjemahkan menjadi banyak makna
Aprillia Ekasari mengatakan…
Sungai Barito. Salah satu sungai yang terpanjang di Indonesia ya, kalau nggak keliru.
Keinget pelajaran IPS atau apa yaa, zaman dulu, kalau sungai ini merupakan salah satu media transportasi di Kalimantan.
Ada pasar terapungnya juga yaa.
Zaman dulu kek iya iya aja kalau mengetahui info ada gelondongan kayu besar dilewatin sini atau kapal2 pengangkut apaan deh itu ya.
Sekarang baru sadar itu bagian dari perusakan alam. Walau yaaa dulu manusia2nya masih bisa ngerem, nggak pada serakah kek sekarang.
Denger2 pernah mengalami kekeringan juga yaa? Penyebabnya apa itu ya mbak? Selain cuaca ekstrem? Apakah pembakaran pohon2 juga mempengaruhinya?
AlineaLala mengatakan…
Puisi ini menggambarkan kerinduan, kepiluan, dan pengharapan. Itulah yang aku tangkap dari keseluruhan. Setiap bait-bait puisi tersusun rapi dan diksi nya indah.

Tetapi, aku tau, puisi itu bisa beda persepsi. Tergantung kita menangkap dari sisi mana. Penggambaran sungai, sumber kehidupan. Semoga saja keasrian nya terjaga.
Tukang jalan jajan mengatakan…
Rasanya adem banget, tapi di waktu yang sama ada rasa kangen yang dalam sama kampung halaman. Pas banget rasanya waktu baca bait tentang sungai Barito yang jadi saksi bisu perjalanan hidup.
Kadang emang begitu ya, sejauh apa pun kita melangkah pergi merantau, ingatan pasti bakal balik lagi ke tempat asal. Apalagi kalau pas lihat senja begini, ingatan tentang rumah makin gampang menyeruak.
Ditopuccino mengatakan…
Rindu yang tak pernah pulang terasa seperti gambaran tentang perasaan yang sebenarnya masih ada, hanya saja orang atau keadaan yang dituju sudah tidak lagi berada di tempat yang sama.

Kadang rindu emang aneh, semakin berusaha dilupakan malah semakin sering muncul dari hal-hal kecil.

Entah dari lagu, tempat, aroma tertentu, atau bahkan secangkir kopi yang tiba-tiba mengingatkan masa lalu. 😄

Mungkin emang tidak semua rindu harus menemukan jalan pulang. Ada yang cukup kita simpan sebagai bagian dari cerita, lalu pelan-pelan kita belajar berdamai dengannya.
Ruli retno mengatakan…
Sebagai anak yg tumbuh besar di tepian sungai barito, tiap baitnya rasanya bermakna banget sih mbak.

Tapi tadi sempat berpikir juga apakah aliran sungai barito sampai ke tanah bumbu hehehe ataukah mba menikmati sungai barito ketika mengunjungi daerah lain. Aku oun rindu sungai barito nih mbak



Dee_Arif mengatakan…
Puisi yang bagus mbak. Benar benar menggambarkan rasa rindu yang begitu mendalam ya. Memang kadang, kita akan rindu pada tempat tempat yang banyak mengukir kenangan, sungai barito misalnya
Garis Senja Dinda mengatakan…
Saya kok jadi inget Kalimantan. Sedih banget lihat kondisinya. Hutan, orang utannya, anoa, hewan² lain yang kepisah sama induknya sampe area konservasi gambut ikut ke babat api..

Ya ampun, aku pengen marah tapi gimana. Mau marah ke pemerintah kok mereka nggak ngerasa meski banyak yang koar².

Baca puisi ini malah jadi dredeg mbak.. 😭
Asri M Lestari mengatakan…
Terasa sekali kesedihan dan kerinduan dari puisi ini. Harapan yang di sampaikan pada Sungai Barito si penjaga tanah Banjar. Jadi teringat lagi bencana yang sedang dialami warga Kalimantan. Semoga semua diberikan kekuatan.
Alienda mengatakan…
Masya Allah dalam sekali setiap baiknya.. teriring doa untuk semua ya Umma. Hanya Allah sebaiknya penolong
Bunda Saladin mengatakan…
Merindu Barito dan kedamaian Borneo, semoga engkau bisa pulang dan menikmati kampung halaman dengan damai.
Pernah baca kalau sungai barito (dan sungai-sungai di sana) lebaaar sekali.