Berbagi Inspirasi Bersama Otan dan Umma




Pijarinspirasi.com-
Malam Sabtu, 4 September menjadi salah satu malam yang akan selalu saya ingat. Karena jujur sangat berkesan. Awalnya pas menerima undangan dari salah satu pengajar TPQ Hidayatus Shibyan, saya hanya membayangkan datang untuk berbagi cerita bersama anak-anak. Namun ternyata perjalanan itu memberikan pengalaman yang jauh lebih bermakna.

Jadi kisahnya saya mendapat undangan dari TPQ Hidayatus Shibyan untuk mengisi acara Maulid Nabi Muhammad saw. Panitia meminta saya menyampaikan materi dengan metode story telling menggunakan boneka agar anak-anak lebih mudah memahami pesan yang ingin disampaikan. Bagi saya pribadi, teknik seperti ini memang menjadi salah satu cara yang menyenangkan untuk mengenalkan nilai nilai moral dan karakter baik kepada anak-anak. Karena lebih santai tanpa terkesan menggurui.

Saya pun mulai menyiapkan konsep bersama Otan, karakter boneka yang biasa menemani saya dalam kegiatan literasi. Melalui cerita sederhana, saya ingin mengajak anak-anak mengenal sosok Rasulullah, bukan hanya sebagai seorang nabi yang mereka dengar dalam pelajaran, tetapi sebagai teladan dalam bersikap, berbicara, dan memperlakukan orang lain. Jadi saya mengambil judul "Meneladani Akhlak Rasulullah”.

Hari itu, setelah selesai mengajar kira-kira 17.45 WITA,  langsung bersiap menuju lokasi acara. Saya berangkat bersama suami dan twins. Karena lokasi TPQ berada di daerah transmigrasi yang cukup asing bagi saya. Jalan menuju ke sana juga belum begitu saya pahami, sehingga saya sangat terbantu karena suami lebih mengenal wilayah tersebut.

Dalam perjalanan, kami menyempatkan diri berhenti untuk melaksanakan salat Magrib. Setelah itu kami kembali melanjutkan perjalanan menuju lokasi acara. Ada rasa penasaran sekaligus antusias karena saya belum mengetahui seperti apa suasana acara yang akan saya hadiri.



Sesampainya di tempat acara, saya benar-benar terkejut. Ternyata kegiatan Maulid Nabi yang diselenggarakan TPQ Hidayatus Shibyan sangat meriah. Persiapannya terlihat matang dan suasananya begitu ramai. Bukan hanya para santri TPQ yang hadir, tetapi juga orang tua santri, kepala desa, perangkat desa, serta masyarakat sekitar. Jumlah peserta yang hadir bahkan lebih dari seratus orang.



Melihat kondisi tersebut, saya langsung menyadari bahwa konsep yang sebelumnya saya siapkan perlu sedikit diubah. Awalnya saya memang fokus membuat cerita yang cocok untuk anak-anak. Namun karena ternyata banyak orang tua dan tokoh masyarakat yang ikut hadir, saya mencoba menyesuaikan materi secara spontan. Last minute yang benar-benar menentukan.


Saya tetap membawa konsep story telling untuk anak-anak, tetapi saya menambahkan beberapa pesan tentang peran orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Bukan menggurui tapi memosisikan sebagai ibu yang berbagi kisah tentang pengasuhan anak. Pointnya tentu  menyampaikan bahwa pendidikan akhlak tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah atau TPQ. Karena sebenarnya keluarga juga memiliki peran besar dalam memberikan contoh kebaikan kepada anak-anak.

Setelah rangkaian pembacaan Maulid Simtudduror dan acara pembukaan selesai, tibalah waktu saya bersama Otan untuk tampil. Jujur, ada sedikit rasa gugup karena suasananya berbeda dari perkiraan awal. Namun semua rasa itu perlahan hilang ketika melihat wajah anak-anak yang mulai antusias mengikuti cerita.



