Her Story in Shankara Koffie


Pijarinspirasi.com-Tanggal 30 Agustus lalu, Komunitas Di Balik Halaman Tanbu kembali mengadakan agenda rutinnya, yaitu book meet up yang ke-8. Kali ini, tempat yang dipilih  menjadi ruang nyaman untuk berbagi cerita dan menikmati buku bersama, yaitu Shankara Koffie yang berlokasi di Jalan Karang Jawa. Sama seperti vol-5, kami berkumpul di ruangan yang sama.

Seperti pertemuan sebelumnya, kegiatan utama dalam acara ini adalah silent reading dan sesi review buku. Namun, pertemuan kali ini terasa sedikit berbeda karena membawa tema yang cukup dekat dengan kehidupan banyak orang, khususnya perempuan, yaitu “Her Story: Buku, Perempuan dan Kemerdekaan.

Mungkin karena masih berada dalam suasana bulan kemerdekaan, ada nuansa tersendiri yang terasa dalam pertemuan kali ini. Bukan hanya membicarakan kemerdekaan dalam konteks sebuah bangsa, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menemukan kebebasan dalam dirinya sendiri. Bahwa merdeka tidak selalu berarti bebas dari sesuatu yang terlihat, tetapi juga bagaimana seseorang mampu menerima dirinya, berdamai dengan masa lalu, dan memiliki ruang untuk menjadi dirinya sendiri.


Dalam acara ini, peserta juga mendapatkan sebuah tantangan sederhana, yaitu berbagi cerita pribadi melalui sesi Her Story. Dari sinilah muncul sebuah kesadaran bahwa setiap perempuan memiliki perjalanan masing-masing. Ada luka yang pernah dirasakan, ada perjuangan yang mungkin tidak selalu terlihat, dan ada cerita yang tidak semuanya mampu disampaikan melalui kata-kata. Namun, setiap orang memiliki caranya sendiri untuk bertahan dan pulih, tanpa harus selalu menjelaskan semuanya kepada dunia.

Pada sesi review buku, saya memilih novel “Pulang” karya Tere Liye. Ketika ditanya alasan memilih buku tersebut, jawabannya cukup sederhana, judulnya terasa sangat dekat dengan apa yang saya rasakan saat ini. Meskipun isi bukunya berbeda (review buku saya buatkan tulisan tersendiri).

Sebagai seorang anak rantau, rasa rindu terhadap kampung halaman tentu menjadi sesuatu yang sulit dihindari. Ada kerinduan untuk kembali melihat tempat pertama kali tumbuh, mengingat kembali suasana yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup. Ada harapan sederhana untuk bisa segera pulang dan kembali menatap tanah kelahiran dengan perasaan yang berbeda setelah melalui berbagai pengalaman hidup.

Kemudian tibalah sesi yang paling mengadukan emosi, yaitu Her Story. Setiap peserta mendapatkan sebuah kertas berisi pertanyaan reflektif. Pertanyaan yang saya dapatkan adalah “Apa yang kamu rindukan dari versimu di masa lalu?

Pertanyaan sederhana, tetapi ternyata mampu membawa banyak kenangan.

Jawabannya, saya merindukan diri saya yang dulu. Sosok yang berani berkata tidak untuk sesuatu yang memang kurang berkenan di hati, lebih tangguh, dan tidak terlalu banyak memikirkan berbagai kemungkinan sebelum mengambil keputusan,dan sosok yang hampir tidak pernah menangis ( kecuali pas curhat sama Pemilik Kehidupan).

Namun, perjalanan hidup memang membawa perubahan. Ketika seseorang mulai memasuki fase sebagai istri dan ibu, banyak hal yang harus dipertimbangkan. Keputusan tidak lagi hanya tentang diri sendiri, tetapi juga berkaitan dengan orang-orang yang disayangi. Tidak selalu bisa mengatakan bahwa A harus tetap menjadi A. Terkadang, demi kebaikan bersama, A bisa berubah menjadi Z. 

Bukan karena kehilangan prinsip, tetapi karena belajar memahami bahwa hidup membutuhkan keseimbangan. Selama tetap berada dalam batas yang benar dan tidak bertentangan aturan Sang Pencipta, menyesuaikan diri juga menjadi bagian dari proses bertumbuh.

Selain itu, saya juga merindukan versi diri yang dulu terasa begitu kuat dalam melakukan banyak hal sekaligus. Dulu rasanya semua pekerjaan bisa diselesaikan dalam satu waktu. Namun semakin bertambah usia, semakin sadar bahwa tubuh juga memiliki batasnya sendiri. Fisik mulai memberikan tanda bahwa tidak semua hal harus dilakukan sekaligus. Ada waktu untuk bergerak, tetapi ada juga waktu untuk berhenti dan memberikan ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat.

Dari perjalanan cerita tersebut, saya semakin memahami bahwa arti kemerdekaan bagi setiap orang bisa berbeda. Bagi saya pribadi, kemerdekaan adalah ketika seseorang mampu menjadi dirinya sendiri tanpa terus-menerus terjebak dalam ekspektasi maupun validasi dari orang lain.

