Namun, apakah upaya ini bisa berjalan tanpa hambatan? Ternyata dalam praktiknya, ikhtiar untuk bersahabat dengan anak sering menemui jalan buntu. Ketika ibu terlalu melonggarkan batas agar terlihat asyik dan kekinian, anak kadang malah salah mengartikannya. Mereka cenderung kehilangan kontrol. Mulai dari berbicara tanpa saringan, abai terhadap aturan rumah, atau bahkan kehilangan rasa hormat. Akhirnya, sebagian ibu terjebak dalam dilema. Satu sisi ingin dekat seperti teman, tapi di sisi lain takut anak menjadi ngelunjak dan tidak sopan. Sehingga ibu bisa kehilangan wibawa di hadapan anak-anaknya.
𝗕𝗶𝘀𝗮𝗸𝗮𝗵 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗦𝗮𝗵𝗮𝗯𝗮𝘁 𝗧𝗮𝗻𝗽𝗮 𝗞𝗲𝗵𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗪𝗶𝗯𝗮𝘄𝗮 ?
Lalu bisakah kita bersahabat dengan anak tanpa kehilangan wibawa sebagai orang tua? Jawabannya sangat mungkin. Kuncinya terletak pada pemahaman bahwa menjadi sahabat anak bukan berarti menyamakan kedudukan secara total, melainkan membangun kedekatan emosional sambil tetap memegang kendali sebagai orang, sekaligus pelindung mereka. Sehingga kita bisa menjaga anak dari tempat pelarian yang salah. Jadi agar bisa bersahabat tanpa kehilangan wibawa, kita harus memahami dulu mengapa kita sebagai ibu harus bisa bersahabat dengan anak. Lalu apa saja faktor yang menjadi alasan ibu harus bersahabat dengan anak-anaknya?
Seperti yang kita lihat remaja saat ini hidup di era digital yang perubahannya serba cepat. Jika anak tidak merasa nyaman berbicara dengan ibunya, mereka akan mencari tempat curhat lain. Sayangnya, tempat pelarian tersebut tidak selalu aman. Mereka bisa saja mengadu ke media sosial, teman sebaya yang belum matang secara emosional, atau lingkungan yang justru memberi pengaruh toksik. Ketika ibu berhasil menjadi sahabat, rumah akan selalu menjadi tempat pulang paling aman dan nyaman bagi mereka.
Kedua, pola asuh yang terlalu keras dan kaku sering kali melahirkan kepatuhan semu. Anak akan terlihat patuh di depan orang tua semata-mata karena takut. Namun, di belakang, mereka menyembunyikan banyak hal. Dengan pendekatan ala sahabat, kita bisa membangun 𝑡𝑟𝑢𝑠𝑡 dengan mereka. Sehingga mereka berani jujur, bicara dari hati ke hati karena mereka merasa yakin, saat ada masalah ibunya akan membantu mencari solusi, bukan sekadar menghakimi.
Ketiga, anak yang merasa didengar, diterima keberadaanya, dan dihargai pendapatnya tanpa syarat akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki rasa percaya diri. Mereka akan lebih tangguh dalam menghadapi berbagai masalah di luar rumah.
𝗕𝗮𝗴𝗮𝗶𝗺𝗮𝗻𝗮 𝗖𝗮𝗿𝗮 𝗕𝗲𝗿𝘀𝗮𝗵𝗮𝗯𝗮𝘁 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗔𝗻𝗮𝗸?
Agar bisa menjadi sahabat anak, kita perlu sedikit menekan ego sebagai sosok “penasihat yang serba tahu”. Mulai belajar menjadi pendengar yang memiliki empati tinggi. Kadang-kadang, saat anak bercerita kita terlalu cepat memotong dan memberikan nasihat. Respons seperti ini akan membuat anak malas bercerita lagi. Kita bisa mencoba teknik mendengarkan aktif. Biarkan mengeleuarkan semua isi hati sampai emosinya reda , sebelum kita memberikan solusi.
Seorang sahabat pasti tahu apa yang disukai temannya. Jadi agar bisa menjadi sahabat terbaik anak, kita harus mengenali dunia mereka. Kita bisa mencari tahu mulai hal-hal kecil. Bisa tentang apa yang mereka sukai dan apa yang tidak, siapa kawan yang membuatnya nyaman, mata pelajaran apa yang menarik dan sebaliknya, apa hobinya, cita-cita dan impiannya. Bahkan tidak ada salahnya kita belajar istilah-istilah gaul yang sering mereka gunakan. Ibu tidak harus ikut-ikutan bergaya seperti remaja, tetapi sekadar menunjukkan ketertarikan yang tulus sudah cukup membuat anak merasa dihargai.
𝗔𝗴𝗮𝗿 𝗣𝗲𝗿𝘀𝗮𝗵𝗮𝗯𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗧𝗲𝘁𝗮𝗽 𝗧𝗲𝗿𝗷𝗮𝗴𝗮
Relasi antara dua orang itu seperti tanaman, perlu dirawat dan dipupuk. Begitu juga dengan persahabatan butuh pupuk bernama waktu. Ibu bisa menyediakan waktu khusus untuk berduaan dengan anak, tanpa gangguan pekerjaan rumah atau notif dari media sosial. Aktivitas seperti ini akan meningkatkan bonding antara ibu dan ana. Menambah kepercayaan, dan menghadirkan rasa nyama di hati mereka.