Melihat anak-anak tersenyum, tertawa, bahkan aktif menjawab pertanyaan yang saya berikan di sela-sela materi ternyata menghadirkan kebahagiaan tersendiri. Dan tentunya saya sangat bersyukur karena mereka menikmati cerita bersama Otan. 

Bagi saya, bagian paling membahagiakan bukan hanya ketika acara berjalan lancar, tetapi ketika melihat anak-anak mendapatkan pengalaman baru bahwa belajar tentang agama tidak selalu harus dengan cara yang kaku. Cerita dan interaksi sederhana bisa menjadi jalan untuk mengenalkan nilai-nilai kebaikan.



Saya juga membawa hadiah kecil sebagai kenang-kenangan dari Rumah Baca Cahaya Ilmu. Ada sepuluh anak yang berhasil menjawab pertanyaan dengan benar dan mendapatkan hadiah berupa buku serta merchandise. Saya berharap hadiah tersebut dapat menumbuhkan semangat membaca dan membuat mereka semakin dekat dengan dunia literasi dengan cara yang menyenangkan. 

Selain itu, saya juga berkesempatan menyerahkan buku terbaru saya yang berjudul "Dalam Dekap Malaikat Tak Bersayap" kepada kepala TPQ Hidayatus Shibyan, yang diwakili oleh istri beliau. Harapan saya  buku tersebut dapat memberikan manfaat dan menjadi tambahan bacaan untuk pengurus TPQ.

Malam itu menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Ada rasa bahagia karena bisa hadir dan berbagi inspirasi dengan anak-anak serta masyarakat di sana. Suasana kekeluargaan yang terasa begitu kuat juga sedikit mengobati rasa rindu saya terhadap kampung halaman. Kehangatan warga dan semangat anak-anak dalam belajar mengingatkan saya pada suasana tempat saya lahir dan tumbuh dewasa.



Dari perjalanan ini saya kembali belajar bahwa berbagi tidak harus selalu melalui sesuatu yang besar. Kadang sebuah cerita, kehadiran dengan penuh senyuman meskipun fisik sangat lelah, dan waktu yang kita berikan kepada orang lain bisa meninggalkan kesan yang sangat berarti.

Tentu saya berharap, semoga langkah kecil melalui story telling ini menjadi bagian dari upaya untuk terus menebarkan kebaikan dan mengenalkan akhlak Rasulullah kepada lebih banyak anak-anak. Dengan cara yang hangat layaknya seorang ibu yang sedang berbagi cerita kepada anak-anaknya. Karena dengan cara seperti ini kita bisa sekaligus membangun bonding dengan mereka.

Waktu sudah mulai beranjak malam, pukul 21.30 kami pulang ke rumah masing-masing. Mengumpulkan energi untuk menyambut hari esok dengan penuh semangat. Saya bersama pasukan juga balik ke rumah, pukul 22.45 sampai rumah dengan selamat. Agak lama karena memang memilih lewat jalan luar, mengingat kondisi jalan dalam pasti gelap gulita kalau sampai kebun sawit. Takutnya ada kobra melintas tiba-tiba he..he...


Oleh. Sri Purwanti 

Posting Komentar

19 Komentar

Okti Li mengatakan…
Memangnya di daerah transmigrasi mana Mbak Sri? Masih banyak lahan kosong gitu ya?

Alhamdulillah ya, selamat buat mbak Sri yg udah berhasil memberikan motivasi dan masukkan kenapa anak santri dan jemaah di sana sehingga semoga mereka bisa meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari mereka

