Journaling is Healing

Foto bersama selesai menyusun jurnal

PijarInspirasi.Com-Minggu sore, 7 Juni 2026, menjadi salah satu hari yang meninggalkan kesan hangat dalam ingatan saya. Di tengah rutinitas yang kadang terasa padat dan melelahkan, saya berkesempatan mengikuti kegiatan journaling bersama komunitas Dibalik Halaman Tanbu, yang diselenggarakan di Shankara Coffie. Sebenarnya ini sudah pertemuan keenam, tapi saya baru mendapat kesempatan untuk bergabung.

Sejak awal acara dimulai, saya sudah merasakan energi yang berbeda. Ada perasaan nyaman ketika berada di tengah orang-orang yang datang dari latar belakang yang beragam. Ada yang bekerja di bidang pendidikan, kesehatan, industri kreatif, bisnis, hingga ibu rumah tangga. Namun perbedaan itu tidak menciptakan jarak. Justru sebaliknya, kami dipertemukan oleh satu kesamaan, yaitu keinginan untuk belajar, dan bertumbuh.
Sesi perkenalan member baru


Kegiatan diawali dengan sesi membaca senyap. Suasana ruangan yang tenang membuat setiap peserta larut dalam buku masing-masing. Tidak banyak suara selain lembar demi lembar halaman yang dibuka. Di tengah keheningan itu, saya merasa seperti sedang memberi ruang bagi diri sendiri untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan.

Setelah sesi membaca, kami diminta membagikan ulasan buku yang telah dibaca. Saya memilih memperkenalkan buku  dengan judul Nak, Kamu Gakpapa Kan? karya Mas Koko Ganteng.

Membaca senyap

Review buku yang dibaca

Uborampe untuk review buku dan journaling

Meski tidak terlalu tebal, buku itu menyimpan emosi yang begitu dalam. Beberapa kali saya harus berhenti membaca karena mata mulai berkaca-kaca. Kisahnya berbicara tentang luka pengasuhan dan kebutuhan emosional seorang anak yang tidak selalu terlihat oleh orang-orang di sekitarnya.

Ada bagian yang begitu menampar hati. Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang paling nyaman justru digambarkan sebagai ruang yang terasa asing dan sunyi. Membacanya membuat saya merenung bahwa anak-anak tidak hanya membutuhkan makanan, pakaian, atau pendidikan yang baik. Mereka juga membutuhkan pelukan, perhatian, dan perasaan bahwa mereka didengar.
Salah satu isi halaman buku yang direviw

Dari buku itu, saya membawa satu pelajaran penting, luka pengasuhan harus berhenti pada kita. Cukup kita yang pernah merasakannya. Anak-anak kita tidak perlu mewarisi luka yang sama. Mereka berhak tumbuh dalam rumah yang penuh cinta, penerimaan, dan rasa aman.

Diskusi buku berlangsung hangat ditemani segelas kopi atau teh kesukaan masing-masing. Saya menikmati setiap cerita dari buku yang di review kawan-kawan lain, tentunya berbagai genre. Dari sini sebenarnya sudah bisa terlihat, perbedaan passion dan kesukaan tidak menjadi penghalang bagi kamu untuk duduk bersama dan bertukar inspirasi.

Kemudian tibalah sesi yang paling saya tunggu, yaitu journaling.

Sebelum praktik dimulai, Kak Utari selaku founder Dibalik Halaman membagikan materi tentang junk journaling. Beliau menjelaskan bahwa journaling bukan sekadar menempel gambar atau membuat halaman yang indah secara visual. Journaling adalah ruang aman untuk mengekspresikan perasaan, menyimpan kenangan, dan berdialog dengan diri sendiri. Karena ingatan manusia terbatas, jadi kita harus berusaha menjaga moment yang pernah diukir, agar suatu saat nanti bisa dikenang kembali, salah satu caranya dengan membuat jurnal.
Pemaparan materi oleh founder DBHT


Penjelasan itu membuat saya semakin tertarik. Selama ini saya mengira journaling hanya tentang menulis catatan harian. Ternyata lebih dari itu. Journaling bisa menjadi cara sederhana untuk merawat kesehatan mental dan memberi ruang bagi emosi yang sering kali terpendam.

