Safari Literasi, Menyatukan Aspirasi

Foto bersama khusus ibu-ibu

Pijarinspirasi.com-Jumat siang, 22 Mei 2026, udara di sekitar Batulicin terasa hangat. Namun, kehangatan yang lebih kuat justru hadir dari dalam gedung Batulicin Community Centre (BCC). Siang itu, puluhan pegiat literasi dari berbagai wilayah di Kabupaten Tanah Bumbu berkumpul dalam kegiatan bertajuk Safari Literasi yang digelar oleh Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Kabupaten Tanah Bumbu. Ini adalah safari literasi pertama yang dilaksanakan pada tahun 2026.

Sekitar 50 peserta hadir membawa semangat yang sama, meski datang dari latar belakang dan wilayah yang berbeda. Mereka adalah para penggerak taman bacaan yang selama ini berupaya menghadirkan ruang belajar, menumbuhkan kebiasaan membaca, serta menjaga keberlangsungan kegiatan literasi di tengah masyarakat.

Di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat, pertemuan tersebut menjadi ruang untuk saling bertukar pengalaman dan menguatkan langkah. BCC pun tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga ruang bertemunya gagasan, pengalaman, dan harapan tentang masa depan literasi di Tanah Bumbu.


 BCC, Ruang Belajar yang Terbuka untuk Masyarakat


Kegiatan Safari Literasi dibuka oleh Irfan Nurhidayat selaku perwakilan PT Arutmin Indonesia Tambang Batulicin. Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa Batulicin Community Centre dibangun sebagai ruang belajar yang terbuka, inklusif, dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat tanpa dipungut biaya.

Menurut Aa' Irfan (sapaan akrab beliau, tapi saya pribadi tetap memanggilnya Pak Irfan), BCC tidak hanya menyediakan fasilitas fisik, tetapi juga menjadi tempat bagi masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan mengembangkan keterampilan.


Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai program yang telah berjalan, di antaranya kursus komputer dan kelas bahasa Inggris. Program tersebut dapat diikuti secara gratis oleh pelajar, masyarakat umum, hingga kelompok perempuan yang ingin meningkatkan kemampuan dan mengembangkan potensi diri.

Kehadiran Safari Literasi di BCC menjadi bagian dari semangat yang sama, yaitu membuka akses belajar seluas-luasnya bagi masyarakat. Jika BCC memberikan ruang untuk mengembangkan keterampilan, maka para pegiat TBM turut menghadirkan ruang untuk menumbuhkan minat baca, memperluas pengetahuan, dan membangun budaya belajar dari lingkungan terdekat.
Nobar ''Tumenggung Jalil"

Setelah pembukaan, suasana aula perlahan berubah. Lampu ruangan diredupkan dan perhatian peserta tertuju pada layar besar di bagian depan. Agenda kemudian dilanjutkan dengan kegiatan nonton bareng karya sineas lokal yang tergabung dalam komunitas Sineas Banua. Awalnya saya mengira kami akan nobar film fenomenal "Pesta Babi" tapi tenyata meleset. He..he...(Sepertinya tidak akan ada yang berani mengadakan nobar film itu di Tanbu)

Akhirnya kami nonton gilm berjudul Tumenggung Jalil. Film tersebut mengangkat kisah perjuangan rakyat Kalimantan Selatan dalam melawan penjajahan. Melalui cerita yang disajikan secara visual, penonton diajak mengenal kembali sejarah perjuangan masyarakat Banua serta nilai-nilai keberanian, keteguhan, dan kecintaan terhadap tanah air.

Visual yang kuat, akting para pemain, serta musik yang mengiringi cerita membuat suasana pemutaran film terasa hidup. Beberapa peserta tampak menyimak dengan penuh perhatian hingga film berakhir. Kebetulan sutradaranya ikut hadir di sana, jadi semoga ada sesi diskusi terkait film tersebut langsung dengan sumbernya. 

Gongnya menurut pak sutradara, film itu sempat dirombak total karena ada pernyataan keberatan dengan isi film dari pihak tertentu. Padahal film sudah jadi lho, bisa dibayangkan berapa digit melayang, tapi demi keamanan bersama akhirnya film pun dirombak total. Pak sutradara sempat bercerita bahwa tantangan terberat mengangkat sejarah ke layar kaca biasanya berasal dari keturunan "masa lalu". Sebagian pihak merasa film-film berlatar belakang sejarah seperti itu berpotensi mematikan karakter lihat tertentu.