Melihat gambar, memang acara dibuat semeriah itu seperti sudah profesional saja. Rapi dan seragam dengan lengkap jadi kelihatannya bagus ya
erykaditya mengatakan…
Sebagau seorang performer harus siap dalam segala kondisi ya mba apalagi ternyata yang diluar prediksi,,awalnya kita kira hanyak anak2 saja namun ternyata ada orang tua juga dan jumlah semuanya hampir 100 orng itu bukan jumlah yang sedikit menurutku dan mb srie dengan cepatnya bisa langsung sedikit mengubah konsep dan alhamdulillah anak2 dan peserta lainnya juga tampak antusias :)
Fenni Bungsu mengatakan…
Hal krusial yang memang perlu diterapkan, daku suka sekali teknik yang Kak Srie arahkan, khususnya pada anak-anak agar mereka bisa makin mengenal Rasulullah SAW, terlebih bisa diterapkan pula teladan dan sikap yang amanah dalam kehidupan sehari-hari, dengan contoh yang sederhana dan mudah dimengerti.
AlineaLala mengatakan…
Salut dan kagum banget, karena di last minute mbak mengubah konsep menyesuaikan dengan audience yang hadir. Pasti ini momen menantang, tetapi terlihat jelas mbak amat profesional.

Lewat story telling, anak-anak bisa mendapatkan ilmu bermanfaat dengan cara yang lebih menyenangkan. Sesi yang interaktif itu emang bikin Narsum semangat. Kisah yang disampaikan bareng Otan, menjadi lebih mudah diterima anak-anak dan kasih pengingat berharga buat para ortu juga. Alhamdulillah ya mbak, selamat sampai rumah meski lumayan larut sekali. Semoga ilmu yang di share bermanfaat 😇
Rizky Kurnia Rahman mengatakan…
Anak-anak memang pada dasarnya suka bercerita dan diceritakan sesuatu. Lebih mengena dan diterima di otak mereka daripada pelajaran yang kaku. Nah, inilah perannya storyteller untuk mengenalkan agama Islam lewat cerita. Mudah-mudahan bisa membekas di benak anak-anak hingga dewasa.
Yonal Regen mengatakan…
Saya kok senang sekali baca tulisan ini. Keramahan warga dan anak-anak menyambut Kak Sri membawakan story telling tentang Nabi Muhammad serasa sampai ke sini hangatnya.

Dari tulisan ini saya sendiri belajar bahwa mengajarkan agama memang tak harus kaku. Harus seperti apa yang dikatakan Ali bin Abi Thalib: Ajarkan anak sesuai zamannya.
Tukang jalan jajan mengatakan…
seru banget baca cerita perjalanan Mbak Sri sama Otan ini. Bayangin pas datang ternyata acaranya seramai itu dan dihadiri banyak orang tua, pasti sempat bikin deg degan ya.
Tapi keren banget bisa langsung menyesuaikan materi di tempat tanpa kehilangan keseruannya. Senang rasanya melihat anak anak antusias dan ketawa bareng Otan.
Semoga buku terbarunya makin bermanfaat dan kegiatan literasinya terus menginspirasi banyak orang ya. Sehat selalu buat keluarga dan pasukan kecilnya
Katerina mengatakan…
Mbak, aku salut padamu. Di tengah situasi yang di luar dugaan, Mbak langsung mengambil keputusan untuk mengubah konsep dan materi demi menyesuaikan dengan audiens yang ternyata ada para orang tua dan tokoh masyarakat. Hanya yang sudah terlatih yang bisa begitu, karena kalau nggak, yang ada malah panik dan akhirnya pasrah dengan konsep yang sudah disiapkan. 😁

Alhamdulillah acaranya lancar ya, Mbak. Dan kebahagiaan Mbak saat bercerita terasa nembus layar lho, sampai ke saya. ❤️