Tak lama kemudian, meja-meja dipenuhi berbagai perlengkapan. Ada potongan gambar dari majalah, koran,  stiker, nota lama, kertas warna-warni, hingga foto keluarga yang dibawa peserta dari rumah.

Kami mulai menyusun potongan-potongan itu menjadi halaman yang bermakna. Awalnya saya sempat bingung harus memulai dari mana. Namun perlahan ide datang dengan sendirinya. Setiap gambar, setiap stiker, dan setiap tulisan kecil yang saya tempel ternyata membawa cerita.

Nota lama yang hampir dibuang mendadak berubah menjadi pengingat sebuah momen. Potongan-potongan quotes menghadirkan kembali rasa syukur yang mungkin selama ini luput saya sadari. Tentunya, saya tidak lupa menempelkan stiker bergambar secangkir kopi yang membuat halaman jurnal saya terasa semakin istimewa. Ibarat kata "di mana ada ummi di situ harus ada kopi."
Proses jurnaling

Di tengah proses itu, saya menyadari sesuatu. Ternyata yang menyembuhkan bukan hanya hasil akhirnya, melainkan prosesnya.

Saat memilih gambar, menyusun potongan kertas, menempel satu demi satu kenangan, lalu menuliskan isi hati di atas halaman kosong, saya merasa sedang berbicara dengan diri sendiri. Ada ruang yang selama ini mungkin terlalu bising oleh berbagai tuntutan hidup, lalu perlahan menjadi tenang.

Pikiran yang semula penuh terasa lebih ringan. Kekhawatiran yang berputar-putar di kepala seakan melambat. Untuk beberapa saat, saya tidak memikirkan pekerjaan yang menumpuk, daftar tugas yang belum selesai, ataupun berbagai hal yang sering membuat dada terasa sesak. Saya melepaskan semua pikiran dan benar-benar menikmati  "hanya hadir di momen itu". Dan di situlah saya memahami makna kalimat Journaling is Healing.

Menulis, menempel, dan merangkai kenangan ternyata bisa menjadi bentuk penyembuhan yang sederhana. Bukan karena semua masalah langsung selesai, melainkan karena kita memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk merasa, menerima, dan melepaskan.

Suasana sore itu semakin hangat dengan secangkir kopi atau teh favorit di tangan masing-masing peserta. Aroma kopi berkolaborasi dengan teh dan matcha yang memenuhi ruangan menjadi teman yang pas untuk membaca, berdiskusi, dan berproses bersama.

Menjelang acara berakhir, saya pulang dengan membawa lebih dari sekadar hasil journaling. Saya membawa pengalaman baru, inspirasi baru, serta kesadaran bahwa merawat diri tidak selalu harus dilakukan dengan cara yang rumit.

Kadang-kadang proses penyembuhan bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana, duduk sejenak, memberi ruang pada diri sendiri, lalu menuangkan isi hati ke dalam sebuah halaman.

Sore itu, di sebuah sudut Shankara Coffee, saya tidak hanya belajar tentang journaling.

Saya belajar tentang mendengarkan diri sendiri. Menyemangati diri, karena ternyata motivator terbaik itu ya diri kita sendiri.
Dan mungkin, itulah awal dari proses healing yang sesungguhnya. 

Oleh. Sri Purwanti 



Posting Komentar

21 Komentar

Heni Hikmayani Fauzia mengatakan…
Journaling itu menyenangkan yaa mbak,,,bisa mengeluarkan dan release emosi serta perasaan kita. kegiatan yang sangat bermanfaat buat mengisi waktu. Apalagi diawali dengan kegiatan membaca buku
Srie Ummu Kayshwa mengatakan…
Benar sekali Kak, apalagi ini pengalaman baru bagi saya, jadi benar-benar excited
Yuni Bint Saniro mengatakan…
Kalau kupikir-pikir lagi, benar juga. Journaling itu bisa menyembuhkan karena kita memberi sedikit jeda pada diri sendiri untuk mau memproses sesuatu yang terjadi.