Salah satu ciri relasi yang sehat adalah kesetaraan. Jadi antara ibu dan anak memiliki posisi setara terkait hak dan kewajiban, dan adab dalam sebuah relasi. Contohnya berani mengakui mengakui kesalahan dan meminta maaf. Sebagai manusia biasa, ibu tentu pernah keliru, salah paham, bahkan bisa jadi lupa kalau pernah membuat janji. Ibu yang baik dan berwibawa bukanlah ibu yang tidak pernah salah, melainkan ibu yang berani berjiwa besar mengakui kesalahan dan berani untuk meminta maaf. Sikap seperti ini justru mengajarkan anak tentang tanggung jawab dan kerendahan hati secara tidak langsung. Karena anak melihat contoh nyata pada sosok ibunya.
𝗗𝗲𝗸𝗮𝘁 𝗧𝗮𝗽𝗶 𝗣𝘂𝗻𝘆𝗮 𝗕𝗮𝘁𝗮𝘀𝗮𝗻 𝗝𝗲𝗹𝗮𝘀
Kedekatan antara ibu dan anak harus diimbangi dengan garis batas yang jelas. Persahabatan dengan anak adalah persahabatan yang terukur dan terarah. Sehingga tetap ada struktur kepemimpinan di dalamnya. Ibu adalah sahabat, namun di atas itu semua, ibu tetaplah orang tua yang memegang tanggung jawab moral terhadap masa depan anak. Ibu harus paham kapan menjadi teman, dan kapan menjadi orang tua.
Anak juga harus dipahamkan bahwa ada waktu di mana ibu bisa diajak bercanda lepas, dan ada waktu di mana keputusan ibu adalah mutlak. Anak harus paham ibu adalah sahabat terdekat untuk bercerita apa saja. Namun ibu tetap memiliki tugas untuk mendidik anaknya menjadi orang baik, dan berakhlak mulia.
Dekat bukan berarti boleh kurang ajar. Ini harus menjadi aturan mutlak. Meskipun hubungan sangat santai, anak tetap harus menggunakan nada bicara yang sopan, tidak bercanda melebihi batas, dan tidak memotong pembicaraan orang tua. Membiasakan izin ketika akan menyela.
Wibawa orang tua lahir dari sikap konsisten. Jika sebuah aturan sudah disepakati bersama, jalankan konsekuensinya saat aturan itu dilanggar. Kadang-kadang karena alasan kasihan atau ingin menjaga mood anak agar tetap akrab, ibu luluh dan membatalkan konsekuensi. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut justru akan meruntuhkan wibawa ibu di depan anak.
Ibu juga harus tegas berkata tidak jika anak akan melakukan hal-hal yang membahayakan atau tidak bermanfaat, sekalipun itu membuat anak marah. Tidak usah merasa takut dibenci sesaat oleh anak. Hal ini justru bisa dilakukan untuk melatih mental anak. Sehingga ke depan mereka lebih tangguh jika berhadapan dengan sesuatu yang kurang menyenangkan. Dengan sikap seperti ini wibawa ibu justru akan terlihat. Anak akan menyadari bahwa ibunya adalah yang tidak bisa digoyahkan hanya dengan tangisan atau rajukan. Ini akan terekam dalam memori mereka sehingga tidak akan menjadikan rengekan sebagai senjata untuk meluluhkan ibunya.
Kewibawaan tidak datang dari suara yang keras atau wajah yang garang, melainkan dari rasa aman yang dirasakan anak saat berada di dekat orang tuanya. Ketika anak menghadapi masalah, mereka perlu sosok yang tenang, stabil emosinya, sehingga mampu merangkul dan menenangkan. Membantu mencari solusi tanpa menghakimi.
Menjadi sahabat sekaligus orang tua memang bukan pekerjaan mudah dan bisa dilakukan secepat membalik telapak tangan. Ini adalah proses belajar yang panjang, dan memerlukan kesabaran. Namun jika kita nikmati semua prosesnya, semua akan terasa indah. Tumbuh dan berproses bersama anak-anak justru akan menjadi kenangan manis yang akan kita rindukan suatu saat nanti.
Ibu juga harus selalu ingat bahwa ikhtiar bersahabat dengan anak bukan untuk melahirkan anak yang penurut karena takut. Tetapi merupakan salah satu proses pengasuhan agar anak bisa tumbuh menjadi anak yang yang mandiri, berakhlak karimah. Ketika kelembutan dan ketegasan mampu berjalan beriringan, ibu tidak hanya akan mendapatkan cinta dari anak, tetapi juga rasa hormat yang mendalam yang akan bertahan hingga mereka dewasa kelak. Ibu akan tetap menjadi rumah yang teduh tempat anak-anak kembali pulang. Ibu akan tetap menjadi sahabat terbaik bagi anak tanpa kehilangan wibawanya.
Wallahu a'lam bishawab
Sri Purwanti
Founder Rumah Baca Cahaya Ilmu



1 Komentar
Di era digital seperti sekarang itu jika anak tidak merasa nyaman bercerita kepada orang tua, mereka akan mencari pelarian di tempat lain yang mungkin toxic, ini harus di waspadai. bahkan media sosial dan lingkungan yang kurang baik akan mempengaruhi kebiasaan anak mejadi kurang baik.
BalasHapusHubungan ala sahabat bisa membangun kepercayaan agar anak berani jujur tanpa rasa takut dihakimi, disini orang tua di tuntut untuk bisa menyesuaikan kapan harus menjadi orang tua dan kapan berperan menjadi sahabat.