 Padahal menurut saya pribadi ya tidak masalah to, kan itu fakta. Dari sini saya sempat berpikir jangan-jangan buku-buku sejarah pun banyak yang tidak otentik lagi, karena permintaan dari pihak-pihak tertentu. Tapi itu hanya kasak kusuk di antara kami saja, karena MC akhirnya mengalihkan suasana dengan kudapan. 
Ngemil kacang rebus ditemani es krim dari Warmindo

Sebenarnya bagi para pegiat taman bacaan yang sehari-hari dekat dengan buku dan kegiatan membaca, sesi tersebut memberikan pengalaman berbeda. Sejarah tidak hanya dipelajari melalui tulisan, tetapi juga dapat dipahami melalui gambar, suara, dan cerita yang ditampilkan di layar.

Kegiatan nonton bersama itu sekaligus mengingatkan bahwa literasi memiliki ruang yang luas. Literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca teks, tetapi juga kemampuan memahami pesan, menafsirkan informasi, serta merawat ingatan sejarah melalui berbagai media.

 Sebuah Buku dan Pesan tentang Keberlanjutan


Usai pemutaran film, kegiatan berlanjut  dengan sesi ramah tamah dan diskusi seputar pertumbuhan literasi di Tanah Bumbu. Saya berkesempatan menyerahkan karya terbaru saya kepada Manajer BCC, yang biasa kami sapa Miss Hani sebagai bentuk apresiasi sekaligus simbol kolaborasi antara pegiat literasi dan lembaga yang mendukung kegiatan pemberdayaan masyarakat. Karena kebetulan perpustakaan di BCC memang baru dibuka jadi koleksinya masih terbatas.
Sri dan Miss Hani, sesi penyerahan karya

Kalau bagi saya pribadi penyerahan buku yang berlangsung sederhana ini, menyimpan makna yang mendalam. Karena sebuah karya yang ditulis dan dibagikan kepada ruang publik bukan hanya menjadi kumpulan halaman, melainkan juga menjadi cara untuk menyimpan pengalaman, menyebarkan gagasan, dan memperpanjang manfaat pengetahuan.

Melalui momentum tersebut, saya mewakili Rumah Baca Cahaya Ilmu juga menyampaikan pentingnya kerja sama dalam menjaga keberlangsungan gerakan literasi. Upaya menumbuhkan budaya membaca tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dukungan dari komunitas, lembaga, dunia usaha, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam memastikan kegiatan literasi terus berjalan dan menjangkau lebih banyak orang. Aslinya lebih tepat disebut menyampaikan unek-unek sih he...he....

Waktu itu kami bertiga yang kebagian mic, saya, Kak Ros dari Komunitas Di Balik Halaman dan Happy dari komunitas Nyalabook.

Di sini lah sesi curhat saya dimulai 😀jadi waktu itu saya bercerita tentang perjalanan Rumah Baca Cahaya Ilmu  dalam mendampingi anak-anak dan masyarakat melalui berbagai kegiatan membaca, belajar, serta lokakarya kreatif. Perjalanan yang dimulai dari ketersediaan buku yang terbatas tersebut terus berkembang melalui berbagai program yang dirancang untuk mendekatkan anak-anak pada buku dan kegiatan literasi. Nah kami punya program unggulan yaitu Mak Darsi dan Moving Book (Insyaallah saya bahas di tulisan berikutnya).

Sementara itu, Di Balik Halaman Tanbu memperkenalkan kegiatan literasi yang berfokus pada diskusi buku, jurnaling, dan ruang berbagi gagasan. Komunitas ini berupaya menghadirkan tempat bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk membicarakan buku serta menyampaikan pandangan setelah membaca. 

Nyalabook turut berbagi pengalaman dalam mengemas kegiatan literasi agar lebih dekat dengan perkembangan zaman. Melalui pendekatan yang kreatif dan pemanfaatan jejaring, komunitas tersebut berupaya menghadirkan kegiatan membaca yang menarik, relevan, dan dapat diterima oleh generasi muda.

Dari sini kami paham bahwa setiap komunitas memiliki cara dan karakter gerakan yang berbeda. Namun, semuanya bertemu dalam tujuan yang sama, yaitu menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

Diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Peserta tidak hanya mendengarkan paparan, tetapi juga menyampaikan pertanyaan serta berbagi pengalaman. Berbagai persoalan yang sering dihadapi pengelola TBM turut dibahas, mulai dari menjaga minat pengunjung, mencari dukungan pendanaan, hingga mengembangkan kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Pertukaran pengalaman tersebut menjadi kesempatan bagi para pegiat untuk saling belajar. Bagi sebagian peserta, cerita yang disampaikan mungkin menjadi jawaban atas tantangan yang selama ini dihadapi. Bagi yang lain, pertemuan tersebut menjadi sumber inspirasi untuk mengembangkan kegiatan baru di daerah masing-masing.