Sambil proses journaling, kita juga memberi diri kita kesempatan untuk menerima apapun yang terjadi.

karena bagaimana kita bisa menyelesaikan suatu masalah, kalau kita ngga mau menerima masalah itu adalah bagian dari diri kita. Iya nggak kak?
Mr. Regen mengatakan…
The real mengisi waktu dengan hal bermanfaat. Udahlah kegiatan jurnaling-nya sangat fun dan healing, apalagi ditemani teh hangat dan atau matcha yang menenangkan. Ok banget kegiatannya, Mbak dan bisa jadi rekomendasi untuk para ibu lainnya juga dalam menjaga kewarasan di tengah kesibukan mengurusi hal-hal domestik sehari-hari
Bunda Saladin mengatakan…
Udah lama banget gak journaling, terakhir pas masa kuliah dulu. Kalau journaling tapi nulis tangan dan nggambar manual aja bisa kan? Maksudnya gak usah pake acara nempel stiker dll.
Fajarwalker.com mengatakan…
Wah, journaling... Saya hampir gak pernah journaling lagi nih semenjak lulus sekolah dan lanjut kuliah, hiks. Padahal, sebenarnya journaling itu banyak sisi positifnya ya mbak. Termasuk untuk jadi penyaluran emosi, agar kelak bisa merawat kesehatan mental kita sendiri.
Makin kesini, semuanya serba digital euy. Kita hampir gak pernah menyentuh yang berhubungan sama pulpen dan pensil lagi.
Fenni Bungsu mengatakan…
Daku setuju kak dengan statemen-nya bahwa putus sudah mata rantai luka pengasuhan, jangan sampai berlanjut ke generasi berikutnya. Karena kalau terus berlanjut kesedihan ga akan pernah hilang alias malah merawat trauma yang lebih mendalam
Ire Rosana Ullail mengatakan…
Aku juga pengen itu bisa journaling yang bukan sekadar catatan harian. Tapi kok ya nggak jalan-jalan dari dulu. Padahal beberapa kali aku dapat sticker di acara-acara. Tadinya kupikir buat apaa ya? akhirnya kutempel di pintu almari. Sebenarnya akan lebih maksimal kalau kujadikan bahan journaling yak.

Kalau dilihat dari prosesnya, emang beneran healing sihh, semacam kalau aku tu, nggambar gitu.
Okti Li mengatakan…
Maaf kalau komen saya agak oot nih
Terkait luka pengasuhan, saya juga menganggap nya sebagai hal yg sangat penting lho...
Karena luka pengasuhan harus berhenti pada kita, itu alasannya anak semata wayang saya ikhlaskan mondok sejak usia 12 tahun dan kebetulan dapat penempatan kampus di luar Jawa. Ribuan km dari rumah
Saya harus tegar demi memperbaiki luka pengasuhan itu tadi. Cukup saya yang pernah merasakannya. Anak tidak perlu mewarisi luka yang sama. Anak berhak tumbuh dalam rumah yang penuh cinta, penerimaan, dan rasa aman. Termasuk masa depannya nanti
Alienda mengatakan…
Serunya journaling tuh bikin kita jadi lebih kreatif. Selain kita bisa menuangkan segala perasaan kita juga bisa jadikan album kenangan setiap lembarnya. Nantinya saat kita butuh kita bisa buka lagi dan mendapatkan kehangatan ketika membacanya kembali >.<
Tukang jalan jajan mengatakan…
Kok aku merasa ikutan adem dan healing yaaaa hehehehe! Vibes sore di Shankara Coffee bareng komunitas Dibalik Halaman Tanbu terasa hangat banget.
Bagian ulasan buku Mas Koko Ganteng itu nyesek tapi mencerahkan, setuju banget kalau luka pengasuhan harus berhenti di kita.
Seru juga ya, ternyata junk journaling sedalam itu maknanya. Bukan cuma soal visual yang estetik, tapi proses menyelami diri sendiri yang bikin plong. Plus, selipan prinsip "di mana ada ummi di situ ada kopi" itu relate banget, haha!
Mari kita berproses bersama sih ya
dinda mengatakan…
Kalau jurnaling saya kok jarang ya. Saya seringnya nulis diary mbak.. heheh...
Eh, itu jurnaling apa bukan sih? Ada yang bilang journaling, ada yang bilang bukan. Pokok begitulah..