Saya doakan Mbak selalu sukses menjadi storyteller di berbagai acara seperti ini. Terus berbagi, terus menginspirasi, dan semoga apa yang Mbak sampaikan selalu membawa manfaat untuk orang-orang yang mendengarkan. 🤗
Heni Hikmayani Fauzia mengatakan…
Masya Allah....hebat sekali kaak semangat literasinya. Meskipun daerah yang dituju lokasinya jauh dan agak di pedalaman tapi tetap datang. Boneka dongengnya ide bagus itu bikin anak anak betah mendengarkan ceritanya.selamat ya kaak....semoga makin banyak anak meraskaan manfaat story telling yang kakak lakukan.
Dyah Kusuma mengatakan…
Keren mbak, mengubah konsep di menit terakhir, kalau ga terbiasa rasanya ini bukan hal yang mudah lho. Salah satu hal yang ga akan ditolak anak adalah cerita, maka dia akan suka mendengarkan cerit;.
Ariefpokto mengatakan…
Wah keren sekali manuvernya mengubah konsep di detik-detik terakhir sehingga bisa menyesuaikan dengan keadaan Itu adalah sebuah kemampuan yang menurut saya jarang orang punya karena dibutuhkan kesabaran dan juga ilmu yang mumpuni supaya acara berjalan tetap lancar dan yang penting anak-anak bisa merasakan dan mendapatkan ilmu dan juga Kebahagiaan dari acara ini
Dee_Arif mengatakan…
Alhamdulillah! Keren improvisasi nya
selamat buat mbak Sri yg udah berhasil memberikan motivasi kepada anak santri dan jemaah di sana sehingga semoga mereka bisa meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari mereka
Ditopuccino mengatakan…
Salut loh mbak. Bisa langsung improve di lokasi. Berarti jam terbangnya udah tinggi nih. Ngerubah konsep cerita ini ga gampang. Tapi kalo udh sering tampil di depan publik sih so easy emang.

Konsep cerita pake boneka gini emg lebih nyantol sih terutama kalo ada audiens anak2. Biar ga ceramah monoton satu arah doank. Bs bisa ntr anak2 ngantuk tuh kalo ceramah kamu gt. Hehe.
Asri M Lestari mengatakan…
Mbak hebat bisa dengan tanggap mengganti konsep cerita mejelang acara dimulai. Pengalaman memang nggak bohong ya. Selain itu juga kepekaan membaca situasi. Keren sih. Alhamdulillah semua berjalan lancar, anak-anak antusias mengikuti acara dan yang pasti tidak hanya memberikan pelajaran bagi anak-anak, tapi juga para orang tua yang hadir.
Alienda mengatakan…
Masya Allah keren bangettt..bisa tampil di depan orang sebanyak itu dan acaranya semeriah itu.. semoga jadi manfaat untuk semua ya.. salut buat mba sri yang bisa nyisipin pesan last minute buat orang tua. Mantaaappp
Aprillia Ekasari mengatakan…
Wow kereeenn, bisa mengubah konsep acara sat set. Emang sih kadang suka miss yaa karena cara anak2, eh ternyata ada udnangan dewasa juga.
Suka deh kalau anak2 juga enjoy bisa menyimak cerita sejarah nabi dan memperingati maulidan gini.
Mantul mbak, ada bagian penyerahan buku juga yaa. Semga buku karyanya juga membawa manfaat buat pembacanya :D
Setuju kalau mengajari anak2 bukan hanya peran guru, tapi juga keluarga yaa, khususnya ortu.
Fajarwalker.com mengatakan…
Rame bangetttt mbak acaranyaaa, alhamdulillah... Yha kalau miss dikit-dikit, wajar lah ya mbak. Meskipun agak unpredictable karena ternyata toh ada undangan dewasa juga ni yang nongol.

Saya juga pengen belajar ni jadi pencerita pakai boneka. Malah, kepikiran pengen belajar suara perut biar nantinya jadi ventriloquist, ahihihi
Garis Senja Dinda mengatakan…
Huaaa rameeee polll acaranya mbakk.. Mauludan kemarin juga di area perumahanku rame banget, ada menyanyi² dan lomba bercita untuk anak².

Tapi menarik banget. Mengajarkan ilmu agama nggak harus lewat ceramah panjang lebar, tapi dengan storytellig, kadang lebih efektif untuk menumbuhkan nilai² spiritulitas.. Apalagi ada OTAN juga yang nemenin.. 🤭🥹💞
Aku suka
Andai saja dekat aku mau datang as a guest mbak hahaha
Anak anakku suka cerita dengan boneka seperti ini
Make them more getting spirit memahami cerita