Waktu berjalan tanpa terasa. Setelah melalui rangkaian kegiatan yang penuh pembelajaran dan diskusi, Safari Literasi FTBM Kabupaten Tanah Bumbu ditutup dengan sesi foto bersama. 

Seluruh peserta, pengurus TBM, narasumber, serta perwakilan BCC berdiri berdampingan di depan panggung. Senyum tampak menghiasi wajah mereka. Dalam satu bingkai, terekam orang-orang yang selama ini bekerja dari berbagai ruang dan wilayah untuk menjaga semangat literasi tetap hidup. (Pada sesi ini saya lagi-lagi Tidka masuk frame 😅) tapi akhirnya foto bareng khusus ibu-ibu (edisi maksa sebenarnya, biar ada wajah saya dalam frame).
Foto sama Kak Nina di perpusnya BCC


Sebagian datang dari komunitas yang telah lama berjalan, sementara yang lain masih terus membangun dan mengembangkan kegiatan. Meski memiliki perjalanan yang berbeda, pertemuan itu memperlihatkan bahwa gerakan literasi di Tanah Bumbu tidak berjalan sendiri-sendiri.

Ketika kegiatan berakhir, para peserta kembali ke wilayah masing-masing. Aula BCC perlahan kembali tenang. Namun, gagasan yang dibagikan, pengalaman yang dipertukarkan, dan hubungan yang terjalin selama kegiatan tidak berhenti di ruang pertemuan tersebut.

Safari Literasi mungkin hanya berlangsung dalam satu hari. Namun, semangat yang dibawa pulang para peserta diharapkan dapat tumbuh kembali melalui kegiatan-kegiatan sederhana di taman bacaan, sekolah, komunitas, maupun lingkungan masyarakat.

Dari Batulicin, semangat itu kembali bergerak menuju berbagai penjuru Tanah Bumbu, membawa keyakinan bahwa literasi akan terus hidup selama masih ada orang-orang yang bersedia membuka ruang, berbagi pengetahuan, dan menyalakan harapan melalui buku serta berbagai bentuk pembelajaran.

Oleh. Sri Purwanti 
(Founder Rumah Baca Cahaya Ilmu)


Posting Komentar

22 Komentar

dinda mengatakan…
Melihat para pegiat taman baca dari berbagai wilayah berkumpul, saling bertukar pengalaman, sekaligus menyampaikan tantangan yang mereka hadapi tuh insightfull banget Mbak.

Kalau ada agenda kayak ngumpul pegiat gini, diisi sama bedah buku rasanya umum sekali. Justru dengan adanya pemutaran film, open discussion dan kolaborasi bareng rasanya kumpul sesama taman baca jadi lebih hidup dan ndak monoton.

Semoga program giat literasi kayak gini, bener-bener nggak cuma berakhir dengan sesi dokumentasi, tapi bisa saling berkolaborasi dan saling dukung sesama pemilik taman baca baik yang masih baru atau yang sudah lama berkembang. Semangaattt!! :D
Mang Duyeh mengatakan…
Salut deh bagaimana sebuah perusahaan pertambangan ini, PT Arutmin Indonesia Tambang Batulicin. Punya kepedulian yang besar terhadap kegiatan-kegiatan literasi seperti ini, sampai dibuatkan juga Batulicin Community Centre untuk digunakan sebagai ruang belajar yang inklusif.
Hal ini tentu saja jangan sampai di sia siakan begitu saja, harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Sangat menarik Semoga kedepannya akan banyak lagi kegiatan-kegiatan seru seperti ini di setiap daerah, bukan cuma di batulicin saja.
Baguuus ih acaranya. Apalagi diadakan oleh suatu community dari perusahaan tambang. Benar2 berharap bisa jadi tempat masyarakat di sana untuk belajar dan menambah ilmu. Apalagi ada diksh kursus gratis pula.

Ada Acara menonton bersama. Aku blm tahu malah film ini mba. Cuma sayang yaa kalau sempat dirombak total. Jadi melenceng dari cerita aslinya dong 😅😅.

Aku pun gara2 beberapa waktu lalu ada pejabat negara yg mau mengubah sejarah 1998 ttg pemerkosaan massal, jadi males baca sejarah yg skr. Jangan2 diubah sesuai keinginan beliau2 itu. Belum lagi cerita ttg G 30 S P K I yg juga brainwash dari penguasa orba. Segitunya sejarah diutak Atik.