Saya nulis diary tuh dari SMP sampe sekarang masih rutin nulis. Hasilnya pun selain lebih lega, kok saya pas baca kembali isinya, jadi terhibur juga. Huehehe ... 🤭
Didik Purwanto mengatakan…
Menyenangkan sekali proses journaling ini ya kak. Ini prosesnya beda ama mading/menempel kertas seadanya di buku harian gt ya kak? Penasaran dgn menjaga kesehatan mental dgn journaling ini. Aku sih malah stres krn hrs menempel2 sesuatu.

Tp lucu sih kalo dicoba. Kyknya penasaran dgn proses journaling kak Srie ini. Padahal pgn tahu hasil journalingnya spt apa dan bs dibacakan artinya. Biar yg blm pernah nge-journal bs tahu tuh. Hehe.
Antung apriana mengatakan…
Ada banyak ya cara jurnaling ini. Dulu aku ada baca tentang bullet jurnaling yang kalau dilihat sangat sistematik sementara yang mbak ikuti ini kayaknya lebih kreatif ya karena ada tempel menempelnya tapi memang sih salah satu yang menu yebangkan dari jurnaling itu ada di prosesnya
AlineaLala mengatakan…
Amazing sekali memang manfaat dari journaling ini. Beneran bisa bikin perasaan menjadi lebih baik. Apalagi di sesi journaling yang mbak ikuti bersama komunitas ini ada sesi baca senyap bahakn pembahasan terkait journaling secara terperinci. Terpenting, tempatnya juga super nyaman ya mbak.

Shankara Coffee, beneran tempat yang rekomen buat journaling dan banyak manfaat yang didapatkan dari kegiatan positif bersama orang-orang yang bisa saling berbagi energi baik.
Asri M Lestari mengatakan…
Seru ya mbak acaranya. Dari mulai membaca bersama, review buku sampai belajar journaling. Ternyata membuat jurnal bukan hanya sekedar menuangkan isi pikiran tapi juga bisa menjadi media healing. Lucu lho ada tempelan-tempelan stikernya juga.

Btw baca ini jadi penasaran sama novel "Nak, Kamu Gapapa, Kan?"
Dee_Arif mengatakan…
Wah seru banget nih
Journaling rame rame gini
Habis baca buku, langsung ditulis di jurnal ya?
Ih asik nih
lendyagasshi mengatakan…
Belajar banget dari proses membaca, lalu menulis journal..
Sebenernya ini semua kita belajar mengenai hal yang perlu kita "simpan" atau kita "relakan"

Seperti journaling.. meski terkesan menghias dari barang yang biasa orang buang, menjadi penghias sebuah tulisan yang mungkin ketika 10 tahun lagi kita buka, akan memunculkan banyak memori indah terkait rasa yang kita alami saat itu.

Selamat menyelami dunia journaling ((dan kopi di Shankara Coffee)).
Aprillia Ekasari mengatakan…
Nggak tahu kenapa aku tu sekarang nggak sabar lagi ngejurnal haha. Tapi aku seneng sih kalau ada kegiatan2 kek gini.
Ternyata pas udah mulai dijalani, menggunting, menempel, mengelem di jurnalnya malah nyaman yaa. Ini nggak tahu kenapa aku belum pernah coba lagi.
Padahal zaman gadis juga suka melakukannya. Dulu apa sih namanya nulis diary sih yaa. Sama tempel2 sticker gemes :D
Wah dimulai dengan kegiatan membaca buku lalu sharing2 juga soal bukunya yaa.
Pengen juga mencari bukunya Nak Kamu GPP, kan?
Cemil mengatakan…
Aku pernah ikut kelas semacam selflove mbak. Salah satunya memang diajarkan untuk bikin jurnal harian sebagai bagian dari healing dan selflove. Setuju bahwa gimanapun sulit atau kelamnya masa kecil kita, anak² tidak perlu mewarisinya
timduniamasak mengatakan…
aku juga dulu journaling cuma belum rutin lagi, pengen lanjut biar bisa healing :')