Menjadi diri sendiri bukan berarti tidak peduli terhadap sekitar, melainkan mampu memahami siapa diri kita. Menerima perubahan yang terjadi, dan tetap memiliki keberanian untuk menjalani kehidupan dengan cara yang paling sesuai.

Suasana haru terasa ketika sesi Her Story berlangsung. Meskipun banyak cerita disampaikan dengan canda dan tawa, tetap ada rasa yang sulit disembunyikan. Ada cerita tentang kehilangan, perjuangan, perubahan, dan proses menerima diri. Pada akhirnya, kami tidak hanya berbagi cerita, tetapi juga saling menguatkan. Beberapa pelukan menjadi cara sederhana untuk mengatakan bahwa setiap perjalanan memiliki perjuangannya masing-masing.


Acara kemudian ditutup dengan sesi foto bersama dan pembagian hadiah kecil berupa bookmark serta kata-kata motivasi. Sebuah penutup sederhana, tetapi meninggalkan kesan yang cukup dalam.

Kadang, sebuah pertemuan dengan teman bukan hanya tentang berbagi cerita atau bertukar kabar. Lebih dari itu, sebuah pertemuan bisa menjadi cara untuk saling menyembuhkan. Bisa menjadi tempat untuk berhenti sejenak dari rutinitas yang kadang terasa menjemukan. Bisa mengenang perjalanan hidup masing-masing, dan menemukan kembali makna tentang dirinya sendiri, tanpa perlu membandingkan dengan versi siapapun.

Posting Komentar

19 Komentar

Haryadi Yansyah mengatakan…
Menemukan sebuah komunitas yang tepat dan bikin nyaman tuh penting banget. Selain sebagai sarana healing juga dapat dijadikan tempat untuk upgrade diri. Ngomongin novel Pulang, itu salah satu novel Tere Liye yang aku favoritkan juga. Gak semua novel Tere Liye aku cocok, tapi Pulang ini termasuk yang membekas di aku :)
nurul rahma mengatakan…
“Apa yang kamu rindukan dari versimu di masa lalu?”
Aduh Maaakk, ini makjlebbb bangeett loh pertanyaannyaa :-)
Keknya bisa nihh, aku bikin postingan dari pertanyaan ini doang.
Apiiik banget mba kegiatan komunitasnya
Empowering bangeett ya
Aku pengen deh ikutan acara begini ❤️❤️. Di jakarta pasti ada, tp akunya aja yg kurang aktif untuk cari tahu. Ngebayangin bisa duduk utk silent reading lalu dilanjut membahas buku, menarik banget. Krn walaupun aku sukaaaa bgt membaca, tp blm pernah membaca dalam bentuk grub dan membahas isinya bersama gini mba.

Tapi kalau ditanya versi yg aku rindukan di zaman dulu, kayaknya aku ga ada deh. Krn melihat diri yg dulu, rasa malu, Krn samasekali terlalu manut dengan apa kata orang 😔. Jadi sejujurnya aku lebih suka diri yg skr , yg berani bilang ga utk sesuatu yg aku ga suka.
Bunda Saladin mengatakan…
Aih, ini book club ya Mbak? Menarik sekali.
Paling happy pas baca part "merdeka adalah berdamai dengan masa lalu" dan ini deep banget sih, asli.
BTW novel Pulang daku belum baca nih, jadi penasaran.
Okti Li mengatakan…
Menjadi diri sendiri bukan berarti tidak peduli terhadap sekitar, ya... Tapi kemampuan bagaimana memahami siapa diri kita. Bisa menerima perubahan yang terjadi, dan tetap memiliki keberanian untuk menjalani kehidupan dengan cara yang paling sesuai.

Saya juga memiliki pandangan yang serupa, kalau arti kemerdekaan bagi setiap orang bisa berbeda. Bagi saya hampir sama, kemerdekaan adalah ketika seseorang mampu menjadi dirinya sendiri tanpa terus-menerus terjebak dalam ekspektasi maupun validasi dari orang lain. Mau ngapain selama tidak mengganggu ketertiban umum ya bebas aja

Btw saya juga jadi pengen baca lagi Pulang nya Tere nih
Tukang jalan jajan mengatakan…
Sesi Her Story-nya beneran kerasa hangat dan relate banget, terutama pas bagian refleksi diri setelah jadi istri dan ibu. Memang ya, kompromi itu bukan berarti kita kehilangan jati diri, tapi bentuk kedewasaan buat menjaga keseimbangan. Bagian merindukan versi diri yang dulu bisa blak-blakan bilang "nggak" juga jleb banget. Makasih udah berbagi cerita se-intim ini. Acara kayak gini bukan cuma sekadar book meet up, tapi beneran jadi ruang aman buat saling merangkul dan recharge energi.
Yuni Bint Saniro mengatakan…
Pertanyaan tentang apa yang kamu rindukan dari dirimu versi dulu ini terasa kayak ngajakin nostalgia banget ke masa-masa lalu ya.