Jadi pengen tahu ttg program yg mbak lakuin, Mak Darsi dan moving book. Ditunggu ceritanya lagi
Fenni Bungsu mengatakan…
Sukses selalu untuk FTBM di sana. Gelaran yang ciamik diadakan, karena memang penting kegiatan literasi ini, biar banyak orang yang makin gemar dengan membaca. Apalagi ada pula momen nobar film, walau film pertama urung dilakukan (sama sih di sii juga ada tadinya nobar film itu, tapi batal tayang) tetapi bisa berlanjut nobar film sejarah yang bts nya ternyata gong banget yak
Okti Li mengatakan…
Keren nih pegiat literasi dari kabupaten Tanah Bumbu berkumpul dalam kegiatan Safari Literasi.

Jujur jaman sekarang masyarakat tuh udah mulai lupa akan literasi baca yg seharusnya jadi pendidikan karakter sejak dini.

Beruntung sekali ini Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Kabupaten Tanah Bumbu menginisiasi acara bagus ini.

50 peserta hadir itu bukan orang sedikit l. Apalagi mereka datang dari latar belakang dan wilayah yang berbeda. Semoga para penggerak taman bacaan yang selama ini berupaya menghadirkan ruang belajar, menumbuhkan kebiasaan membaca, serta menjaga keberlangsungan kegiatan literasi di tengah masyarakat dimudahkan dalam segala urusannya. Jasanya terhadap anak bangsa dan negara ini luar biasa...
Fajarwalker.com mengatakan…
Salfok sama diksinya 'safari literasi'. Nganu, ini kalo saya rutin blogwalking, apakah termasuk dalam kegiatan safari literasi juga? tapi versi digital, hihihi.

Aku kebayang si itu perjuangan sutradara dan produser filmnya. Udah jadi lho, mosok ya diulang lagi. Tapi begitulah sejarah. Kadang sejarah bukan hadir untuk membawa fakta, tapi justru demi melindungi sebuah nama.

Senang melihat percikan semangat membaca ini masih terus mengudara. Semoga terus berkembang ya. Jangan kayak wapres dari negara wakanda yang nganu....
Yuni Bint Saniro mengatakan…
Program kursus bahasa inggrisnya ini. Mana gratis pula. Harusnya banyak peminatnya nih. Secara, kemampuan berbahasa inggris tuh sekarang sudah kayak basic skill kan.
nurul rahma mengatakan…
Gregeett banget! Mantab kolaborasi antara komunitas dan perusahaan besar, ya.
Terus bersemangat untuk menggelorakan gerakan literasi. Menebar banyak manfaat juga ya kan.
Semogaaa makin jaya, jaya, jayaa!
Katerina mengatakan…
Konsepnya bagus. Rasanya literasi memang akan terasa lebih hidup kalau bukan cuma mengajak orang membaca, tapi juga membuka ruang untuk berdiskusi, saling bertukar sudut pandang, dan menyampaikan aspirasi. Menurutku, gerakan seperti ini juga mengingatkan kalau membangun budaya literasi memang butuh proses dan kolaborasi banyak pihak, tapi dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten justru bisa lahir perubahan yang besar. Sukses ya!
Didik Purwanto mengatakan…
Salut banget buat penggiat literasi daerah yang makin sukses bgt acaranya. Aku kira hanya soal buku, tapi udh sampe film loh. Diskusinya jg keren, lgsg ama sineas lokal. Cerita suka duka jadi sineas lokal. Bakal menginspirasi yg lain buat mengikuti jejaknya tuh.

Penasaran dgn program Moving Book ini. Apakah saling pinjam buku ke sesama anggota? Atau hal lainnya? Ga sabar nunggu ceritanya nih.
AlineaLala mengatakan…
Jujur, salut banget sama acaranya beneran bagus dan bermanfaat. Safari Literasi di BCC, ini beneran ruang untuk para pegiat literasi dari berbagai daerah untuk sharing pengalaman, bahkan menambah wawasan, ide-ide kreatif untuk terus mengembangkan dunia literasi.

