Judul : Perahu Kertas
Penulis : Dewi Lestari (Dee)
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun terbit : Agustus 2009
Halaman : 444 halaman
ISBN : 978-979-1227-78-0
Peresensi: Sri Purwanti
Perahu Kertas merupakan novel keenam Dewi Lestari atau yang lebih akrab dipanggil Dee dan diterbitkan oleh Bentang Pustaka pada tahun 2009. Novel ini berbeda dari novel-novel Dee yang lain. Novel Perahu Kertas lebih mudah dibaca dikarenakan kata-katanya yang ringan dan tidak terlalu berat. Tidak seperti novel Dee yang lain, yaitu 'Supernova' , yang mempunyai kata-kata yang berat dan banyak terdapat istilah-istilah sains di dalamnya.
Novel ini mengisahkan pasang surut hubungan dua anak manusia, yaitu Kugy dan Keenan. Kisah ini bermula ketika mereka berdua kuliah di Bandung. Kugy yang bercita-cita ingin menjadi penulis dongeng, kuliah di Fakultas Sastra. Ia punya kebiasaan unik, yaitu suka membuat perahu kertas yang kemudian dilarungkannya di sungai. Di sisi lain, Keenan, pelukis muda berbakat, dipaksa untuk kuliah di Fakultas Ekonomi oleh ayahnya.
Kugy dan Keenan dipertemukan lewat pasangan Eko dan Noni. Eko adalah sepupu Keenan, sementara Noni adalah sahabat Kugy sejak kecil. Mereka berempat akhirnya bersahabat karib. Lambat laun, Kugy dan Keenan, yang memang sudah saling mengagumi, mulai mengalami transformasi. Diam-diam, tanpa pernah berkesempatan untuk mengungkapkan, mereka memiliki perasaan yang sama.
Sebenarnya novel Perahu Kertas ini tampak standar dan biasa biasa saja karena bertemakan tentang cinta. Namun yang menarik dari novel ini
karena selain fokus urusan cinta, banyak unsur lain yang mendukung, seperti tentang mimpi, persahabatan, dan kekeluargaan. Selain itu, penggambaran tokoh, latar, dan alur yang begitu kreatif dan jelas membuat para pembaca novel Perahu Kertas ikut bermain dengan dunia imajinernya dan membayangkan secara nyata apa yang terjadi dalam ceritanya.
Dari novel ini kita juga belajar arti dari sebuah perjuangan dalam meraih cita-cita dan impian yang kita damba-dambakan. Jadi, untuk seseorang yang sedang putus asa dan kehilangan semangatnya, novel ini layak dikonsumsi untuk membangkitkan semangat dan menambah inspirasi.
Kisah yang begitu membuat emosi ikut meledak-ledak, novel Perahu Kertas sangat membantu kita untuk belajar lebih lanjut apa arti dari cinta itu sendiri. Seperti perahu kertas yang dihanyutkan di parit, di empang, di kali, di sungai, tapi selalu bermuara di tempat yang sama. Meski pahit, sakit, dan meragu, tapi hati sesungguhnya selalu tahu.
Tidak ada gading yang tak retak. Meskipun memiliki banyak kelebihan tidak berarti buku ini sempurna, tanpa cela. Kekurangan novel ini terletak pada penjabaran cerita yang terlalu rinci sehingga pembaca cenderung malas untuk membacanya. Selain itu, jumlah halaman dalam novel ini juga tergolong banyak, agak berat untuk pembaca yang belum memiliki habis membaca.
Namun terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, buku tetap bisa dijadikan pilihan untuk menambah koleksi di perpustakaan pribadi.
Salam Literasi 👆

6 Komentar
Novel Dee Lestari memang cukup tebal tebal ya mbak, sehingga aku sudah mundur duluan kalau mau baca. Cuma kelebihannya adalah kita bisa memperbanyak diksi kalau baca novel tersebut
BalasHapusPenasaran banget pngen baca bukunya, meskipun udah ada versi filmnya. Inget banget, ada temen ku yang suka bgt sm perahu kertas ini. Sampai rewatch filmnya berkali-kali, saking bagusnya ceritanya
BalasHapuswah covernya baru yaa seingatku dulu warna covernya hijau toska gitu. Aku punya sebenarnya novel Perahu Kertas ini tapi hilang huhu
BalasHapusAku belum pernah menamatkan satu pun buku dee lestari ini meskipun kata orang bagus. Tp aku konton filmnya dan aku lumayan suka, alur ceritanya tidak terlalu pasaran, jadi ada penasaran tersendiri
BalasHapusKesan pertama pada cover nya sudah memikat untuk membacanya , semoga bisa segera membaca novel karya beliau dee lestari
BalasHapusKesan pertama pada cover nya sudah memikat untuk membaca, semoga bisa segera membaca novel " perahu Kertas " Karya beliau dee lestari
BalasHapus