Dalam Islam sendiri, menulis menempati posisi yang istimewa. Lewat tulisan, syiar dan nilai-nilai kebaikan bisa tersampaikan secara luas sebagai wasilah dakwah. Allah Swt. menegaskan pentingnya literasi dan tulisan ini dalam Surah Al-‘Ankabut ayat 48:
“Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca sesuatu kitab pun sebelumnya dan tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; sekiranya (engkau pernah membaca dan menulis), niscaya ragu orang-orang yang mengingkarinya.”
Rasulullah saw. juga pernah berpesan agar kita mengikat ilmu dengan cara menuliskannya. Pesan ini terasa sangat relevan, mengingat daya ingat manusia yang begitu terbatas dan mudah pudar ditelan waktu.
Dari tuntunan tersebut, jelas bahwa tulisan adalah sarana ampuh untuk merawat dan menyebarkan ilmu. Tulisan membuat apa yang ada di kepala kita bisa melintasi ruang dan waktu, menjangkau orang-orang di luar lingkaran kita, bahkan generasi yang lahir jauh setelah kita tiada. Terlebih di era serba digital hari ini, ruang untuk berbagi tulisan terbuka selebar-lebarnya.
Menulis juga seperti memperpanjang usia kita sendiri. Umur biologis manusia memang ada batasnya; saat seseorang berpulang, sering kali namanya perlahan memudar hanya dalam hitungan bulan. Namun, mereka yang meninggalkan karya tulis akan terus hidup dalam ingatan, karena gagasannya tetap terbaca dan terasa dekat.
Ada sebuah hadis yang sangat meneduhkan tentang terputusnya amal manusia setelah meninggal dunia, kecuali tiga perkara, salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat (ilmun yuntafa'u bih). Menulis adalah jalan nyata untuk mewujudkan itu. Entah berupa petuah, ilmu terapan, atau sekadar cerita yang sarat hikmah, pahalanya akan terus mengalir selama masih ada orang yang memetik manfaat darinya.
Kita tentu akrab dengan nama-nama besar seperti Imam Al-Ghazali, Imam Bukhari, atau Imam Muslim. Ratusan tahun telah berlalu, tetapi karya-karya mereka tetap menjadi rujukan utama dunia. Lewat tulisan, usia pemikiran mereka terbukti jauh melampaui usia jasadnya.
Di sisi lain, menulis juga punya dimensi yang sangat personal, menjadi ruang pemulihan (healing) dan penata suasana hati yang kerap naik-turun.
Terkadang ada luka, duka, atau kekalutan batin yang sulit terucap lewat lisan. Di titik itulah lembaran kosong menjadi pendengar paling setia. Menulis memberi kita ruang aman untuk menumpahkan unek-unek tanpa takut dihakimi. Saat kata-kata itu tertuang, pikiran yang semrawut perlahan terurai, sudut pandang baru mulai terbuka, dan rasa tenang pun hadir secara perlahan membantu proses pemulihan batin.
Lalu, kenapa akhirnya aku harus terus menulis?
Sebenarnya sederhana saja, karena aku ingin berbagi. Baik berbagi kisah, ide, dan berbagi keindahan nilai-nilai Islam. Aku ingin merawat jejak kecilku untuk peradaban. Kelak saat usiaku di dunia sudah tuntas, anak cucu dan generasi setelahku masih bisa napak tilas lewat kata-kata yang pernah kutinggalkan, turut andil dalam kebaikan, meski hanya melalui sebaris tulisan.
Wallahu a’lam bish-shawab.
.png)
9 Komentar
Aku juga berharap semoga apa yang aku tulis dapat memberikan manfaat bagi siapa saja yang membacanya
Menulis udah jadi teman terali dan healing buat saya. Semoga ada manfaatnya sehingga saat meninggal nanti masih ada jejak kebaikan
Aamiin...
Makanya, aku dari dulu percaya kalau pengikat ilmu ya catatan.
Alhamdulillah dalam Islam pun kita sangat ditekankan untuk punya daya literasi yang baik, ya. Terbukti ayat pertama saja dengan lafadz Iqro. Dan, ulama-ulana terdahulu pun sudah memberi contoh juga bagaimana mereka selain berdakwah tetapi juga menghasilkan banyak tulisan yang bermanfaat bagi umat.
Yg penting menulis yg baik, bukan penuh caci-maki atau kebencian.
nggak nyangka menulis di blog pribadi bisa bertahan sampe sekarang. Senengnya lagi dari kegiatan ini, aku jadi punya banyak temen-temen blogger, meskipun belum semua pernah ketemu secara langsung