Mudah-mudahan segala upaya-upaya baik ini bernilai pahala, dan berdampak positif bagi generasi terkini supaya makin mencintai dan merawat literasi denga semestinya. Menonton film bersama pun menyadarkan bahwa literasi memang luas Cangkupannya dan bisa lebih inovatif dalam proses penyajiannya. Momen serah terima buku, keren sekali mbak.
Tukang jalan jajan mengatakan…
Kehangatan acaranya kerasa sampai sini. Paling senyum-senyum sendiri pas bagian curhatan nobar sama perjuangan "biar masuk frame" foto ibu-ibu, relatable banget.
Apresiasi tinggi buat teman-teman pegiat literasi di Tanbu yang terus menyalakan semangat membaca. Senang juga lihat kolaborasi manis bareng BCC dan penyerahan karyanya. Sukses terus buat Rumah Baca Cahaya Ilmu dan gerakan literasinya, ya!
Bambang Irwanto mengatakan…
kegiatan yang keren sekali. para pengiat literasi berkumpul, saling tukar pengalaman, sehingga dari sini nantinya tidak hanya akan menambah pengalaman, tapi saling memberi masukan, Apa yang sudah dicapai seamakin ditingkatkan, apa yang bisa diperbarui dan ditambah lagi, Pastinya dari kegiatan ini, akan ditularkan lagi ke labih banyak orang, sehingga literasi terus berjalan dengan baik.
Aprillia Ekasari mengatakan…
Wah siapa itu yang mengintervensi filmnya? Apakah pihak pemerintah? *eh
Yes setuju banget mbak, literasi tidak hanya berkaitan dengan membaca dan menulis, film juga salah satu bagiannya, supaya menumbuhkan kemampuan mengamati, menafsirkan, menyimpulkan yaa.
Dulu aku suka ngajar anak kecil nulis, trus salah satu bagian sesinya nonton film dulu :D
Ikut sennag karena di sana pegiat literasi masih banyak dan mau menyempatkan waktu buat berkumpul di era di mana pemerintahnya nggak berpihak pada literasi maupun pendidikan.
Bener, ini menandakan masih ada harapan buat negeri ini untuk menyuarakan tentang pentingnya literasi, pentingnya pengetahuan, dll ya. Semoga kegiatannya bisa dilakukan rutin dan membawa manfaat buat masyarakat, minimal banget buat keluarga sendiri.
Ariefpokto mengatakan…
Bagus sekali acara Safari literasi ini selain menjadi ajang silaturahmi bisa juga menjadi ajang penambahan wawasan dan juga pengalaman serta ilmu pengetahuan di bidang sastra dan juga literasi sehingga memantik semangat menulis dan membaca untuk kemajuan bersama semoga diadakan secara rutin supaya bisa terus membakar semangat literasi
Dewi Rieka mengatakan…
Salut banget dengan semangat para, pegiat literasi apa lagi di daerah yang jauh dari ibukota, lebih terbatas buku dan fasilitasnya tapi mampu menghadirkan taman bacaan untuk masyarakat sekitar.. pertemuan seperti ini membuat kita jadi lebih semangat yaa..
Antung apriana mengatakan…
mbak srie keren banget euy di sana kegiatan literasinya aktif banget. jadi ingat diriku sebenarnya anggota forum lingkar pena tapi sulit sekali rasanya mengadakan kegiatan literasi seperti itu di banjarmasin sekarang
Salut sama yang masih getol dengan aktivitas seperti ini
Memang pegiat literasi itu butuh selalu mengobarkan semangat
Apa pun kegiatannya pastinya jangan sampai putus dan berjeda supaya tetap menyala
Asri M Lestari mengatakan…
Keren sekali para pegiat literasi ini. Kegiatan Safari Literasinya seru. Ada pemutaran film segala. Semoga kegiatan positif seperti ini bisa terus berlanjut dan menjadi contoh bagi yang lainnya.
Dyah Kusuma mengatakan…
Salut banget dengan sepak terjang pegiat literasi. Tidak mudah untuk membumikan literasi di Indonesia tetapi mereka pantang menyerah
Dengan adanya safari literasi in menjadi mood booster ya mbak
Btw baik film ataupun buku sejarah menurutku ditunggangi pihak tertentu yang mempunyai kepentingan dan berpengaruh jadi wajar saja ada yang minta dirombak filmnya karena ga sesuai dengan keinginannya
Diah Kusumastuti mengatakan…
Wah, dari cerita tentang film yang diputar itu, saya jadi ikut kepikiran soal buku-buku dan media-media lainnya yang mengulas sejarah. Pasti ada atau mungkin banyak yang dibelokkan, ya. Hehe.
Tapi yang penting kita usahakan ada budaya literasi yang baik, ya, sehingga orang tak mudah percaya begitu saja pada suatu informasi. Harus cek dan ricek dulu.
Makasih sharingnya, Mbak :)
HazinMaLeo.blogspot.com mengatakan…
kegiatan semacam ini harus terus digalakkan untuk menutupi rendahnya literasi di indonesia. sayangnya support dari pemerintah terasa sangat kurang, apalagi di tengah efisiensi anggaran. pasti sangat memberatkan