Tapi, benar kata kakak. Sekarang ini kita memang kudu bisa beradaptasi dengan situasi dan kondisi. Selagi masih baik dan nggak melanggar aturan apapun, gaskeun.
Fenni Bungsu mengatakan…
Pas momen pertanyaan, sesuatu banget ya Kak. Pastinya, makin bertambah usia, untuk melakukan multitasking jadi berkurang ya Kak. Namun ga masalah Kak, karena meski ada hal² yang mungkin ga sama seperti dulu, tapi di momen seperti ini tentunya bisa melakukan kegiatan produktif lainnya, seperti dengan bergabung bareng komunitas yang saling memahami seperti ini.
Katerina mengatakan…
“Menjadi diri sendiri bukan berarti tidak peduli terhadap sekitar, melainkan mampu memahami siapa diri kita. Menerima perubahan yang terjadi, dan tetap memiliki keberanian untuk menjalani kehidupan dengan cara yang paling sesuai.”

Aku suka bagian itu. Menurutku, justru di situ letak tantangannya: kita sering merasa harus memilih antara menjadi diri sendiri atau menyesuaikan diri dengan keadaan. Padahal keduanya ternyata bisa berjalan beriringan, ya. Yang penting, dalam proses menyesuaikan diri kita tidak sampai kehilangan suara dan keberanian untuk menentukan apa yang memang baik bagi diri kita.
Dee_Arif mengatakan…
Ah iya
Aku juga gitu
Biasanya kalau ketemu komunitas yang satu frekuensi, bahagianya berlipat
Nggak cuma sharing cerita tapi juga bisa jadi support system untuk menjaga mental health
AlineaLala mengatakan…
Suka banget nih aku sama agenda komunitas di balik halaman tanbu, pemilihan tempatnya oke banget. Tema acaranya pun udah bikin berkaca-kaca sih.

Sesi silent reading, lalu review buku, dan sharing terkait pertanyaan yang sederhana namun mampu membawa kita jauh ke belakang dan rasa yang tercipta pasti lumayan menguras rasa.

Ngomongin buku Pulang, aku sukaaa sama buku yang satu ini, bagus buatku.
Ditopuccino mengatakan…
Cerita tentang Shankara Koffie terasa seperti sedang ngobrol dengan orang di balik kedai, bukan sekadar melihat sebuah bisnis dari meja pengunjung.

Justru bagian tentang perjalanan dan alasan di balik usaha kopinya ini yang paling menarik buat aku.

Kadang kita datang ke kedai cuma untuk ngopi satu jam, padahal di balik secangkir kopi ada cerita panjang tentang keberanian memulai, jatuh-bangun, sampai mempertahankan sesuatu yang sudah dibangun.

Aku juga suka konsep “Her Story”-nya. Perempuan dan kopi memang sering dibahas dari sisi konsumsi atau gaya hidup, padahal ada banyak cerita tentang perempuan yang ikut membangun ekosistemnya.

Jadi setelah baca ini, rasanya ngopi bukan cuma soal kafein, tapi juga soal menghargai cerita orang di balik cangkirnya. ☕
Ariefpokto mengatakan…
Sebuah pertemuan dalam komunitas yang sangat bagus karena selain bisa berbagi pengalaman dan juga ilmu tapi bisa menjadi sesi penyembuhan bagi orang-orang yang membutuhkan sehingga saling memberdayakan dan juga mensupport masing-masing
Heni Hikmayani Fauzia mengatakan…
Seru yaa kegiatannya mbak...dari membaca buku barengan hingga akhirnya bisa saling bertukar pikiran tentang arti makna pertemanan.
Antung apriana mengatakan…
seru banget acaranya rutin ya, mbak dan anggotanya juga banyak nih. Aku belum pernah sih ikutan acara silent reading gini padahal sekarang di banjarmasin juga sudah ada yang sering mengadakan kegiatan ini
Asri M Lestari mengatakan…
Acaranya selalu menarik mbak. Sesi silent reading dengan tema tertentu. Terus saling berbagi cerita, rasanya menyenangkan.

Ngomong-ngomong soal merantau, sebagai perantau saya juga paham gimana rasanya merindukan kampung halaman. Rasanya ingin menyusuri kembali semua sufutnya.
Aprillia Ekasari mengatakan…
Aku belum pernah baca Pulang nih mbak, keknya aku masukin wish list buku deh. Soalnya aku juga perantau :D
Wah ada sesi sharing tentang yang dirindukan di masa lalu yaa, keknya aku juga bakalan emosional sih karena banyak hal yang kurindukan dan kadang ada yang disesali.
Lumayan ya ada wadah2 pertemuan kek gini tempat bercerita dan mencurahkan isi hati, apalagi sefrekuensi gitu orang2nya :D
Alienda mengatakan…
Aah aku jadi kangen banget acara bedah buku rutin di rumah belajar literasi bandung dulu. Seseru itu memang kalau sefrekuensi tuh ya Mba..Jadi penasaran juga sama suasana Shankara Koffie
HazinMaLeo.blogspot.com mengatakan…
punya komunitas yang sesuai dengan hobi kita adalah dambaan banget karena bisa membangkitkan semangat dan gairah untuk terus hidup. dan tempat ngopi seperti shanjara kopi bisa jadi alternatif untuk bisa berlama-lama di sana